Sepanjang perjalanan menuju halte bus Aria menutup wajahnya karena malu dilihat orang, Izana tampak tidak peduli dan dengan tenangnya ia menggendong Aria. Sampainya di halte dia ikut menunggu bus datang sembari duduk berdua di kursi tunggu.
“Rumah jauh ya, Aria?”
“Dekat pembuangan sampah, aku tinggal bersama bapak-bapak yang kau pukuli dulu.”
“Hah!?”
Izana tercengang, dia tidak menyangka kalau Aria tinggal sama bapak yang ia pukul karena masalah sepele kemarin.
“Kenapa kau tinggal sama bapak itu?” tanyanya.
“Di sini aku tidak punya rumah sialan! Lagian bapak itu baik kok.”
“Jadi selama ini kau pulang kerja berjalan kaki ke tempat itu?”
“Ya begitulah.”
“Astaga, bukannya itu sangat jauh ya. Kau berani malam-malam berjalan di tempat sepi itu sendiri?”
“Mau bagaimana lagi, aku belum menerima gaji jadinya enggak punya uang untuk bayar bus.”
Tiba-tiba saja Izana merasa kagum dengan Aria, gadis itu berasal dari keluarga kaya tapi dia memiliki pendirian yang kuat dan tidak manja.
“Pasti kota ini jadi pengalaman baru bagimu ya.”
“Iya, eh itu busnya sudah datang. Aku pulang.”
Aria sudah naik bus dan kemudian bus pun berjalan meninggalkan halte.
“Wajahnya sangat pucat, dia pasti sedang sakit. Sepertinya tubuhnya kelelahan,” gumam Izana, dia sadar kalau Aria sedang tidak baik-baik saja. Pria ini berharap agar Aria cepat sampai lalu istirahat di rumah.
Aria bernapas lega akhirnya ia sampai di rumah, dicarinya bapak tapi dia tidak menemukannya di rumah. Aria pergi ke tempat pembuangan, di sana terlihat bapak sedang mengorek-ngorek tumpukan sampah yang baru saja datang.
Tempat ini sangat bau namun sangat ramai, mereka mencari barang bekas yang bisa dijual untuk kelangsungan hidup mereka, beginilah hidup orang-orang yang tinggal di pembuangan, sampah yang di buang orang adalah harta karun bagi mereka.
“Pak,” panggilnya, bapak pun menoleh.
“Astaga Aria, kau dari mana saja semalaman tidak pulang”
“Aria menginap di kafe Pak, semalam capek banget,” tipu Aria.
“Ada apa dengan jalanmu? Kenapa mengangkang-ngangkang begitu?”
“Ehehe enggak apa-apa Pak, mau Aria bantu?”
“Engga usah, kamu istirahat gih, lihat mukamu pucat begitu.”
“Engg ya sudah deh.”
Memang tubuhnya sejak tadi terasa berat, seharusnya dia tidak memaksakan diri. Aria kembali pulang, sampai di rumah bajunya sudah bersih semua sepertinya bapak yang mencucikan pakaiannya.
“Astaga bapak, kalau begini aku kan jadi enggak tenang meninggalkan baju kotor,” gumamnya, ya biasanya sebelum mandi dia cuci baju tapi karena kemarin capek jadi Aria biarkan saja baju kotornya.
Di bentang tikar tidur yang biasa ia gunakan, mata yang rasanya sangat panas menuntutnya untuk tidur.
Di tempat lain, tepatnya di rumah Aria yang sebenarnya, ada Ennie yang tampak termenung menatap foto berbingkai besar di ujung tangga. Itu adalah foto dirinya dan juga putrinya.
“Aria kenapa kau belum pulang?” gumamnya sambil meneteskan air mata.
Ini sudah tiga minggu semenjak Aria pergi dari rumah, ingin sekali Ennie mencari putrinya tapi ego berkata lain.
“Ennie ayo kita lapor polisi untuk mencari Aria” Ajak Roni.
“Aku yakin dia baik-baik saja di luar sana, kalau dia lelah pasti dia akan kembali.”
“Bagaimana kalau dia diculik penjahat?”
“Ayah, jangan sembarangan ngomong. Aku ingin Aria datang langsung mengakui kesalahannya, ingat Yah aku hanya ingin mempertahankan harga dirimu yang selalu dihina Aria.”
Roni menggerutu dalam batinnya, pria ini menyukai Aria tentu saja ia ingin ada di rumah ini.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 138 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Seorg Ibu kandung yg paling BODOH,..Lebih percaya org luar dr darah dahing sendiri,Mana anak cewek lg 😡😡
2023-09-10
0
Devi Handayani
tuh belajar dari aria.... kamu laki laki bisa nya cuma begal🤨🤨🤨🤨🤨🤨
2023-05-13
0