Setelah tidur seharian Aria terbangun, dia menoleh ke sana kemari menyadari hanya ada dia sendiri di ruangan ini, di tubuhnya ada beberapa kain yang menyelimuti, sesuatu yang basah di dahi membuat tangannya terulur untuk mengecek, ternyata ada kain yang tertempel di situ.
“Aria.. Makan dulu.”
Bapak baru saja datang entah dari mana, peluh membanjiri wajahnya.
“Bapak ini kain bapak ada di tubuhku.”
“Tadi kau gemetar kedinginan, badanmu panas jadi bapak kompres sekalian, ini bapak juga ada beli obat, kau demam, Nak.”
Perhatian bapak membuat Aria terharu, padahal belum kering peluh di tubuh bapak tapi dia malah menggunakan uang hasil kerja kerasnya untuk membeli obat.
“Pak.. “ panggil Aria langsung memeluk bapak, dia menangis merasakan kembali perhatian seorang ayah, dia jadi merindukan ayah karenanya.
“Kenapa kau menangis? Apa kepalamu pusing?”
“Terima kasih Pak, Bapak baik banget sama aku. Aku beruntung sekali bertemu denganmu.”
“Bapak lebih beruntung karenamu Nak, selama ini bapak kesepian, adanya dirimu bapak merasa mempunyai seorang putri.”
Mereka berdua saling menumpah haru, air mata bapak juga tak kalah deras. Setelahnya mereka makan bersama, walaupun nasi bungkusnya hanya lima ribuan tapi rasanya begitu nikmat.
Esoknya Aria sudah sembuh dari demam, dia pun bersuap untuk kembali bekerja. “Pak aku pergi dulu ya.”
“Aria ini uang untuk naik bus,” teriaknya karena Aria sudah berlari keluar.
Sambil berlari Aria berkata, “aku ada uang untuk bus Pak, uang itu untuk bapak sarapan saja,” balasnya.
Itu adalah uang sisa bus semalam, Izana memberinya lebih. Setidaknya cukup untuk naik bus satu kali lagi.
Aria pun sampai di kafe tempat waktu “Hai Moon,” sapanya.
“Aria dua hari ini kamu ke mana saja?”
“Astaga sepedanya masih di taman,” panik Aria bukan main, baru saja dia ingin keluar lagi Moon terlebih dahulu mencekal tangannya.
“Sepedanya sudah kuambil, tuh terparkir di samping”
Gadis itu bernapas lega, jika sepeda itu hilang bisa saja dia tak dapat gaji bulan ini, tahu kan Sesil sangat perhitungan.
“Syukurlah, jantungku hampir lepas tadi.”
“Jawab pertanyaanku yang tadi Aria, kau dari mana hingga kau tinggalkan sepeda itu di taman.”
Jika mengingat kejadian apa yang ia alami semalam rasanya ingin menangis, tapi semuanya sudah terlanjur menyesalinya tidak akan membuat semua kembali, dia hanya perlu mengikhlaskan yang sudah hilang dengan lapang dada.
“Aku semalam pulang Kak, kepala ku teramat pusing” Jawaban tersebut tidak sepenuhnya berbohong, kepalanya memang pusing waktu itu bahkan dia sampai pingsan dan berakhir di penginapan murah yang hanya kasur tipis.
“Ya sudah ayo persiapan segala hal untuk hari ini.”
Dia mulai membersihkan ruangan dan mencuci piring, Moon semalam pas pulang tidak melakukan apa pun karena merasa kewalahan bekerja sendirian, maka pagi ini pekerjaan Aria sangat banyak.
Setelah selesai membersihkan, Moon mengajak Aria makan. Dia membawa bekal sendiri dari rumah, itu adalah masakan ibunya. Ibu Moon sangat baik dia sering menitipkan makanan untuk Aria, mereka pernah bertemu beberapa kali, waktu itu Aria membantu ibu Moon mengangkat belanjaan. Mungkin karena itu dia selalu mengingatnya.
“Aria, nanti habis makan temui Sesil ya. Dia ada di dalam.”
“Mampus aku, pasti dia ingin marah-marahkan?” ucapnya sudah yakin apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 138 Episodes
Comments