Bab. 4

Hani memperhatikan gelagat Arsyad yang tiba-tiba terdiam, Hani menyunggingkan senyumnya karena yakin jika Arsyad tertarik dengan penawaran dari Hani.

"Bagaimana Ars, apa kamu setuju? Kalau kamu setuju besok kamu ikut Mbak ke kantor," usulnya Hani yang kembali mencicipi cemilannya tanpa henti itu.

Arsyad menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan dari Hani perempuan yang hanya beda setahun dengan usianya itu, tapi tetap ia hormati seperti saudara kandungnya sendiri.

Keesokan harinya, Arsyad dan Hani bersama berangkat ke perusahaan tempat Hani bekerja. Sebelum berangkat, Arsyad meminta ijin kepada Pak Ahmad dan juga istrinya Bu Dewi.

Kedua orang tuanya Hani sama sekali tidak keberatan dengan keinginannya Arsyad kala itu. Mereka malah senang jika Arsyad bisa lebih berkembang dan menjadi lebih baik lagi.

"Kami berharap dan berdoa semoga kamu semakin sukses dan apa yang kamu cita-citakan selama ini bisa terkabul," tuturnya Bu Dewi.

"Amin ya rabbal alamin, makasih banyak Bu saya sangat bahagia mendapatkan doa restu dari kalian," timpalnya Arsyad.

Arsyad duduk termenung di atas motornya sambil menunggu kedatangan Hani di tempat parkiran. Dia teringat kembali kenangannya beberapa tahun yang lalu yaitu sekitar dua tahun sebelum kepergiannya ke Ibu kota Jakarta, ketika hendak berniat untuk menemui Pratiwi untuk berpamitan.

"Iya Ars semoga saja kamu segera melamar kekasihmu itu, kasihan kalian sudah lama terpisah," tutur Hani.

Arsyad tidak menyangka jika, kekasihnya nekat kabur dari rumahnya dengan memanjat tembok yang cukup tinggi dengan ukuran lebih dari tiga meter itu, dengan bantuan dari dua orang asisten rumah tangganya kala itu.

Arsyad yang melihat kejadian tersebut segera bertindak cepat untuk menangkap tubuhnya Tiwi yang sudah terjatuh ke bawah. Tetapi, untungnya Arsyad bergerak cepat sehingga Tiwi dapat tertolong sebelum mencium tanah air beta.

"Abang aku mohon bawalah aku pergi bersamamu, aku rela kemanapun kamu pergi aku akan mengikuti Abang walaupun kita harus hidup susah," rengeknya Tiwi dalam tangisannya itu.

"Hush diamlah sayang, kamu tidak perlu banyak bicara dulu kita cari obat untuk mengobati beberapa goresan di kakimu itu," imbuhnya Arsyad.

Arsyad menurunkan tubuhnya Tiwi dari atas tembok lalu segera menaikkan ke atas motornya kemudian menjalankan motornya dengan perlahan agar tidak ketahuan dengan orang lain.

"Tiwi berpegangan kita akan ke suatu tempat karena di sini bukan tempat yang aman untuk berbicara sebelum aku pergi ke kota besar," tuturnya Arsyad lalu menjalankan mesin motornya itu.

"Baik," jawab Tiwi.

Mereka kesuatu tempat malam itu kebetulan kedua orang tuanya dan juga kakaknya pergi keluar daerah untuk menghadiri salah satu acara pesta resepsi pernikahan anggota keluarganya.

Malam itu mereka habis dalam dekapan hangatnya Arsyad, mereka seolah melepas rasa rindu yang nantinya akan mereka rasakan sebelum perpisahannya.

Tiwi ingin menyerahkan dirinya kepada Arsyad,tapi Arsyad menolaknya mentah-mentah," Maaf Abang tidak akan melakukan apapun yang kamu inginkan saat ini, karena aku mencintaimu sepenuh hatiku dan segenap jiwa ragaku jadi aku minta jagalah ini dan tunggu Abang sampai kembali lagi untuk melamar dan menikahi mu menjadikan kamu milikku sepenuhnya," terangnya Arsyad sambil menunjuk ke arah dadanya Tiwi.

Arsyad menyematkan sebuah cincin yang sangat cantik dan indah, cincin itu adalah peninggalan kedua orang tuanya ketika kecil, "Tiwi tolong jagalah hatimu dan semua yang ada di atas tubuhmu ini hanya milikku seorang jangan biarkan satupun orang pria yang bisa menyentuh tubuhmu ini," tutur Arsyad lalu mengecup kening calon istrinya itu.

"Aku akan menjaga semuanya milikmu ini sepenuh hati dan jiwaku dan maafkanlah aku Abang jika tadi sempat meminta hal yang sama sekali kamu tidak Abang sukai," tukasnya Tiwi.

"Andai Abang hanya mencintaimu karena tubuhmu pasti sejak dulu aku sudah meminta itu, tapi maaf aku bukan pria brengsek seperti itu," pungkasnya Arsyad di hadapan perempuan yang paling disayanginya itu.

Puk!!

Suara pukulan itu mengenai helm yang masih terpasang di atas kepalanya Arsyad.

"Hey kenapa kamu melamun!? Enggak baik cowok ganteng kayak kamu itu menghayalkan sesuatu bisa-bisa kamu kesambet penghuni perusahaan ini," candanya Hani yang tertawa terbahak-bahak melihat reaksi dari Arsyad yang wajahnya memerah menahan rasa jengkelnya itu karena apa yang sedang dipikirkannya terganggu.

Arsyad segera menetralkan perasaannya itu, "Gak apa-apa kok Mbak, gimana dengan pekerjaannya kira-kira apa saya akan diterima bekerja di perusahaan Mbak?" Tanyanya dengan penuh harap.

Hani terdiam sesaat sebelum berbicara, "Kamu insya Allah diterima karena semua kualitas dan kualifikasi yang dicari bos adalah ada sama kamu tapi kamu tetap perbanyak berdoa karena banyak pelamar pekerjaan yang berkompeten di bidangnya masing-masing,"

"Kalau gitu apa lagi yang kita tunggu kita masuk yuk Mbak supaya kita tahu apa aku diterima atau tidak dari pada liatin wajahnya Mbak yang bikin bosan lebih masuk siapa tahu banyak gadis cantik di dalam sana," candanya Arsyad sambil berlalu dari hadapannya Hani.

Arsyad sudah diterima bekerja di perusahaan tersebut dengan posisi security karena postur tubuhnya yang sangat mendukung dan menunjang bagian tersebut sehingga dengan mudahnya Arsyad diterima bekerja.

"Syukur Alhamdulillah, aku diterima juga, makasih banyak yah Mbak atas bantuannya," ujar Arsyad.

Hani tersenyum tipis," ist oke, Itu tidak masalah bagiku kamu adalah keluargaku jadi sepatutnya aku membantu kamu jadi selow saja,"

Hani meninggalkan ruangan tempat pendaftaran khusus penjaga keamanan karena berhubung sudah waktunya ia bekerja.

"Bekerjalah dengan giat dan baik jangan mempermalukan aku," ucapnya Hani sembari menepuk pundaknya Arsyad yang sudah dianggap adiknya sendiri walaupun hanya berbeda beberapa bulan dengannya.

Sudah setahun lamanya Arsyad bekerja di perusahaan tersebut sebagai team bagian keamanan. Kinerja yang diperlihatkan oleh Arsyad membuat beberapa rekan kerjanya bangga dan menyukai sistem dan cara kerjanya yang bagus dan penuh kedisiplinan tinggi.

Berarti sudah tiga tahun lebih pula Arsyad merantau di ibu kota. Dan sudah sekian lama juga ia tidak pernah mendengar kabar tentang kekasihnya dan juga pencarian kedua orang tuanya belum menemui jalan titik terang dari pencariannya.

Arsyad menatap ke arah langit," ya Allah... aku harus mencari kemana lagi Mama dan papaku karena alamat rumah yang dituliskan oleh paman sudah lama tidak dihuni bahkan sudah terbengkalai semenjak aku lahir,"

Arsyad memegang peninggalan mamanya yang diberikan untuknya. Du dalam kotak itu ada sebuah foto ibunya sewaktu masih muda dulu dan juga nama kedua orang tuanya. Sania Marwah Hamilton dan juga Papanya bernama

Bu Hanifah berlari ke arah belakang rumahnya sambil berteriak kencang mencari keberadaan suaminya itu, "Mas!" Teriaknya Ibu Hanifah.

Pak Budi Jaya yang mendengar teriakan dari istrinya itu segera menyimpan cangkul yang sedari tadi dipegangnya.

"Apa yang terjadi padamu kenapa meski harus berteriak-teriak seperti seorang Tarzan saja," ketusnya Pak Budi.

"Pak katanya orang-orang kapal yang dipakai oleh keluarga besar Pak Utomo tenggelam dan Pratiwi serta beberapa orang belum ditemukan hingga detik ini," jelasnya Bu Hanifah yang nafasnya ngos-ngosan saking kencangnya berlari dari arah pasar tradisional hingga ke rumahnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!