Izana berlari dari tante-tante yang mengejarnya, tubuhnya terasa panas, dia harus segera berlari sebelum ia kehilangan kendali dan melampiaskannya pada si tante-tante itu. Ia tau apa yang terjadi pada dirinya, tante-tante pengincar berondong itu telah memberikannya obat perangsang.
Setelah jauh berlari, tubuh Izana semakin panas, yang di bawah sana pun juga tegang sempurna.
“Sial aku harus apa?”
Semakin ditahan rasanya semakin tersiksa, Izana merasakan sakit yang luar biasa, dia sudah mulai hilang akan kendalinya bersiap menangkap gadis untuk dijadikan pelampiasan.
Bruk~
Di depan sana dapat ia lihat seorang gadis terjatuh tak sadarkan diri, ia pun menghampirinya serta menarget kan gadis itu.
“Aria,” gumam Izana karena mengenal sosok gadis yang tergeletak tak sadarkan diri. Tak berpikir panjang lagi Izana membawa Aria pergi dari situ, ia pergi menuju penginapan yang harganya relatif murah.
Setelah sampai ia pun membaringkan Aria di kasur tipis yang di sediakan hotel kecil itu.
“Maafkan aku Aria aku sungguh tak tahan lagi, ini sangat menyiksaku.”
Izana melucuti pakaian Aria hingga polos, dia mengelap liurnya sendiri ketika melihat tubuh mulus dan bersih milik Aria.
“Kau benar ukurannya sedang,” ujarnya sembari memainkan ujung dada Aria sembari merem*snya pelan dengan tangan yang lain.
Tak cukup sampai di situ, Izana menindih Aria dan melu*at bibir yang terlihat pink alami itu. Kini dada dan leher Aria dipenuhi bercak bekas Izana. Namun gadis itu tak kunjung bangun juga.
Hingga saat Izana menyentuh inti Aria, gadis itu melenguh.
“Engg” Dia merasa ada sesuatu di area selang*angannya. Saat mata terbuka sempurna, alangkah terkejutnya Aria ketika melihat Izana di atasnya tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.
“Akkkh,” jerit Aria mendorong kasar Izana.
“Apa apaan kau! Mesum! Menjauhlah dariku.”
“Aria maaf tapi aku sedang dalam keadaan darurat.”
“Apa mak-“ Seketika Mata Aria membulat ketika menyadari tubuhnya juga sama polosnya.
“K-kau, apa yang kau lakukan padaku?” ujar Aria getir, jantungnya berpacu seakan ingin lepas dari tempat, dia ketakutan karena hal kotor tiba-tiba melintas di pikirannya, dia mengerti apa yang selanjutnya terjadi.
Tahu Aria ingin bergerak kabur Izana langsung mengunci pergerakannya serta mengikat tangan Aria menggunakan stoking milik gadis itu.
“Maaf,” Ucapnya. Seluruh tubuh Aria disentuh oleh Izana, gadis itu terus memohon bahkan air matanya taklah berguna untuk menarik simpati, ada sensasi nik*at di saat pemuda itu menyentuh setiap bagian tubuhnya, namun tetap saja Aria tahu ini salah.
“Izana ku mohon jangan! Aghhhk!” teriaknya ketika merasakan benda berurat milik Izana masuk secara perlahan lahan mengoyak kegadisannya.
Segala umpatan, teriakan, tangisan dan permohonan sudah ke luar dari mulut Aria. Namun apa? Semuanya sudah terlambat, buktinya tubuh yang tadinya merasa sakit kini menikmati setiap sentuhan Izana.
Ini sudah dua jam namun Izana masih terus menggerakkan pinggulnya, dia keenakan dan enggan mengakhirinya.
“Izana kumohon hentikan, aku lelah.”
Lagi-lagi permohonan ditolak hingga Aria kembali merasakan penglihatan yang seakan menggelap.
Pukul sebelas malam Aria terbangun, melihat Izana yang tertidur di sampingnya dengan pulas membuat Aria tersadar kalau kejadian itu bukanlah mimpi, dia sudah tidak perawan lagi.
Air mata kembali menetes deras, ia menangisi nasibnya sendiri, niat hanya ingin mencari tempat aman di mana dia bisa menjauh dari papa tirinya, tapi malah berakhir oleh Izana sang begal yang membuatnya diusir.
“Tuhan ini terlalu kejam.”
“Maafkan aku Aria, maaf” gumam Izana dalam tidurnya.
Plak~
“Minta maaf pun percuma sialan!” ucapnya sambil menampar wajah tampan Izana, anehnya pria ini tak kunjung bangun.
TBC.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 138 Episodes
Comments