Bapak yang tengah memasang sepatu bot di depan pintu didatangi oleh beberapa pria berbadan besar. “Ada keperluan apa?” tanya bapak sopan.
“Benar nama Anda pak Iky?”
“Iya.”
“Kami sedang mencari nona Aria, beberapa orang pernah melihat bapak bersama nona Aria, di mana dia sekarang?”
“Kalian siapanya Aria?”
“Kami orang suruhan ibunya Aria.”
Bapak berpikir sebentar kemudian dia tersenyum getir, dia merasa berat membiarkan Aria kembali pulang ke rumahnya, tapi mau bagaimana lagi ibu gadis itu pasti lebih merindukan Aria, itulah yang dipikirkan pak Iky.
“Tunggu sebentar.” Pak Iky kembali masuk untuk membangunkan gadis yang masih tertidur.
“Aria.”
“Enggg~”
“Bangun.”
“Jam berapa?”
“Bersiap siaplah Nak ibumu sudah mengirim orang untuk menjemput.”
Aria langsung melek sempurna. “Bapak bilang apa tadi?”
“Ada orang di luar, mereka bilang suruhan ibumu.”
Bukannya senang Aria malah merasa sedih, entah kenapa tapi firasatnya mengatakan untuk jangan pulang. “Pak haruskah Aria pulang?”
“Pulanglah Nak, mau lari ke mana pun ikatan ibu dan anak tak akan pernah terlepas. Mungkin semua akan menjadi lebih baik setelah kau pulang.”
Dengan berat hati Aria keluar, dia tak membawa sedikit pun barang karena sejak awal dia tidak membawa apa pun selain baju yang dikenakan.
“Nona ternyata Anda di sini,” ungkap Zan senang akhirnya menemukan Aria setelah beberapa hari mencari informasi.
“Apa ibu sudah menyesal maka dari itu dia menjemputku, Zan?”
“Pulanglah Nona, nyonya pasti sangat butuh sandaran di saat keadaannya sekarang.”
“Memangnya ada apa?”
“Soal itu.. Anda tanyakan saja pada buk Ennie,” jawabnya sambil tersenyum tipis. Aria menoleh ke arah pak Iky, dan bapak pun mengangguk.
“Pak Aria pulang ya, terima kasih sudah memberikan Aria tempat berlindung.”
“Sama-sama Nak, rumah ini selalu terbuka untukmu, datanglah lagi kapan-kapan.”
“Pasti, kalau begitu Aria pamit, ya.” Aria bersalaman dengan pak Iky, dia merasa berat hati tentunya.
Pada akhirnya ia kembali melihat rumah besar yang beberapa minggu ini tidak dia lihat. Tampak sepi seperti biasanya, tapi saat ia masuk sudah ada Ennie dan Roni yang menunggu di sofa ruang tamu.
“Kenapa mama masih sama si buncit ini?” Tunjuknya tidak senang, Aria kira tadi Roni sudah pergi makanya ia kembali dijemput.
“Aria jaga sopan santunmu,” tegur Ennie.
“Sialan! Kalau masih ada dia aku tak sudi menginjak lantai rumah ini.”
“Tahan emosimu besok kau ikut ibu.”
“Ke mana?”
“Nanti kau juga akan tahu.”
“Peduli setan! Aku ingin pergi saj-”
“Aria tolong kali ini saja kau bantu ibu.” Nada suara yang tadi tegas tiba-tiba berubah sendu, Aria dapat melihat air mata ibunya menetes menggambarkan ekspresi putus asa.
Tidak biasanya Ennie memasang ekspresi seperti itu, Aria jadi tahu pasti ibunya sedang dalam masalah mengingat perkataan Zan saat menjemputnya tadi.
“Baiklah,” ujar Aria kemudian kembali ke kamarnya tanpa bertanya lagi, dia tak mau membuat air mata Ennie semakin deras jika diungkit sekarang.
Setelah Aria sudah tidak terlihat lagi barulah Ennie tersedu sedu dalam pelukan Roni. “Shutt bukankah cuman ini jalan satu satunya, mengambil keputusan seperti ini pasti juga berat bagimu, jadi ikhlaskan saja, pasti Aria mengerti karena ini demi menyelamatkan usaha milik mendiang ayahnya,” ujar Roni yang sebenarnya juga merasa tidak rela.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 138 Episodes
Comments
Devi Handayani
yaahhh😩😩😩
2023-05-13
0