Sudah tiga hari berlalu dan selama itu Aria seakan lupa akan pertemuannya dengan Izana. Kini ia bersiap kembali kerna mungkin ibunya sudah ada di rumah.
Yang benar saja saat Aria sampai di rumah, ia disambut oleh Ennie dengan tatapan tajam. Ennie adalah nama ibunya Aria.
“Dari mana saja kau Aria?” tanyanya dengan tegas.
“Sudah kubilang, aku tidak nyaman berada di rumah ini karena suamimu itu, Bu.”
“Siapa pria yang kau bawa masuk ke rumah ini?”
“I-itu.”
“Jawab!”
Aria tersentak ketika Ennie membentaknya, ini memang sering terjadi dan Aria sudah terbiasa mendapatkan bentakan dari ibunya. Bahkan Ennie tidak memiliki kepercayaan sedikit pun pada Aria.
“Apa yang ibu katakan? Aku tidak membawa pria mana pun.”
“Jangan berbohong, ayahmu yang mengatakannya. Semua uang di berangkas juga hilang, ingin membuat alasan apa lagi kau?”
“Itu hanya bualan ayah Bu, pasti dia yang menghabiskan uang itu. Ibu percayalah padaku, ayah memiliki niat buruk padaku. Ibu aku putrimu seharusnya kau percaya padaku, sama siapa lagi aku mengadu jika bukan dengan kau?” isak Aria, dia benar-benar lelah mengatakan hal yang sama tentang ayah tirinya, namun apa? Bahkan Ennie menganggap Aria beromong kosong karena dalam pikirannya Aria mungkin saja belum bisa menerima kepergian mendiang ayahnya.
“Jangan menuduh ayahmu sembarangan Aria, ibu tahu betul bagaimana dia. Sekarang di mana pria itu?”
“Pria siapa Bu?”
“Pacarmu! Berhentilah berbohong. Ibu capek Aria! Pulang kerja berangkas kosong membuat kepala ibu pening. Sekarang kau bawa pacarmu ke sini! Jangan pernah kembali jika tidak bersamanya.”
BRAK!
Pintu pun tertutup kasar, Aria yang semulanya memang berada di ambang pintu perlahan mundur menatap pintu yang sudah terkunci.
“Terserah deh, lebih baik aku pergi saja dari rumah ini. Percuma juga tetap berdiam diri, kenyataannya ibu lebih sayang pada si buncit itu.”
Aria meninggalkan pekarangan rumah tanpa membawa apa pun selain pakaian yang ia pakai, setelah sekian lama ingin pergi akhirnya hari ini dia memutuskan untuk mencari tempat ternyaman untuk dirinya sendiri.
“Sampai jumpa Ibu, semoga kau sehat selalu. Kuharap kau membuka matamu suatu hari nanti,” ucapnya yang dibanjiri air mata. Nyatanya meninggalkan ibunya bersama pria yang ia tahu tidak baik sangat berat bagi Aria. Selama ini ia bertahan juga karena ingin membujuk ibu, tapi Ennie terlalu keras kepala.
“Bu, kau bertengkar dengan Aria lagi?” lembut Roni sembari memijat pundak Ennie.
“Ayah, padahal kau sebaik ini padanya, tapi Aria selalu saja menuduhmu yang bukan-bukan.”
“Tidak apa-apa, mungkin perlu waktu agar dia bisa menerimaku di rumah ini.”
“Maaf ya atas kelakuan Aria, sepertinya aku harus lebih keras lagi dengannya. Dia dulu sering di manja oleh mendiang, mungkin karena itu karakternya terbentuk jadi sangat buruk.”
Begitulah sekiranya Roni yang berlagak sok perhatian, Ennie benar-benar terpengaruh oleh pria itu. Bahkan ia kehilangan kepercayaan Aria semenjak kedatangan pria itu sebagai orang baru di rumah ini.
Pria itu benar-benar racun, Ennie bersedia menikahi dengan Roni karena pria itu humoris, tidak seperti mendiang ayah Aria yang kaku, Ennie merasa terhibur dengan adanya Roni walaupun pria itu tidak bekerja dan hanya bisa menadah tangan.
Tbc.
Like and coment sebelum lanjut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 138 Episodes
Comments
Devi Handayani
ya Allah dapat ayah tiri benalu😔😔😔😔
2023-05-13
0