Seorang wanita memijat kepalanya yang terasa pening, tumpukan dokumen di atas mejanya membuatnya menangis kehabisan akal, dia berada di ujung jalan yang buntu dan sangat membutuhkan orang luar untuk menolong perusahaan yang berada di ambang bangkrut tersebut.
Tok tok tok
Ennie menghapus air matanya mendengar suara ketukan di pintu ruangannya. “Masuk,” sahut Ennie setelah merasa penampilannya rapi.
“Halo selamat siang Buk Ennie.”
“Pak Jakar? Silakan duduk Pak, saya akan menghubungi sekretaris saya untuk membawakan kopi.”
“Terima kasih, kalau begitu saya duduk. Ibu tidak sedang sibukkan?”
Mendengar penerimaan pak Jakar, Ennie yakin pria paruh baya itu berniat lama di sini, Ennie pun ikut duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu. “Tidak kok, Pak,” jawabnya.
“Jadi saya ada maksud datang ke sini Buk.”
“Hmm apa tuh, Pak?”
“Saya dengar Ibu dalam kesulitan ya? Apa Ibu butuh bantuan saya?”
Ennie tersenyum kikuk, sebenarnya wanita ini sudah mencoba meminta bantuan rekan kerja samanya tapi naasnya ditolak, dia tidak mengerti kenapa pak Jakar datang tiba-tiba menawarkan hal yang sangat ia butuh kan.
“Ah ini sangat memalukan tapi saya sangat berterima kasih kalau Bapak berkenan membantu.”
“Tapi Buk, di dalam bisnis tidak ada namanya gratis, saya akan membantu ibu jika ibu mau menikahkan putri ibu Aria dengan putra ke dua saya Andi.”
Ennie terkejut, pasalnya Andi putra ke 2 pak Jakar sudah memiliki 5 istri, Ennie yakin sekali Aria tidak mau di tambah keberadaan gadis itu entah di mana.
“Maaf kalau Aria saya rasa tidak bisa, begini saja saya akan mengganti bantuan Bapak setelah perusahaan saya berdiri kembali.”
“Saya tak menginginkan hal lain Buk, kalau Ibu menolak baiklah saya pergi, saya tidak punya alasan lagi untuk membantu Ibu.”
“P-pak berikan saya waktu untuk berpikir,” cegah Ennie yang melihat pak Jakar ingin berdiri yang bahkan kopinya belum sampai.
“Baiklah Buk saya beri waktu tiga hari, putra saya adalah orang yang tidak sabar.”
Setelah pak Jakar pergi Ennie terduduk lemah, haruskah dia menjual putrinya sendiri demi mempertahankan perusahaan milik mendiang sang suami?
“Buk ini kopinya.” Sekretaris Zan datang dengan membawa nampan berisikan dua cangkir di atasnya.
“Ambil saja untukmu satu, tamunya sudah pergi.”
“Baik Buk.”
“Zan, kau cari keberadaan Aria dan bawa dia pulang.”
Pria berusia 32 tahun itu tersenyum tipis. “Ibu sudah rindu dengannya? Dikeadaan seperti ini dukungan keluarga memang penting, saya akan menyuruh beberapa orang untuk mencari Nona, kalau begitu saya permisi.”
Zan pergi keluar sedangkan Ennie menangis tersungkur di lantai, dia merasa dirinya sangat kejam.
“Aria... Maaf,” gumamnya dengan isakan.
“Aku tidak setuju!” kata Roni setelah mendengar cerita istrinya yang pulang dengan mata bengkak.
“Tapi Ron cuman ini jalan satu-satunya, aku juga tidak tahu harus apa lagi.”
“Setelah kau mengusirnya kini kau mencari dan ingin menjualnya? Kau bukanlah seorang ibu Ennie.”
Air mata Ennie langsung jatuh ketika Roni menyinggung kekejamannya. “Aku tahu itu, tapi kalau perusahaan itu hancur bagaimana caranya kita bertahan hidup? Kau mau hidup miskin, selama ini cuman aku yang berjuang sedangkan kau hanya santai saja di rumah, kau akan mengerti kalau menjadi aku!”
Roni terdiam, dia tidak mau hidup miskin tapi juga tidak mau Aria dimiliki pria lain, pria buncit ini menyukai putri tirinya sendiri tanpa diketahui oleh sang istri, benar-benar menjijikkan.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 138 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Punya lakik tapi gak BERGUNA,ngapain juga nikah??,Cuman bisa jd parasit doang,Ntar kamu bangkrut aku pasti kamu akan ditinggalin dan di selingkuhin,Ogeb..
2023-09-10
0
Devi Handayani
semoga aria ga diketemuin ama emaknya😧😧😧
2023-05-13
0