Insting bertahan hidup Becca mengatakan jika pria yang kini menahan tangannya bukanlah orang baik. Tidak ingin kecolongan untuk yang kedua kalinya, gadis itu lantas menggigit tangan pria tersebut dengan sangat kuat.
“Akh!” Suara teriakan menggelegar memenuhi mobil, membuat sang pria melepaskan pegangannya. Dengan segera Becca membuka pintu mobil dan melarikan diri secepat kilat, bak tidak pernah ada sebelumnya.
Sementara itu, sang pria yang tangannya terluka akibat gigitan wanita yang baru saja di tolongnya itu, hanya bisa merutuki nasibnya sendiri. “Sialan! Aku ‘kan cuma ingin bertanya alamat kenapa dia malah menggigitku?” gumamnya dengan nada kesal meniup-niup tangan yang berdarah. “Tapi, di mana aku pernah melihatnya sebelum ini? Suaranya terdengar tidak asing,” batinnya lagi.
Di sisi lain, Becca yang tengah melarikan diri tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang. “Akh.” Dia hampir saja berteriak dan memberontak. Sayangnya, dengan cepat Luna membekap mulutnya.
“Ini aku Luna.”
“Kak Luna,” ujar Becca bernapas lega.
“Aku mengikutimu dari tadi karena khawatir. Tapi kau malah menculik bayi orang lain.”
“Tidak-tidak. Dia anakku. Dia bisa tewas jika aku tetap membiarkannya di sana.”
Luna bukan tidak tahu jika ibu dari sang bayi sudah tewas dibunuh beberapa orang tadi. “Ayo ke rumahku. Di sini tidak aman.”
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di tempat tinggal Luna. Dia langsung menutup pintu setibanya di dalam. Sesekali dia mengintip keluar jendela, sambil memastikan jika tidak ada satu orang pun yang mengikuti mereka kali ini.
“Jadi, katakan padaku. Apa yang sebenarnya kau lakukan?” tanya Luna sedikit bernada tinggi.
“Ssstt, diamlah! Nyawanya saat ini tengah dalam bahaya. Ibunya baru saja di bunuh, kita tidak mungkin membiarkan mereka membunuh bayi yang tidak berdosa ini,” ucap Becca langsung membekap mulut Luna. Meskipun dia sendiri belum mengenal siapa wanita di depannya, tetapi Becca yakin, Luna adalah orang yang baik.
“Baiklah kalau begitu keinginanmu. Bawa saja bayi itu pulang. Lagi pula bukan urusanku.” Sejenak Luna mengambil kertas di sakunya dan menyerahkan kepada Becca. “Aku mengikutimu hanya ingin memberikan ini. Tagihan rumah sakitnya sudah aku bayar karena kau tiba-tiba saja melarikan diri. Jangan lupa transfer ke rekeningku. Pergilah!”
Seketika Becca bersimpuh di hadapan Luna saat itu juga. “Aku mohon, Kak. Biarkan kami tinggal bersamamu. Aku janji akan merawatnya dengan baik tanpa merepotkan mu nantinya. Aku tidak punya keluarga dan rumah untuk kembali.” Becca belum menemukan memori tubuh siapa yang dia tempati saat ini dan di mana tempat tinggalnya, Sedangkan Luna tampaknya bukanlah orang yang jahat sejak awal. Dia mengamati setiap perubahan ekspresi yang ada dalam wajah Luna. Wanita tersebut terlihat akan mengatakan sebuah penolakan, tetapi dengan cepat Becca mengeluarkan jurus andalan dengan ekspresi memelas tentunya. “Bagaimana bisa kau tega meninggalkan kami sendirian di luar sana, padahal nyawa kami sedang dalam bahaya? Sepertinya aku memang harus menerima suratan takdir yang malang ini dengan berat hati.”
Becca menundukkan kepala, mengeluarkan air mata buaya yang di milikinya. Demi bertahan hidup, tentu saja dia rela melakukan apapun.
Tidak tahu malu, mungkin hanya itu kata yang cocok disematkan pada sosok Becca saat ini. Bagaimana dia bisa meminta bantuan begitu saja pada orang tidak dikenal yang sudah membantunya. Bukankah itu namanya memanfaatkan kebaikan orang lain. Namun, mau bagaimana lagi, kini Becca harus bisa bertahan hidup agar masa lalunya tidak terulang kembali, dan bisa merawat sang buah hati dengan tangannya sendiri.
Luna menghela napas berat. Menjadi wanita yang sensitif akan kemalangan orang lain memang sangat tidak menyenangkan. Apalagi dia sendiri melihat jika wanita di hadapannya saat ini membutuhkan bantuan.
“Ish, apa yang kau lakukan.” Benar saja, meskipun terlihat garang, pada kenyataannya Luna adalah sosok yang lembut. Dia paling tidak bisa melihat orang lain terluka. Walaupun jelas sekali dia tidak memiliki hubungan apa pun dengan wanita di depannya. Namun, mengingat vonis dokter sebelumnya di mana Becca mengalami penyiksaan serta pemerkaosan, di tambah dengan ibu sang bayi yang baru saja di bunuh. Tentu saja di lubuk hati Luna yang terdalam merasa sangat iba dengan Becca dan bayi mungil itu. Mungkin wanita yang tewas tadi adalah saudaranya, pikir Luna.
Tidak ingin menyerah, Becca memeluk kaki Luna tanpa ragu. Dia sangat tahu rasanya menjadi sebatang kara tanpa adanya orang tua. Meskipun tidak tahu bagaimana cara merawat bayi ini ke depannya, tetapi naluri bertahan hidup sebagai seorang ibu membuat Becca memilih untuk berusaha membawa bayi mungil di tangannya bersama.
“Baiklah. Baiklah. Aku akan mengizinkan kalian tinggal bersamaku. Tapi ceritakan terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi.”
Sebenarnya, Luna juga tidak tega jika harus membuang bayi itu. Banyak wanita yang lebih berharap memiliki buah hati di bandingkan dengan suami. Apalagi dia sendiri menyadari, betapa besar keinginannya akan hal itu, sayang nasib berkehendak lain.
Rebecca akhirnya menceritakan pengalaman menegangkan yang baru saja dia alami kepada Luna, sedangkan Luna mendengarkannya dengan seksama. Hanya saja, Becca tentu tidak mungkin mengatakan jika tubuhnya saat ini bukanlah miliknya. Bisa-bisa nanti dia malah dianggap sebagai orang gila. Hingga suara tangis sang bayi pun menghentikan obrolan keduanya.
“Kita harus pindah dari sini,” ucap Luna tegas.
“Apa? Kenapa?” tanya Becca bingung.
“Mereka akan segera datang cepat atau lambat. Jika kita tidak segera pergi itu namanya sama saja dengan bunuh diri. Jika kau ingin melindunginya. Maka lakukanlah dengan sepenuhnya, jangan hanya setengah-setengah atau kau sendiri tidak akan mampu menanggung akibatnya nanti.”
“Tapi, ke mana kita akan pergi?” tanya Becca sambil menimang bayi dalam dekapannya yang tidak mau diam sejak tadi.
“Itu urusan gampang. Tunggu sebentar!”
Luna lantas mengemas barang-barang yang perlu di bawa. Lagi pula, di sini hanyalah rumah sewa. Tidak ada barang penting miliknya selain pakaian sehari-hari. Pengalaman sepuluh tahun di Viropa, membuat Luna sangat memahami karakter orang-orang yang ada di sini. Apalagi dia sendiri merupakan seorang janda yang di tinggalkan suaminya pergi akibat tidak bisa memiliki anak.
Setelah cukup jauh keduanya pergi dengan menaiki kereta cepat, dan menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya mereka tiba di sebuah kota yang bisa di bilang sebagai pusat dari negara Viropa. Bagi Luna, meskipun harus kembali ke tempat semula, tetapi dia yakin kehidupannya yang baru bersama Becca akan lebih baik di bandingkan sebelumnya.
“Kita di mana?” tanya Becca bingung. Luna bukanlah orang yang suka bercerita tentang dirinya, wanita tersebut bahkan hanya diam sepanjang perjalanan dan tidak mengajaknya berbicara sama sekali. Sementara itu, Becca sendiri tidak pernah keluar untuk bereksplorasi atau sekedar mengunjungi wilayah lainnya di negara ini hanya untuk berlibur, sehingga tempat baru ini kembali terasa asing bagi Becca.
“Ini rumah lamaku. Pemberian mantan suamiku sebagai kompensasi perceraian,” jawab Luna sambil membuka kunci pintunya. “Ayo masuk!”
Sebelumnya setelah perceraian, Luna memang enggan menempati rumah ini. Terlalu banyak kenangan yang tercipta selama berumah tangga, hingga ketika sang suami berhasil meraih kejayaan, fakta jika Luna mengalami kemandulan membuat pria itu berpaling. Tidak sanggup menghadapi kenyataan seorang diri, Luna memilih pergi dari tempat ini. Namun, sepertinya situasi saat ini dia harus memanfaatkan apa yang dimiliki demi Becca, gadis malang yang akan dia anggap seperti adiknya sendiri.
Mereka membersihkan satu ruangan terlebih dahulu untuk digunakan, bayi dalam dekapan Becca memerlukan perawatan. Beruntungnya, meskipun tidak memiliki anak, Luna adalah sosok yang penyayang.
“Stth, sayang, sayang, kenapa kau menangis?” tanya Becca pada sang bayi yang baru saja terbangun dari mimpi. “Tidak pipis kok.”
“Mungkin dia lapar,” jawab Luna yang baru saja selesai membersihkan tubuhnya.
“Ah iya. Sudah cukup lama kita tidak makan. Apa aku bisa memesan makanan di sini?” tanya Becca tanpa sadar malah membuka salah satu aplikasi pesan antar makanan online.
“Hei! Apa kau bodoh?” Sebuah tepukan dari Luna sontak mendarat dengan keras di dahi Becca. Sepertinya gadis itu harus segera di sadarkan akan posisinya saat ini. “Apa kau berniat memberi makan bayimu ini burger?”
“Lalu?” tanya Becca dengan wajah polosnya. Meskipun sesungguhnya dia yang mengandung bayi itu dalam tubuh aslinya. Namun, dia masih belum berpengalaman dalam merawat bayi, sehingga pengalaman yang dimiliki tentu saja zero.
Luna menghela napas panjang. Mau bagaimana pun Luna mengira Becca tetaplah gadis polos yang masih belajar menghadapi dunia luar yang luas ini. “Pergilah ke supermarket di ujung jalan. Belilah beberapa keperluan untuknya,” ucap Luna menulis beberapa baris catatan belanja dan uang. “Oh, iya. Kau akan memberinya nama siapa?”
Sejenak Rebecca terdiam, entah mengapa dia sendiri merasa belum pantas mendapatkan anugerah untuk memberikan nama pada sang bayi. Namun, sebaliknya, Luna malah terlihat begitu perhatian dengan bayi tersebut. “Kau saja yang memberikan dia nama. Aku tidak pandai memilih nama, nanti kalau aku beri dia nama Joko, pembaca bakalan protes lagi.”
Luna hanya menggeleng kecil melihat tingkah Becca, lalu menimang sang bayi sambil mengusap lembut alis tebal bayi itu. “Ace, Ace Dilamo.”
“Ace Dilamo?” ucap Becca mengerutkan dahi. “Nama yang bagus di bandingkan Joko Terus.”
Becca lantas bergegas pergi ke supermarket terdekat untuk membeli apa yang diperintahkan Luna.
Sementara itu, di sebuah kediaman mewah seorang pria baru saja kembali dari luar kota terlihat begitu lelah. Tangannya yang terluka berbalut dengan kain kasa membuat sang ibu yang melihat seketika menghampirinya.
“Joe, Kau terluka?” tanya wanita tersebut sambil berjalan mendekati sang putra.
“Tidak, Mom. Hanya sedang sial karena di gigit anjing gila di jalan tadi,” ucapnya santai. “Aku mau istirahat dulu.”
Sang ibu hanya mengangguk kecil, dan melihat punggung putranya yang semakin jauh menaiki tangga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Vyrne S W
lanjut thor
2023-02-25
0
Vyrne S W
jgn bilang nmy joeko jg🤭🤭🤭🤭🤭🤔🤔🤔🤔
2023-02-25
0