Izana menatap penampilan Aria dari atas sampai bawah lalu kemudian dia tertawa mengejek.
“Kau datang dari zaman apa? Kenapa bajumu kuno sekali?” gelaknya mengejek. Ya, pemuda yang sedang menghadang Aria adalah Izana.
“Kau menghadangku hanya untuk mengejek?”
Aria menatap datar, biarpun pakaiannya terlihat kuno namun sebenarnya tetap terlihat modis karena Aria yang memakai.
“Tidak, aku hanya penasaran dengan apa yang kau bawa itu,” tunjuknya pada kantong plastik yang Aria pegang.
Aria meletakkan pegangannya ke aspal, Dia siapkan kepalan tinju untuk meninju laki-laki itu, ingat janjinya kan?
Bugh!
Bugh!
“Aw aw kau ini kenapa?”
Izana menahan tangan Aria yang ingin kembali memukul, kini gadis itu tidak bisa bergerak lagi, tenaga Izana sangat kuat.
“Kenapa tiba-tiba memukulku?”
“Kerna kau melukai bapak, jangan pernah kau menyakitinya lagi dengar!”
“Kau sedang mengancam? Hei lihatlah keadaanmu sekarang yang tengah terperangkap.”
“Lepaskan tanganku!”
Aria ingin menendang tititnya, tapi belum sempat dia lakukan Izana malah membantingnya ke aspal.
“Aduh,” ringisnya terkapar, astaga pria ini benar-benar tidak ada lembut lembutnya.
“Sakit?”
“Sakitlah bego! Begal sialan tak punya hati.”
“Kau duluan yang memukulku, Aria.”
Langsung saja Aria berdiri dan mengambil kantong plastiknya yang sempat dia letakan di bawah tadi, kakinya pun melangkah menjauhi Izana tapi pria itu malah mengejar.
Grep~
Dia menahan tangan Aria.
“Apalagi yang kau inginkan? Bukankah sudah ku bilang aku tidak punya uang?”
Izana menarik tangan Aria membawanya ke kursi yang berada di bawah lampu, ia mengambil sebotol air yang ada di tasnya lalu menyiramkan air itu ke siku Aria yang berdarah.
“Sedang apa kau malam-malam keluyuran?” tanyanya.
“Kerna aku memang pulangnya malamlah.”
“Maksudnya?”
“Aku kerja di kafe, pulang jam sepuluh malam mulai dari jam delapan pagi.”
“Untuk apa kau kerja seperti itu? Bukannya kau kaya, ya?”
“Aku diusir gara-gara kau! Ibuku bilang jangan pulang kalau tidak bersamamu.”
“Apa karena aku mengambil uang di brangkas ibumu?”
Aria beralih menatapnya, oh Tuhan dia di bawah sinar lampu saja sudah setampan ini, begal ini memiliki wajah yang seharusnya tidak dimiliki oleh orang seperti dirinya.
“Ibuku mengira kau pacarku,” kata Aria dengan helaan napas berat.
Kemudian terdengar suara tawa Izana, entah apa yang lucu? Tapi sepertinya dia sedang mengejek Aria.
“Yang benar saja? Aria walaupun kau cantik kau bukan lagi tipeku. Aku akan mengajakmu pacaran kalau kau mempunyai dada besar dan badan berisi, emmm itu pasti nikmat sekali.”
“Siapa juga yang mau jadi tipemu? Kau meremehkan dadaku? Dadaku memang tidak besar tapi ukuran sedang, dasar laki-laki apa hidup kalian hanya untuk meremas dada perempuan? Cih menjijikkan.”
“Astaga mulutmu frontal sekali.”
“Biarin! Minggir sana aku mau pulang!”
“Eits jangan dulu, aku belum selesai.” Izana menarik tangan Aria sehingga gadis itu terduduk kembali.
“Apalagi sih!? Aku malas berbicara dengan begal.”
“Aku lapar, bisakah kau berikan aku satu yang kau bawa itu?” tunjuknya ke kantong plastik Aria.
Mata Aria mengikuti arah telunjuk Izana dia terdiam sebentar, setelah dipikir ternyata punyanya memang berlebih satu. Dari pada terbuang lebih baik diberikan pada Izana kan?
“Ini ambillah, sebaiknya kau cari kerja sana. Jangan membegal terus,” ucapnya sebelum akhirnya Aria pergi meninggalkan Izana.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 138 Episodes
Comments
Devi Handayani
tau cari kerja yg halal boy.... jangan mo nya maling mulu😏😏😏😏
2023-05-13
0