Melihat pintu ruangan Sesil saja sudah membuat Aria merasa was-was, di penglihatannya ada aura gelap yang keluar dari sela-sela pintu, sangat menakutkan.
Kreek~
Begitu pintu dibuka suara tegas Sesil langsung menyambut kehadiran Aria.
“Berdiri di situ saja,” kata Sesil dengan tegasnya. Dia menghisap rokok yang dijepit di jarinya. Asap rokok menyebar di ruangan kecil itu, Aria yang tidak menyukai bau rokok merasa pusing karenanya.
“Aria kau tak bisa seenaknya di sini, kemarin kau ke mana saja?”
“Aku sakit, Kak.”
“Ok, gajimu dipotong dua hari.”
“Tapi aku hanya libur selama sehari setengah, Kak. Kau ingat kan? Aku mengantar makananmu waktu itu.”
“Aku tidak ingin mendengar alasanmu, sekarang pergilah keluar.”
Si wanita pelit itu begitu menyebalkan dan tidak punya balas kasihan pada orang yang kesusahan, sedangkan gadis yang tidak dikasihani ini hanya bisa menahan kesal dalam benaknya ingin menonjok wajah wanita sok cantik itu.
“Kenapa melihatku seperti itu? Kau tidak senang? Pergi keluar dari ruanganku sekarang juga. Nyebelin banget sih.”
“Bangsat kampret, muka mirip ikan tongkol aja belagu sok cantik,” batin Aria sembari berjalan pergi.
>>>
“Apa yang Sesil katakan Ar?” tanya Moon.
“Dia memotong gajiku dua hari.”
“Sudah kuduga, kan sejak awal kukatakan kalau Sesil itu sangat perhitungan, tapi bukan salahmu sih Ar, kamu kan sakit mana bisa memaksakan keadaan.”
Buk Buk Buk
Sekumpulan orang mengeroyok Izana, pemuda itu tidak bisa melawan karena banyaknya jumlah orang yang memukulinya, dia hanya pasrah merasakan setiap pukulan yang mendarat di tubuhnya.
“Ini wilayah kami, sekali lagi kau malak di sini kau akan kami habisi,” titah mereka lalu kemudian pergi begitu saja.
Walaupun tubuh sudah penuh dengan lebam-lebam, Izana mampu bangkit dengan berjalan tertatih tatih. Diusapnya darah di ujung bibir dengan desisan kesakitan.
Di sisi lain ada seorang gadis yang melihat Izana dari kejauhan bersembunyi di gelapnya malam, bahkan ia menyaksikannya sejak awal pengeroyokan itu, Aria. Gadis ini hanya berdiam diri karena ia tahu juga tidak bisa apa-apa untuk menolong Izana di wilayah sepi ini. Izana terduduk di samping tiang listrik, pria itu melamun di bawah penerangan lampu.
“Sakit?” tanya Aria menghampiri dengan berjongkok di hadapannya.
“Tidak.”
“Bohong.”
“Ngapain kau di sini?”
“Niatku ingin pulang sih, tapi tidak sengaja melihat kau yang dipukuli.”
“Kalau ingin tertawa, tertawa saja.”
“Aku tidak sekejam itu.”
Izana terkekeh kecil Aria heran apa yang membuat pria itu tertawa. Kerna sepertinya Izana tidak butuh bantuannya Aria berdiri dan kembali melanjutkan perjalanan pulang.
“Aria,” panggilnya.
Aria berhenti kembali melihat nya, pria itu menepuk-nepuk tanah di sampingnya. “Ada apa?” tanya Aria.
“Sini duduk.”
“Aku mau pulang.”
“Sebentar lagi sepertinya akan hujan, kau ini benar-benar berani berjalan jauh tanpa senter dalam keadaan gelap.”
“Enggak apa-apa, enggak ada hantu kok. Walaupun memang seram sih tapi mau bagaimana lagi?”
“Ya sudah pergi sana, hati-hati di jalan.”
“Iya bye-bye, hati-hati dikeroyok lagi.” Aria berlari sambil melambaikan tangannya ke arah Izana, dia tersenyum tipis masih berada di posisi yang sama yaitu terduduk di tanah.
.
.
Malam ini angin berembus dengan sangat kencang seolah akan ada badai selanjutnya, perjalanan Aria masih panjang ditambah lagi suasana yang sangat gelap. Sebenarnya dia sangat ketakutan setiap pulang kerja malam seperti ini namun dia tidak punya pilihan. “Ibu aku benar-benar kecewa padamu.” Di saat seperti ini dia hanya bisa menangis sambil mengutuk ibunya sendiri.
Tbc.
Sebelum Lanjut biasakan Like terlebih dahulu
Author sangat berterima kasih jika kalian menyempatkan untuk Vote atau hanya sekedar komentar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 138 Episodes
Comments