Bab. 17

Arsyad kembali bekerja seperti biasa, sedangkan Arsyila tidak menyangka jika, ia akan bertemu dengan pria yang membuat jantungnya berdetak kencang.

Vero Ardian Mohede memandangi dengan lama jendela rumahnya Arsyad," ternyata pria bucin itu punya adik yang sangat cantik," pujinya Vero.

Ando menyalakan mesin mobilnya kembali yang sempat tadi menyala tapi, kembali dimatikan karena tanpa sengaja melihat Arsyila yang berdiri di depan jendela.

Bu Sania Marwah bahagia karena kedua anaknya sama-sama punya tambatan hati sehingga tidak perlu repot-repot untuk mencarikan pasangan yang sesuai keinginan mereka.

"Kenapa baru kali ini aku melihat Abang punya teman cowok yah? padahal kami sudah pernah tinggal bareng di Amerika Serikat tapi, aku sama sekali tidak mengenal pria itu," gumamnya Arsyla.

Setelah menyelesaikan sarapannya, Arsyila berpamitan kepada mamanya untuk mengunjungi salah satu teman sekolahnya dulu yang sekarang berprofesi sebagai guru TK.

"Ma, aku ijin ketemu temen dulu,lama enggak ketemu," pamitnya Arsyla kepada mamanya itu.

Kedua anaknya, setiap kali akan keluar rumah pasti akan meminta ijin pada mamanya dalam keadaan apapun, kalau tidak bertemu dengan mamanya langsung setidaknya akan menelpon ataupun mengirim pesan singkat.

"Yang paling penting kamu jaga diri baik-baik, ingat kamu itu adalah anak gadis dan bawa mobilnya jangan ngebut ini Jakarta bukan Washington," ujarnya Bu Sania.

"Siap Bosku," jawabnya Arsyl lalu mengecup pipi mamanya itu.

Arsyla berjalan ke arah carport mobilnya yang berada di lantai dasar. Arsyla menaiki lift untuk ke dalam lantai bawah tanah.

"Kenapa aku selalu terbayang senyumannya temannya Abang, seganteng itukah sampai-sampai Arsyila bisa seperti ini," cicitnya Arsyla sembari menyetir mobilnya menuju jalan protokol Ibu kota.

Arsyla perlahan-lahan mengemudikan mobilnya karena, jalan yang dilaluinya cukup padat. Arsyla memakai mobilnya yang atapnya terbuka hingga membuat dirinya bebas melihat pemandangan jalan yang dilaluinya itu. Tapi, tatapan matanya berhenti ketika melihat dua gadis cilik yang sekitar lima tahun duduk di salah satu taman bermain sambil menikmati ice creamnya.

"Anak itu menggemaskan banget, ini kan taman bermain yang ada di belakang sekolah tempat ngajarnya Arimbi," gumamnya Arsyla.

Arsyla melanjutkan pekerjaannya menuju sekolah taman kanak-kanak tujuannya. Karena sudah memiliki janji dengan temannya yang bernama Arimbi Laila Sari. Arsyla mematikan mesin mobilnya, kemudian berjalan ke arah pintu masuk tapi, lagi-lagi langkah kakinya terhambat karena, melihat dua bocah cilik yang sedang berlarian saling berkejaran.

"Ninda jangan lari tunggu kakak!" Teriak bocah itu dengan berlari cukup cepat dan gesit meninggalkan kakaknya di belakang.

"Ayo kak kejar Nanda kalau bisa!" Balas teriaknya Nanda adik kembarnya.

Mereka saling berkejaran kebetulan jam istirahat. Berbagai macam permainan yang dilakukan semua anak tk tersebut. Arsyla menatap ke dua bocah itu karena, sejak tadi menarik perhatiannya.

"Ya Allah… senangnya punya masa kecil yang indah, teringat waktu itu aku juga punya teman kecil yang sering aku ajak main,eh salah ajak berkelahi biasanya sih," cicit Arsyla.

Arsyla berdiri dan tanpa ia sadari, kakinya melangkah ke arah kedua anak itu yang sudah berhenti berlarian sekarang malah main ayunan.

"Ya ampun ini dua bocah cilik kecil-kecilan tapi, seperti orang yang tidak pernah berasa lelah sedikitpun," gumamnya Arsyla lagi.

Arsyla mendekati keduanya yang seperti tidak ada rasa lelah ataupun nafasnya yang ngos-ngosan.

"Hey, apa aunty boleh ikut main dengan kalian enggak?" Tanyanya Arsyla yang tersenyum lebar ke arah dua bocil itu.

Keduanya spontan menolehkan kepalanya bersamaan ke arah Arsyla." Boleh kok aunty cantik," jawab Nanda.

"Enak yah ayunannya, Aunty perhatiin sedari tadi kalian main terus,apae nggak capek gitu?"

Nanda menatap sekilas ke arah adiknya sebelum menjawab pertanyaan dari Arsyla," gak kok aunty, malahan kami senang banget berlarian karena kalau di rumah pasti ayah akan larang kami, kalau disini cuma ibu guru Arimbi yang sering teriak-teriak menjaga kami," balasnya Nanda dengan antusias.

Arimbi yang melihat sahabatnya itu sudah datang segera berjalan menghampiri Arsyila.

"Assalamualaikum bebs," sapanya Arimbi dari arah samping Arsyla yang sudah ikut bergabung duduk di ayunan.

Arsyla menolehkan kepalanya ke sumber suara lalu tersenyum lebar," waalaikum salam bebs," jawab salamnya Arsyila yang kemudian berdiri berjalan ke arah Arimbi yang kesulitan berjalan karena sedang berbadan dua.

"Alhamdulillah sudah berisi rupanya," ucapnya Arsy.

Arimbi memperlihatkan senyumannya itu," Alhamdulillah sudah, yuk kita duduknya di sana saja sepertinya di sini kurang nyaman berbicaranya anak-anak pada ribut," pintanya Arimbi.

Arsyla pun berjalan meninggalkan kedua bocah itu dalam keadaan masih bermain ayunan dengan semangatnya.

"Nin, aunty itu cantik yah,coba dia mau jadi Mama kita?"

"Gimana kalau kita tanya ayah untuk nikahi aunty cantik seperti Bu guru Arimbi yang nikah sama kekasihmu?"

Nanda dan Ninda saling bertos ria untuk menyepakati kesepakatan dan rencana mereka selajutnya.

Sedang di tempat lain, Priska masih tidak mampu berkata-kata saking banyaknya pertanyaan yang meluncur dari bibir para teman kerjanya itu.

"Ya Allah… separah itu reaksi kamu Priska, tapi apa kamu tidak diapa-apain kan sama mereka?" Tanyanya Nila sambil memutar-mutar tubuhnya Priska yang masih memakai sweater nya itu.

"Alhamdulillah aku cuma ditegur sedikit kok, mau diapa juga mereka yang salah ngagetin aku," ujarnya Priska Oktaviani.

"Sudahlah, kami senang kamu tidak apa-apa semoga ke depannya tidak akan ada lagi kejadian seperti ini karena,kami takut kamu dipecat dari pekerjaan ini sedangkan kamu sangat butuh uang untuk biaya pengobatan ibu kamu di kampung," imbuhnya Nia Daniaty.

"Makasih banyak yah atas perhatian kalian,saya bahagia karena kalian selalu memperhatikan aku," pungkas Priska.

Mereka kembali bekerja hari itu dengan suka cita tanpa ada beban apapun yang mengikat mereka. Dipikiran mereka semua para officer girl itu, yang terpenting kerja dengan giat usahakan jangan melakukan kesalahan sedikit pun dijamin gaji aman diakhir bulan.

Arsyad kembali bekerja seperti biasanya, melakukan berbagai meeting penting dengan berbagai orang dari banyaknya perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan milik mamanya itu. Arsyad bekerja dengan sungguh-sungguh dan tekun,dia sangat disiplin dalam masalah pekerjaan tanpa mencampur adukkan pekerjaan dengan urusan pribadinya.

Arsyad merenggangkan otot-ototnya untuk mendapatkan rasa nyaman,saking lama dan kelelahannya mengerjakan beberapa pekerjaan yang sangat butuh pemikiran yang ekstra.

Arsyad berdiri dari duduknya sambil berjalan ke arah jendela kaca untuk melihat situasi terakhir kota metropolitan Jakarta.

"Apa yang sedang dilakukan oleh gadisku, sepertinya aku harus mengecek cctv untuk mengetahui apa yang dilakukan oleh Priska," lirih Arsyad.

Dia pun segera berjalan kembali ke arah meja kerjanya dan memeriksa cctv. Ia tersenyum melihat tingkahnya Priska yang lucu jika bekerja. Tapi, ia sangat marah ketika melihat kedekatan Priska dengan rekan kerja pria.

Walaupun Priska melakukan hal itu, hanya sekedar basa-basi semata dan tidak ingin dicap sombong. Lagian wajar mereka bercengkrama untuk menghilangkan rasa lelah mereka.

"Pratiwi aku yakin dengan sangat itu kamu, dari tatapan matamu itu membuktikan kalau kamu adalah Pratiwi Andien Utomo calon Istriku pendamping hidupku di masa depan,"

Bagi Like, Komentar, gift iklan,poin dan koinnya dong kakak readers...

Makasih banyak...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!