Aris harus pulang malam ini juga, ia takut bapak menunggunya pulang nanti. Baru saja ia ingin melangkah rasa nyeri di selangka-ngannya pun membuat tak berdaya.
“Sssh, tak aku sangka rasanya sesakit ini. Bangun brengsek!” Aria memukul-mukul Izana menggunakan bantal, hingga akhirnya pria itu pun terbangun.
“Siapa si- Aria, kau sudah bangun?”
“Kau bajingan gila! Hiks kenapa kau tega melakukan ini padaku hah! Apa salahku padamu?”
Aria terus memukul-mukulnya menggunakan bantal untuk melampiaskan kemarahan. Walaupun ini tidak cukup tapi biarkan dia melakukan yang ia bisa untuk sekarang.
Grep~
Izana menarik tangan Aria lalu memeluknya erat, Aria menangis dalam dekapannya. Rasanya sangat sulit menerima kenyataan.
“Aku membencimu, Izana.”
“Aku tahu.”
“Bagaimana kalau aku hamil?”
“Itu tidak akan terjadi, percayalah padaku.”
“Masa depanku hancur gara-gara kau!”
“Maafkan aku.”
“Aku mau pulang.”
Izana pun melepaskan dekapannya lalu menghapus air mata Aria menggunakan jempolnya.
“Besok saja, itumu pasti merasa perihkan?”
Dengan kesal Aria mendorong tubuh Izana agar sedikit menjauhnya, dia pergi ke pintu namun Izana terlebih dahulu mengambil kuncinya.
“Besok saja, Aria.”
“Aku mau pulang!”
“Dengan keadaan yang seperti itu?”
“Biarkan saja!”
“Aku tak akan bukakan pintunya,” kata Izana bersikeras, karena tak mungkin dia membiarkan Aria berkeliaran di waktu semalam ini dalam keadaan yang bahkan melangkah pun sakit.
Lama berdebat dengan Izana Aria akhirnya tertidur juga, Izana pun bernapas lega karenanya.
Pada pukul delapan pagi Aria kembali terbangun, netranya mencari sosok pemuda yang tidur dengannya semalam yang kini entah ke mana. “Kamana Izana?”
Kreek~
Pintu di depan sana pun terbuka, Izana datang dengan membawa tentengan di tangannya.
“Aria, makanlah dulu.”
Akhirnya yang dicari datang, tanpa segan Aria pun menerima apa yang diberikan Izana.
Setelah makan Aria bertanya pada Izana.
“Izana.”
“Hmm?”
“Kau tidak ada niatan untuk mempertanggung jawab kan perbuatanmu?”
“Aku bahkan sering tidur di bangku taman, bagaimana caraku menafkahimu? Memangnya kau mau menikah dengan begal?”
“Tidak apa-apa, aku tidak mempersalahkan itu. Kau sudah mengambil kehormatanku, aku takut tak ada pria yang mau menikahiku kelak.”
“Kau cantik Aria, yang menginginkanmu pasti banyak. Maafkan aku, aku takut kau tidak bahagia denganku. Aku memiliki banyak musuh di luar sana, bersama denganku hanya akan membuatmu menjadi target balas dendam mereka. Aku menyesal telah mengotorimu, semalam aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku yang terkena obat perangsang.”
Aria mendengus kesal setelah mendengar penjelasannya, padahal dia berharap Izana akan bertanggung-jawab ternyata tidak. Dia berdiri ingin pergi, untuk apa berlama lama di sini.
“Kau mau ke mana?” tanya Izana.
“Pulang, ada seseorang yang menunggu kepulanganku di rumah”
“Bukannya keluargamu di kota A, ya?”
Aria mencoba cuek dengannya, tapi saat dia melangkah kembali, Izana menahan tangan.
“Apa lagi?” tanya Aria.
“Ini uang untuk naik bus, aku akan antarkan kau ke halte, tapi mandi dulu. Kau bau sper*a”
Plak~
Refleks Aria menampar Izana, sungguh itu hanya refleks bahkan Izana terkejut dengan apa yang ia lakukan barusan, tapi tidak apa-apa perkataan Izana memang menyebalkan.
“Aku mengatakan yang sebenarnya Aria, pergilah mandi atau kau sendiri yang akan malu nanti.”
Tak bicara lagi langsung saja Aria masuk ke kamar mandi, Izana tidak marah sama sekali dengan tamparan Aria, apa dia tidak merasakan sakit?
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 138 Episodes
Comments
Devi Handayani
tanggung jawab dong izana... tunjukan kamu laki laki sejati... bukan pecundang😠😠😠😠😠
2023-05-13
0