Pukul sepuluh malam, Aria membantu Moon menutup kafe. Hanya berdua, tidak ada siapa-siapa lagi di sana.
Kring~ bunyi lonceng yang terdapat di pintu, itu artinya ada orang yang masuk.
“Maaf kami sudah tutup,” ucap Moon pada seseorang itu.
“Apa aku benar-benar tidak bisa memesan sekarang?”
“Maaf, semua stok sudah dikemas. Kami tidak bisa membongkar lagi.”
Pria itu mengangguk lalu kemudian pergi, dia tampak kecewa, sepertinya pria itu benar-benar membutuhkan sesuatu untuk dirinya konsumsi.
“Ada apa Moon? Kenapa kau tampak sedih begitu?” tanya Aria yang baru dana datang setelah selesai membuang sampah.
Dapat Aria lihat nanar Moon yang berair seakan ia menyesalkan sesuatu.
“Aria bisakah kau kejar bapak tadi?”
“Bapak yang mana?”
“Bapak-bapak yang pakai baju merah, tolong berikan roti ini padanya, sepertinya dia lapar,” kata Moon.
Aria bingung karena dia tidak melihat rupa orang yang dimaksud Moon, tapi Aria tipe orang yang tidak tegaan apalagi Moon bilang bapak tadi sedang kelaparan.
“Moon kau saja yang mengejar biar cepat, aku kan tidak tahu.”
“Niatnya sih begitu, tapi aku harus menyerahkan catatan ini pada Sesil.”
“Baiklah aku akan mencarinya.” Tak berpikir panjang lagi Aria pun berlari ke luar, matanya sibuk mencari seseorang orang yang memakai baju merah seperti yang Moon bilang.
Dari kejauhan Aria melihat bapak baju merah tengah dipukuli oleh sosok pemuda, gadis ini pun terkejut dan tergesa gesa berlari untuk melindungi bapak itu.
“Apa apaan kau?!” ucap Aria mendorong kasar tubuh pemuda itu. Dia membantu bapak itu berdiri karena tubuhnya yang kurus dan lemah membuatnya kesulitan.
“Aria?”
“Izana?”
Aria benar-benar tak menyangka bisa bertemu lagi dengan pria yang membuatnya diusir dari rumah, bagaimana dia bisa di sini? Dilihatnya tatapan Izana yang sepertinya juga bingung.
“Kenapa kau bisa di sini?” tanya Izana.
“Tidak penting! dan apa apaan ini? Kau memukuli bapak-bapak? Di mana letak tata kramamu hah!!” Marah Aria, tapi Izana malah tertawa sumbang seakan mengejek.
“Bapak ini menabrakku tapi dia tidak minta maaf.”
Aria tidak habis pikir dan seharusnya dia tidak mikir, jawabannya sudah jelas, begal mana yang memiliki rasa hormat? Ini berlaku juga dengan izana si pemilik wajah tampan.
“Bapak tidak apa-apa kan? Ayo Pak ikut saya,” ajak gadis itu mengabaikan sosok izana yang menatap aneh ke arah Aria, namun gadis itu tidak peduli, yang jelas dalam pikiran Aria dia harus membawa bapak ini jauh dulu dari pria tidak punya hati itu.
Dia membawa bapak itu ke kafe tempat ku bekerja sama namun ternyata kafenya sudah terkunci, ternyata Moon sudah pulang duluan. Aria tidak punya pilihan lain selain mendudukkan bapak itu di kursi depan.
“Pak ini ada roti, makanlah,” suruhnya.
Sebelum menerima, si bapak menatap Aria dengan air mata yang terjatuh dari pelupuk matanya, hati Aris menjadi pilu, ingin sekali dia memberikan segepok uang pada bapak itu, tapi dia sadar kondisinya tak jauh beda dari si bapak.
“Ini benaran untuk bapak, Nak?”
“Iya Pak ambil saja.”
Sembari bapak makan, mata Aria memperhatikan luka lebam di sekujur tubuh pria tua itu. “Izana bangsat aku akan menghajarmu juga nanti,” batinnya.
“Rumah bapak di mana?”
“Dekat pembuangan sampah, Nak.”
“Ya sudah nanti aku bantu antar ke sana ya.”
“Tidak usah repot-repot, bapak bisa sendiri. Terima kasih, ya.”
Si bapak pun mulai berdiri, namun baru beberapa langkah ia malah kembali terjatuh.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 138 Episodes
Comments