Tak terasa sudah tiga minggu Aria berada di kota ini, semua berjalan cepat dan melelahkan. Dua mulai terbiasa dengan kata lelah dan istirahat yang singkat. Subuh hari pukul lima Aria terbangun dan bersiap pergi kerja dengan jalan kaki yang memakan waktu tiga jam, sampai di kafe jam delapan, dia terus bekerja hingga jam sepuluh malam, saat pulang Aria berjalan kaki sampai jam satu dini hari, waktu tidurnya hanya empat jam.
Sekarang dia mendapatkan ganjarannya, Aria terlalu lelah hingga membuatnya sakit.
“Aria bisa kan kau antarkan pesanan ini ke taman?” pinta Moon sembari memberikan sebuah bungkusan.
“Ini untuk siapa, Kak?” jawabnya.
“Sesil, dia minta diantarkan ke sana untuk makan siangnya.”
“Kenapa dia tidak ke sini?”
“Dia sedang jalan-jalan bersama pacarnya, sudah antarkan saja. Tuh pakei sepeda di sana.” Tunjuk Moon.
Aria menurutinya, tapi tak dipungkiri kepalanya terasa berat. Dia terlampau pening, tapi Aria harus tetap bekerja.
“Aria kau pucat banget, kau sakit?”
“Hanya pening Moon.”
“Kau istirahat saja deh, biar aku saja yang antar.”
“Moon kalau ada orang yang datang bagaimana? Aku tidak pandai membuat pesanan mereka. Sudahlah biar aku saja.”
Aria mencoba memaksa keadaan, dia pun pergi menggunakan sepeda di cuaca trik yang sangat panas dengan pening yang membuat seakan kepalanya ingin pecah. Sesampainya di taman Aria langsung mencari keberadaan Sesil, dan untungnya langsung ketemu.
“Kak,” panggil Aria berlari menghampiri Sesil.
“Lama banget! Aku sudah lapar!”
“Ya maaf, Kak.”
Setelah memberikannya Aria pun kembali ke sepeda, cuaca hari ini yang begitu panas membuat matanya berkunang-kunang.
Bruk~
Tubuh Aria terkapar di tanah, diseparuh kesadarannya dia tak mengerti apa yang terjadi, tak ada yang bisa ia lihat selain kegelapan.
“Aria ke mana sih? Kok lama banget.” Khawatir Moon, pasalnya ini sudah sore tapi Aria belum juga kembali. Jika ada Sesil yang tiba-tiba datang, Aria pasti bisa dimarahi karena hilang di jam kerja.
Untung pelanggan hari ini sepi, jadi Moon masih bisa mengontrol pekerjaannya sendiri.
Waktu pun terus berjalan, sudah waktunya untuk pulang namun Aria tak kunjung datang menampakkan batang hidungnya. Mengingat perkataan Aria yang katanya pusing tadi, menambah kecemasan Moon.
Setelah menutup kafe Moon pun pergi ke taman. Tapi yang ia lihat hanya ada pasangan berpacaran dan juga sepeda yang Aria bawa tadi yang berada di bawah pohon.
“Emm permisi, apa kalian melihat gadis ini?” tanya Moon pada sepasang kekasih sambil memperlihatkan tanda pengenal Aria.
“Tidak, kami sudah di sini dari jam tujuh tapi gadis ini tidak ada kami lihat.”
Moon pun bingung harus apalagi, ke mana ia harus mencari Aria malam-malam begini.
“Mungkin dia sudah pulang karena merasa sakit, ia aku yakin begitu,” ucap Moon mencoba berpikir positif.
Moon pun membawa sepeda itu balik ke kafe, dalam benar berdoa semoga Aria sudah berada di rumahnya. Besok dia akan menanyakannya secara langsung pada Aria, itu pun kalau gadis itu masuk kerja, setahunya Aria mengeluh pusing tadi.
Tbc.
Selanjutnya...
Tak kusangka hidupku akan sehancur ini, niatku hanya ingin mencari tempat aman di mana aku bisa menjauh dari ayah tiriku yang gila.
“Tuhan ini terlalu kejam. ”
“Maafkan aku Aria, maaf.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 138 Episodes
Comments