"Dia memiliki aura orang kaya. Apa dia orang kaya yang tiba-tiba jatuh miskin?"
Mendengar ucapan si 'Men,' Andah terkekeh karena itu terasa sangat aneh. "Hahaha, becanda aja ini si Abang."
"Heh, siapa name lu?" tanya Bang Men.
"Ojan," Wajahnya masih terpaku pada sebuah mobil mewah yang baru saja ditinggal Bang Men saat mencuci.
Bang Men mengerutkan keningnya. "Ojan?" Dia menatap Andah memastikan nama itu.
Andah tersenyum kikuk karena dia spontan saja memberi nama tersebut pada lelaki yang ditemukannya ini. Dia teringat komedi yang ditontonnya saat masih kecil, ada anak kecil yang menggemaskan bernama Ojan. Secara spontan saja Andah mengucapkan nama pria itu dengan Ojan.
"Ya ... panggil saja dia Ojan, Bang. Ajari dia dengan baik yah! Dia ini bagai anak kecil yang luar biasa polos. Otaknya kereset ulang, karena suatu hal." terang Andah.
"Amnesia?" tanya Bang Ali dan Bang Men serempak.
"Ya ... begitu lah kira-kira."
"PR besar ni ngajarin anak kecil," gumam Bang Men. Menarik Ojan bagai menarik anak kecil yang sedang kagum melihat sesuatu.
"Lu tertarik sama ni mobil?" tanya Bang Men yang sudah berada di samping mobil mewah itu.
"Iya, Bang. Mobilnya bagus banget." Ojan mengeluarkan cengiran khas anak kecil membuat Bang Men mendelik merasa jengah, aneh, dan geli.
"Ini mobil milik yang ono tu!" Bang Men menunjuk seorang wanita yang sedari tadi memperhatikan Ojan. Wanita itu terlihat sangat berkelas, melambaikan tangannya kepada Ojan.
Bang Men membalas lambaiannya, jahil. Akan tetapi si wanita elegan itu membuang muka karena yang membalas lambaian tangannya adalah pria kurus dengan gigi yang sedikit maju.
Ojan hanya menggaruk kepala di bagian belakang, merasa bingung dengan keadaan yang sedang terjadi. Dia tidak memahami arti lambaian tangan itu, lebih fokus memperhatikan mobil yang berada di posisi tinggi. Seakan ada bayangan dirinya tengah duduk di dalam mobil itu.
"Woiiyy, bocah gede! Lu melamun ye?" tanya Bang Men.
"Oh-eh?" Ojan menggelengkan kepalanya.
Bang Men menyerahlan spons kepada Ojan. "Cuci mobilnya dengan hati-hati! Jangan sampai lecet! Kalau lecet, siap-siap aja ganti! Lu punya duit buat ganti?"
Ojan mengangguk. "Aku punya uang kok, Bang." Ojan merogoh koceknya. Lalu mengeluarkan uang koin.
"Ini, kata Andah bisa beli empat permen." Ojan memamerkan koin seribu perak yang dia temukan tadi.
Bang Men menepuk jidatnya lalu memutar mata merasa sedikit eneg melihat tingkah Ojan persis anak lima tahun. "Udah, lu cuci mobilnya! Gue turunin dulu ni mobil."
Bang Men menuju sebuah tempat menekan sebuah kontak. Hal ini membuat mobil yang berada cukup tinggi, terlihat turun secara perlahan.
Setelah itu, Bang Men menyemprotkan kembali busa yang terlihat sangat halus bagai salju. Dia memberi contoh cara mengusap mobil mewah ini dengan benar. Dengan cepat, tetapi hati-hati Bang Men memperlihatkan cara msncuci dengan benar kepada Ojan yang selalu melongo.
Ojan pun meniru mulai mengusap dan tampak sedikit kasar. "Eit! Jangn gitu! Kalau kasar gitu bisa merusak cat nya. Mobil ini sensitif banget, kayak yang punya!" ucap Bang Men menunjuk wanita yang terus memperhatikan gerak-gerik mereka.
Namun si wanita yang ditunjuk Bang Men memamerkan kepalannya. Mengusap dan meniupkan kepalan itu sebagai petanda ancaman Bang Men yang terus menggodanya.
Namun, mata Ojan bukan melihat ke arah wanita yang ditunjuk Bang Men. Ojan malah mencari sosok wanita yang katanya sudah menjadi istrinya tadi pagi. "Andah mana, Bang?" tanya Ojan.
"Andah siape?" tanya Bang Men lagi.
Mata Ojan terus liar melirik ke kiri dan kanan mencari sosok sang istri. Dia langsung melempar spons yang ada pada tangannya. Akan tetapi, langkahnya dihalangi Bang Men.
"Mau ke mana? Lu mau cari duit kan?"
Ojan berhenti lalu memutar kembali tubuhnya menatap Bang Men. "Gimana caranya cari uang, Bang?"
"Laaah? Ini kita lagi nyari uang?"
Ojan langsung menatap ke bawah. Matanya liar meliat segalanya yang ada di lantai. "Gak ada uang!" celetuknya menggaruk dagu.
"Omaigat! Mau gue apain ni si bocah gede?" rutuk Bang Men kesal.
*
*
*
Sementara Andah sedang menemui Mamih Lova. "Kamu bilang hutangmu sebesar lima belas juta akan kamu bayar dalam waktu satu minggu? Ini sudah lewat! Mana buktinya?"
"Maaf, Mih. Aku lagi mengumpulkan uangnya." Andah menyilangkan dua jemarinya di belakang.
"Sini balikin dulu berapa yang kamu punya?!" Mamih Lova menengadahkan tangannya.
Andah menggaruk pelipisnya tersenyum kikuk. "Kasih waktu dikit lagi, Mih. Aku akan bekerja dengan sungguh-sungguh demi melunasinya dengan segera."
Mamih Lova melangkahkan kakinya hingga posisi mereka sejajar di samping Andah. "Bagaimana kamu terima penawaran cowok muda yang waktu itu? Duitnya bisa kamu kuras untuk membayar hutang-hutangmu." Mamih Lova bersidekap dada melirik Andah yang ada di sampingnya.
"Tapi, Mih ... Aku itu tidak mau menari di hadapan pria yang tak sopan itu."
"Kamu saat ini dihadapi pada situasi yang tidak bisa memilih! Atau, kamu bisa lelang kepe rawananmu. Kamu bisa meladeni pria yang bisa membayarmu dengan harga yang paling mahal!"
"Mih, aku ini penari. Yang aku jual itu gerakan indah dari seni tari yang aku tunjukan. Bukan tubuh, bahkan keperawananku! Biar lah aku memberikan semua milikku yang berharga ini hanya kepada suami."
Andah tersadar pada kata suami. Dia teringat pada pria yang bertingkah seperti anak kecil yang baru menikah dengannya tadi pagi. 'Bisa berdiri ga ya? Secara dia kan anak kecil.' batinnya.
"Siapa yang mau menikah denganmu? Tak akan ada yang mau menikah meski pun kamu belum tersentuh siapa pun. Mereka tidak akan mau tahu dan menutup mata menganggap semua wanita yang ada di sini bukan lah wanita baik-baik, termasuk kamu juga."
Andah memilih diam dengan pernyataan Mamih Lova. Dia sengaja tidak memberitahukan kepada sang atasannya ini bahwa dia baru saja menjadi istri orang.
"Jadi bagaimana, Andah? Apakah kamu bersedia mengikuti apa ucapanku?"
Andah menggeleng mantap. "Beri aku waktu seminggu lagi, Mih. Aku berjanji akan mengganti uang yang Mamih pinjamkan itu."
Tanpa menunggu jawaban dari Mamih Lova, Andah menggeser tubuhnya ke samping dan bergerak bagai kepiting keluar dari ruangan tersebut.
"Kamu-" Mamih Lova menghentikan ucapannya. Lawan bicaranya sudah tidak ada.
"Dasar anak kurang ajaaaaar!" um pat Mamih Lova.
Andah berjalan cepat kembali ke tempat pencucian mobil tadi, di mana dia meninggalkan Ojan di sana. Dia ingin mengantarkan suami berjiwa anak-anaknya pulang. Saat masih sepuluh meter lagi dari lokasi, pencucian mobil tersebut, sebuah tangan menarik Andah dan membekap mulut Andah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Mimik Pribadi
Waduhh!! Itu siapa yng bekap Andah???
2023-09-16
0
my name
lah....andah diculik
2023-03-14
0