Izana menatap punggung Aria yang semakin jauh ditelan kegelapan, setelahnya ia membuka bungkusan nasi yang diberikan oleh Aria.
Sangat menyedihkan, apa dia tidak punya rumah? Kenapa dia berkeliaran di jalanan dan berbuat tindakan kriminal.
“Kerja ya? Sepertinya tidak mungkin, lebih baik aku seperti ini saja. Aku tidak ada niatan untuk menjadi orang sukses, asal bisa makan saja itu sudah cukup walaupun menggunakan cara yang salah,” gumamnya sendiri.
Entah apa yang membuat Izana menjadi seperti itu, apakah dia memiliki masalah keluarga? Atau masalah masa lalu yang belum terselesaikan? Entah, yang jelas pria ini tampak kacau.
Aria baru saja sampai di waktu dini hari tepatnya pukul setengah dua, kakinya sangat letih dan tubuh pun terasa pegal, belum pernah rasanya dia selelah ini. Ketika Aria mendorong pintu masuk ternyata pintunya belum dikunci.
Bapak terbaring dengan alas tikar pandan serta lampu pelita yang sedikit menerangi ruangan.
“Aria, kau baru pulang?” tanyanya sembari mengerjapkan mata.
“Iya Pak, Bapak sudah makan? Ini aku ada bawa makanan sisa dari kafe, ayo makan sama-sama.”
Bapak mengangguk sembari tersenyum tipis, Aria pergi ke dapur untuk mengambil piring dan Air lalu meletakan di dekat cahaya pelita yang menyala.
“Ini kamu enggak beli, kan Aria?”
“Iya Pak, Aria mana punya uang, ini sisa dari kafe kok.”
“Ya sudah ayo kita makan, setelah itu kau mandi dan istirahatlah, maaf ya uang bapak tak cukup untuk ongkos bus pulangmu, kau jadi pulang larut bapak jadi kasihan.”
“Tidak apa-apa kok Pak, yang penting kita bisa makan dan punya tempat berteduh.”
Beginilah cerita tentang orang-orang yang serba berkekurangan, Aria tak menyangka rasanya bisa selelah ini, seumur hidupnya ini adalah pengalaman baru plus kehidupan baru.
Setelah selesai makan Aria membentangkan tikar, di sudut yang jaraknya tak jauh dari bapak, memang beginilah keadaannya, rumah ini kecil dan tidak memiliki kamar, jadi tidurnya di sudut-sudut saja.
“Bantal tolong bangunkan aku jam lima,” ucapnya sambil menepuk-nepuk bantal, kata orang dulu kita akan terbangun ketika mengatakan hal itu pada bantal, apalagi dia tidak punya HP untuk menyetel alarm jadi dia akan mencoba teknik kepercayaan orang zaman dulu.
.
.
Pagi harinya saat Aria membuka mata, netranya langsung mencari keberadaan jam. Tapi dapat ia lihat Karena keadaan yang gelap, entah sejak kapan pelitanya mati.
“Eng~ ini jam berapa, ya?” parau Aria dengan suara yang khas bangun tidur
Tuk~
Setelah meraba raba Aria pun menemukan senter tapi cahayanya remang-remang, itu cukup untuk ku melihat jam.
“Pukul 05.03, astaga bantal terima kasih telah membangunkanku,” ucapnya sambil melompat memeluk bantal.
Dia pergi ke belakang melihat apa yang bisa dimakan, ternyata tidak ada, semuanya kosong. Aria pun pergi mandi, hari ini sepertinya dia akan jalan kaki. Setelah semua sudah rapi, bapak pun terbangun.
“Aria, kau sudah siap pagi sekali.”
“Iya Pak, hehe aku jalan kaki aja ya, bakal sempat kok kan aku berangkatnya dari subuh.”
“Bapak ada uang kok Aria, semalam bapak dapat banyak barang bekas yang laku dijual.”
“Itu untuk sarapan dan makan siang bapak saja, Aria mau jalan anggap saja lagi maraton.” Kekeh Aria tertawa ringan.
“Kamu enggak capek?”
“Bapak, aku ini anak muda, jangan meremehkan fisikku,” ujarnya dengan nada bercanda, bapak hanya tersenyum tipis, ia merasa tidak kesepian lagi dengan adanya Aria.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 138 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Apa uang yg kau ambil dr rumahnya Aria sudah habis? katanya uang itu satu karung, banyak lho uang satu karung..😄
2023-09-10
1
Devi Handayani
laahhh.... pemikiran apa ituu🤨🤨🤨🤨
2023-05-13
0