Di saat menunggu Aria sedang berkemas kemas, Izana menghampiri Ennie yang tengah termenung sendirian di sofa.
“Ibu,” Panggilnya.
“Oh Izana, ada apa?”
“Aku sudah mendengar masalahmu dari Aria, tapi menurut ku menjual putri sendiri demi uang sangatlah kejam.”
Dengan segala keraguan Ennie menatap Izana merasa bersalah tentunya, dia sadar hampir saja melempar putrinya sendiri ke neraka dunia.
“Tolong jaga Aria ya,” jawab Ennie tersenyum tipis.
“Sayang aku sudah selesai, bantu aku mengangkat tas-tas ini,” jerit Aria dari dalam kamarnya terdengar sampai keluar.
.
.
Barang-barang disusun di motor, Aria hanya membawa tiga tas karena ia tahu ia akan pergi menggunakan motor, jadi tidak mungkin membawa semua barangnya.
“Aria maafkan ibu,” kata Ennie karena Aria belum berbicara sama sekali dengannya sejak semalam.
Aria sudah ada di atas motor, dia bahkan tidak memandang ibunya, hal itu membuat Izana angkat bicara. “Kita tak akan jalan sebelum kau berpamitan dengan ibumu,” ancam Izana.
“Huh~” Gadis ini turun dari motor dan memeluk ibunya. “Ibu aku masih marah denganmu tapi tak dipungkiri aku juga mungkin akan kebingungan jika berada di posisimu, biarkan saja perusahaan itu bangkrut ibu, tak kaya pun kita masih bisa hidup, kau kejam sekali mengorbankan aku demi tetap hidup mewah.”
“Maaf Nak ibu salah.” Ennie tak kuasa menahan tangisnya, ia memeluk Aria erat hingga baju putrinya itu dibasahi oleh air matanya.
“Ibu aku pergi ya, jaga dirimu baik-baik jangan sampai sakit karena memikirkan kantor. Ikuti saja arus kehidupan ini.”
Pada akhirnya perpisahan mereka berakhir manis dan saling memaafkan, kini bisa dengan tenang membawa Aria jauh dari ibunya.
Di perjalanan mereka pun saling mengobrol. “Izana, ini motor barumu?” tanya Aria yang tak menyangka cowok miskin ini punya motor.
“Enggak, ini hasil begal.”
“Hemm~” Gadis ini sudah tak terkejut lagi sih jadi dia tak beraksi berlebihan, lagian mana mungkin Izana beli motor.
“Nanti motor ini kau jual lagi ya?”
“Rencananya mau kau pakai sendiri setelah merombaknya, tapi enggak jadi karena ke pikiran tempat tinggal untukmu. Setelah motor ini laku kita cari kontrakan dari pada menumpangi di rumah orang.”
“Jadi selama ini kau selalu tidur di jalanan ya?”
“Hmm”
“Miskin.”
“Sialan.”
Setelah empat jam bermotor akhirnya Aria kembali ke kota yang sebelumnya menjadi tempat kabur. Tiba-tiba motor berhenti di depan ruko kosong tak berpenghuni. “Aria kau tunggu di sini, aku pergi sebentar,” ujarnya.
“Hah!”
“Sebentar saja paling dua jam.”
“Dua jam sebentar katamu? lebih baik kau antarkan aku ke rumah bapak aku akan menunggu di sana.”
“Hais baiklah.” Dengan pasrah dia kembali menancap gas.
.
.
“Bapak~” panggil Aria melambai pada pria yang berada di gunung sampah.
“Astaga tempat ini bau sekali,” gumam Izana pelan, sedangkan istrinya sudah berlari mendaki gunung sampah meninggalkan tas tasnya.
“Aria ini tasmu taruh di mana?” panggilnya, yang dipanggil pun berbalik dan kembali lagi ke hadapan Izana.
“Ayo angkat ke sana.” Tunjuk Aria di jejeran rumah yang Agak jauh dari tempat yang ia pijak sekarang.
Di posisi Izana ini, Izana tidak dapat melihat rumah, berbeda dengan Aria yang di atas sana. “Yang mana sih? Enggak ada kelihatan rumah pun dari sini,” bingungnya sedangkan Aria sudah kembali mendaki.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 138 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Izana mending cari kerja yg halal, Sampai kapan kamu akan kerja beginian, beresiko tinggi loh, Apalagi kamu sekarang harus memikirkan istri bentar lg punya anak lg..
2023-09-10
0
Devi Handayani
makanya kerja buat bisa sewa kost🤨🤨
2023-05-13
0