Bab. 8

Pak Budi Jaya dengan istrinya Bu Hanifah begitu terkejutnya melihat kedatangan wanita yang pernah tinggal bersamanya beberapa bulan.

Perempuan yang menitipkan darah dagingnya sendiri hingga anak itu tumbuh dewasa tanpa sekalipun untuk datang menengoknya.

"Iya aku Sania Pak Budi," sahutnya Sania dengan senyuman lebarnya itu.

Psk Budi dengan Bu Hanifah bukannya datang menyambut kedatangannya, melainkan mereka berdua hanya berdiri mematung dengan keadaan yang sulit untuk diartikan.

Bu Sania Marwah sangat mengerti dengan apa yang terjadi kepada mereka karena, semua itu juga terjadi berkat campur tangannya sendiri yang telah menjadikan kedua pasangan suami istri itu harus berdiri mematung.

"Assalamualaikum Pak Budi," sapanya Nyonya Sania.

Barulah Bu Hanifah segera tersadar dari lamunannya itu, silahkan duduk Nyonya maaf kursinya kami hanya kursi plastik tidak seperti yang Non Sania sering duduki," ujarnya Bu Hanifah yang sekedar berbasa-basi.

"Makasih banyak Bi, ini juga kursi yang bisa kita duduki lagian apa bedanya bagiku sama saja sama-sama bisa dipakai duduk, benar kan Pak Budi?" Bu Sania sengaja melempar pertanyaan seperti itu agar Pak Budi segera tersadar dari lamunannya.

Bu Hanifa segera menyenggol pelan lengan suaminya itu," ehh Nona Muda silahkan duduk," imbuhnya Pak Budi yang sedikit grogi karena tidak tahu harus bersikap gimana dengan perempuan yang pernah menjadi majikannya beberapa dekade tahun lalu.

Mereka kemudian duduk saling berhadapan dengan yang lainnya, tanpa ada yang mulai membuka percakapan diantara mereka.

"Pak Bud lama kita tidak berjumpa dan saya bersyukur karena masih sanggup mengingatku dengan baik dan saya yakin mungkin sudah tahu dan mengerti dengan maksud kedatanganku ke sini," ujar Sania mama kandungnya Arsyad pria yang sudah kecewa dan sakit hati karena ditinggal meninggal oleh calon istrinya itu dalam sebuah kecelakaan maut.

Pak Budi menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan sangat pelan," tidak mungkin kami melupakan Anda Non Sania, kami masih sangat hafal dengan jelas siapa Anda."

Bu Sania tersenyum tipis," kalau gitu tidak perlu berlama-lama dan membuang waktu saya hanya ingin bertemu dengan putraku Arsyad Shafiyyur Rahmany," Bu Sania langsung to the points saja tanpa berniat untuk mengulur waktu lebih lama.

Bu Hanifa dan Pak Budi saling bertatapan satu dengan yang lainnya itu.

"Maaf Arsyad tidak ada, barusan sekitar setengah jam yang lalu dia berangkat ke Ibu kota Jakarta mengadu nasibnya dan mencari keberadaan kedua orang tuanya yang telah lama sering ia pertanyakan sejak kecil dulu, anakmu tidak ada dia sudah pergi jauh dengan seribu macam luka lara hatinya," terangnya Bu Hanifa yang sedikit kesal dengan Sania yang sama sekali tidak pernah datang untuk menjenguk anaknya walaupun hanya sekedar mengirimkan sepucuk surat untuk bertanya tentang tumbuh kembangnya.

"Setelah sekian lama dia setiap hari berdiri di sini menunggu kehadiran mamanya yang akan datang memeluknya dan membelai rambutnya tapi, setiap hari harapan itu tinggal hanya harapan semu yang tidak berkesudahan, seorang anak kecil yang selalu mengatakan paman besok mama akan datang menjemputku kan? Hingga ketika dia jatuh sakit barulah ia berhenti untuk menanyakan soal keberadaan mama dan papanya sejak itu anak kecil itu melupakan segala macam pertanyaan yang muncul setiap hari dibenaknya," ketusnya Pak Budi dengan panjang lebar.

Bu Sania yang mendengar hal tersebut segera menitikkan air matanya hingga air mata itu menetes membasahi pipinya. Dia tergugu dalam diamnya dengan penuh penyesalan.

"Saya memang salah Pak, tapi apa saya tidak punya kesempatan sedikitpun untuk memperbaiki semuanya itu, jadi aku mohon dengan sangat katakan padaku siapa dan kemana perginya putraku itu Pak, aku mohon bantulah aku untuk bertemu dengannya, mungkin kalian menganggap aku seorang ibu yang tidak punya hati nurani yang dengan mudahnya tega meninggalkan buah hatinya dan darah daging sendiri, tapi kalian tidak perlu tahu apa yang sudah aku lalui selama ini demi mempertahankan putraku untuk bisa hidup di dunia ini aku sudah melakukan semua pengorbanan yang memang mesti seorang Ibu lakukan," ungkap Sania Marwah yang semakin mengeraskan suara tangisannya itu.

"Maaf Nona Muda Sania, Arsyad sudah hampir empat tahun tinggal di Jakarta dengan suatu alasan khusus dan kepulangannya kali ini ke kampung karena calon istrinya mendapatkan kemalangan yaitu kapal yang dipakainya tenggelam di lautan lepas hingga sampai detik ini korban yang banyak itu satupun tidak ada yang berhasil ditemukan padahal kami sudah melakukan pencarian," jelasnya Bu Hanifah.

Bu Sania menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan apa yang dijelaskan oleh Bu Hanifah perempuan yang sudah berjasa besar membantunya untuk membesarkan anak semata wayangnya itu.

Pak Budi menjelaskan duduk perkaranya hingga hari ini. Nyonya Sania sangat sedih mendengar perlakuan buruk yang dialami oleh darah dagingnya sendiri karena ulahnya sendiri yang tega menelantarkan anak kecil yang tidak berdosa itu.

"Maafkan saya mungkin apa yang saya berikan ini tidak lah sebanding dengan pengorbanan bapak dengan bibi tapi, saya ikhlas dan tulus memberikan semua ini untuk bapak, tolong kalian terima ini sebagai rasa balas budiku pada kalian yang telah ikhlas dan rela membuang waktu kalian untuk merawat putraku penerus keluarga besar kami, maaf hanya segelintir kecil yang sanggup aku berikan." Ucap Bu Sania seraya menyodorkan sebuah kunci mobil dan sepeda motor serta beberapa sertifikat tanah dan kebun yang sudah atas nama putranya Arsyad dan sejumlah uang dalam buku tabungan.

Pak Budi dengan sopan dan lembut mengembalikan semuanya," maafkan kami, Arsyad sudah kami anggap putraku sendiri jadi kami sama sekali tidak keberatan dan mempermasalahkan masalah apa yang sudah kami lakukan untuk Arsyad, tujuan kami semata karena menyayangi Arsyad setulus hati kami dan segenap jiwa raga kami jadi bawalah pulang semua barang-barangnya mewah ini Non," tolaknya Pak Budi dengan halus.

"Maaf jika bapak dan ibu mengembalikan semua yang sudah aku berikan berarti aku anggap kalian sama sekali tidak menyayangi anakku selama ini," kilahnya Bu Sania Marwah.

"Baiklah dengan berat hati kami menerima pemberian mu tapi Non perlu mengetahui jika kami terpaksa mengambil semua pemberiannya Nona dengan tangan terbuka dan semoga Nona secepatnya bertemu dengan Arsyad," tuturnya Bu Hanifah sambil memberikan sebuah selembar fotonya Arsyad yang diambil beberapa hari yang lalu dan juga secarik kertas yang bertuliskan alamat rumahnya serta tempat kerjanya Arsyad selama ini.

Bu Sania meraih kertas itu dalam tangan kanannya Bu Hanifa, ia sungguh terkejut setelah berhasil membaca dengan seksama tulisan itu.

"Ya Allah… benar sekali dugaanku selama ini, ternyata dia adalah anakku Pantesan wajahnya sangat familiar dengan Abang," gumamnya Bu Sania yang sangat bahagia dengan kebenaran dan fakta yang sudah terungkap hari itu juga.

Berselang beberapa menit kemudian, Sania berpamitan kepada kedua orang tua itu yang sangat berjasa besar dalam kehidupannya dan juga anak tunggalnya itu. Ia segera berpamitan kepada Pak Budi karena berharap semoga segera dipertemukan dengan anaknya yang sudah lama ia rindukan itu.

"Ya Allah... syukur Alhamdulillah makasih banyak atas anugerah terindah yang Engkau berikan untukku," batinnya Bu Sania sambil memandangi indahnya hamparan padi yang sudah mulai menguning di beberapa pematang sawah.

Sedangkan jauh dari tempat mereka, tepatnya di pesisir pantai warga masyarakat dihebohkan oleh penemuan yang menggemparkan warga sekitar.

Sedang Arsyad semakin memacu laju kendaraannya menuju Ibu kota Jakarta. Dia sudah berusaha untuk mengikhlaskan kepergian Pratiwi Andien Utomo dalam kehidupannya.

"Kalau memang kita berjodoh pasti Allah SWT akan mempertemukan kita dalam keadaan dan waktu yang tepat pula, aku yakin akan hal itu, Tiwi hatiku hanya untukmu dan tidak akan terganti dengan perempuan cantik manapun hingga nafas ini telah pergi dari diriku," lirihnya Arsyad.

Terpopuler

Comments

Adiba aya

Adiba aya

ternyata Arsyad orang kaya rupanya

2023-02-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!