"Katakan saja Paman kenapa meski bersifat seperti berbicara dengan orang lain saja," candanya Arsyad yang masih sempat bercanda dengan gaya khasnya itu.
Bu Hanifah menyentuh punggung tangan suaminya itu seolah memberikan kekuatan pada suaminya untuk santai dan berfikir positif kedepannya. Arsyad segera mempercepat langkah kakinya menuju pos penjagaan.
"Kenapa perlu sungkan dan ragu untuk berbicara paman sampaikan saja sama saya jika ada yang ingin paman katakan," harapnya Arsyad yang sudah duduk di atas kursi kerjanya sambil memperhatikan cctv keamanan.
"Paman harap sama kamu jika sudah mengetahui kabar tersebut paman harap jangan banyak pikiran, menyalahkan diri kamu sendiri ataupun marah," imbuhnya Pak Budi Jaya.
"Maksudnya paman, saya sama sekali tidak mengerti dengan maksud dari ucapannya Paman kalau perlu langsung saja berbicara jujur tidak perlu main teka-teki seperti ini juga,"
Pak Budi sedikit risau dan sekaligus ragu dengan apa yang akan ia ucapkan, "Nak sabarlah dan kamu harus kuat, Pratiwi Andien Utomo mengalami kecelakaan kapal yang dipakai saat berkunjung ke pantai tenggelam tapi, sampai sekarang satupun korban belum ada yang ditemukan termasuk Tiwi Nak, kejadian sudah hampir seminggu dan kami baru tadi sore mengetahui hal itu," terangnya oak Budi Jaya yang sudah menangis dan tubuhnya bergetar hebat dalam tangisnya itu.
Bu Hanifah pun ikut bersedih dan tersedu-sedu menangisi begitu malang nasib percintaannya Arsyad.
Arsyad spontan berdiri dari duduknya dan menjatuhkan handphonenya tersebut yang sedari tadi berada di sekitar telinganya itu.
"ini tidak mungkin! Pasti ada kesalahan besar yang terjadi di kabar duka itu," ratapnya Arsyad yang sudah berlutut di atas lantai keramik ruangannya khusus untuk security.
"Halo, Nak Arsyad apa yang terjadi padamu Nak,apa kamu ada di sana?"
Pak Budi dan ibu Hanifah semakin ketakutan dan khawatir dengan kondisinya Arsyad.
Bu Hanifah mengambil hpnya Pak Budi secara paksa," Nak Arsyad bibi mohon dengarkan kami, jangan sekali-kali bertindak bodoh, yakinlah jika Tiwi dalam keadaan baik-baik saja di satu tempat dan perbanyak berdoa semoga apa yang kita harapkan dan impikan menjadi kenyataan jika kamu sedih kami juga di kampung akan merasakan kesedihan pula, kamu harus kuat Nak demi Tiwi," ujar Bu Hanifa.
Air matanya Arsyad untuk kali pertamanya tumpah dan menetes membasahi pipinya. Selama ini sudah banyak ujian dan cobaan yang mereka hadapi dalam kehidupannya tapi, untuk kali ini serasa dadanya remuk redam, hatinya hancur seketika. Harapan, cita-cita dan impiannya menjadi hancur lebur dalam sekejap mata.
"Tiwi kenapa kamu tega meninggalkan Abang sayang, maafkanlah Abang yang belum bisa pulang memenuhi janjiku, Abang mohon jangan pernah tinggalkan Abang," ratap Arsyad yang semakin terpuruk malam itu.
Keesokan harinya, Arsyad menghadap ke atasannya untuk meminta ijin untuk cuti dan akan pulang beberapa hari di kampung halamannya.
"Maaf Mbak Mery apa Pak Carrel ada di dalam ruangannya?" Tanyanya Arsyad yang nampak tidak seperti biasanya itu.
Mery menatap sekilas ke arah Arsyad yang nampak loyo dan tidak bersemangat hari itu padahal selama ini, Arsyad terkenal pegawai yang paling rajin dan bersemangat untuk bekerja setiap harinya.
"Ada,tapi tunggu aku telpon dulu, kamu duduk saja sambil nunggu Pak Carell karena kebetulan Pak menejer menerima tamu penting," terang Mery.
Arsyad hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan dari Mery lalu berjalan ke arah kursi tunggu untuk segera duduk.
Beberapa menit kemudian, pintu tinggi bercat cokelat itu terbuka dan keluarlah pak Mery dengan seorang perempuan yang sangat anggun dan cantik diusianya yang sudah terbilang tua itu. Tatapan matanya tertuju pada Arsyad yang duduk dengan tatapan matanya yang kosong dan hampa.
Perempuan itu memelankan langkah kakinya lalu menatap lekat wajahnya Arsyad," ya Allah… kenapa wajahnya mengingatkan aku pada Abdillah pria yang lebih memilih menikah dengan perempuan yang dijodohkan denganku dari pada bertanggung jawab atas perbuatannya itu,"
"Maaf Nyonya Besar Sania Marwah apa yang terjadi?" Tanyanya Nely sekretarisnya yang memperhatikan tuannya yang tiba-tiba terdiam sejenak dengan tatapan matanya tertuju pada Arsyad pria yang memakai seragam security itu.
"Saya tidak apa-apa kok hanya teringat beberapa hal saja," balasnya Bu Sania.
Mereka melanjutkan perjalanan ke arah lift khusus petinggi perusahaan.
"Aku harus cari tahu siapa anak muda yang sangat mirip dengan pria brengsek itu,apa jangan-jangan dia adalah…"
"Arsyad silahkan masuk, sudah giliran kamu bertemu dengan Pak Carell," imbuhnya Mery.
"Baik, makasih banyak Mbak,"
Setelah bertemu dengan Pak Carell, Arsyad segera pulang ke rumahnya. Sejak setengah tahun yang lalu, Arsyad mendapatkan perumahan khusus dari perusahaan untuk ia tempati selama bekerja sebagai security di Perusahaan Rich. Arsyad hidup seorang diri dalam rumahnya. Hani dan kedua orang tuanya tidak ingin menghalangi keinginannya Arsyad untuk hidup mandiri kala itu.
Arsyad segera pulang ke kampung halamannya dengan mengendarai sepeda motornya yang dibelinya khusus untuk Pratiwi yang berjanji akan mengantar Tiwi kemanapun dengan memakai motor gedenya. Tetapi,mau diapa nasi sudah menjadi bubur. Semuanya tinggal hanya rencana dan angan-angan belaka saja.
Bu Sania duduk dibalik kursi kebesarannya itu," Neli hubungi nomor hpnya Leon katakan padanya ada kerjaan penting yang harus ia kerjakan," perintahnya Bu Sania yang tidak ingin menunda lebih lama lagi untuk mencari tahu siapa anak muda tersebut.
"Siap Nyonya, perintah akan saya laksanakan sesuai dengan petunjuk Nyonya," tukasnya Neli.
Bu Sania membuka laci meja kerjanya itu dan membalik sebuah figura foto yang sudah lama dalam kondisi terbalik selalu dibalik.
"Abang kamu tega sama sekali melupakan apa yang telah kamu perbuat malam itu, apa aku sama sekali tidak berarti dalam hidupmu sehingga dengan mudahnya kamu melupakan semua kenangan kita yang begitu singkat dan kamu menikahi gadis lain," lirihnya Bu Sania seraya mengelus foto seorang pria yang pernah menaburkan benih ke dalam rahimnya sehingga ia terpaksa harus dibawa kabur ke pedesaan untuk melahirkan anaknya dalam keadaan tanpa suami.
Nyonya Sania Marwah segera memerintahkan anak buah kepercayaannya untuk segera menyelidiki siapa anak muda yang sangat mirip dengan pria yang pernah hadir dalam hidupnya. Pria yang menaruh luka yang sangat dalam di relung hatinya.
Arsyad sama sekali tidak menyangka jika akan mengalami nasib seperti ini. Kekasih hatinya perempuan yang rencananya akan ia nikahi setelah berhasil diperantauan.
Arsyad menyeka air matanya itu, tatapannya fokus kearah jalan raya yang dilaluinya itu.
"Ya Allah… selamatkan lah Pratiwi aku tak akan mungkin bisa hidup dengan normal tanpa Tiwi," laju kendaraannya melaju dengan kecepatan sedang saja.
Butuh hampir dua puluh empat jam perjalanan yang ditempuhnya dari Ibu kota Jakarta ke kampung halamannya. Sebenarnya lebih mudah ia naik pesawat tapi Arsyad lebih memilih naik motor saja. Karena ia memutuskan untuk langsung ke tempat kejadian kecelakaan tenggelamnya kapal yang dipakai oleh Pratiwi Andien Utomo dengan beberapa sahabatnya.
"Kenapa aku yakin jika Tiwi masih hidup di tempat yang sangat jauh dari sini, apa jangan-jangan Tiwi selamat dari kejadian itu tapi, kedua orang tua dan kakaknya menyembunyikan keberadaannya," gumam Arsyad sambil menepikan motornya karena ingin beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanannya yang tersisa sekitar lima belas kilo meter lagi jarak yang harus ia tempuh.
Arsyad membuka tutup botol air mineral kemasan yang baru saja dibelinya itu. Dengan satu kali tegukan saja, rasa segar langsung terasa di dalam tenggorokannya.
"Tiwi kenapa engkau tega meninggalkan Abang seorang diri,padahal aku sudah menabung uang Tiwi untuk datang segera melamar mu," cicitnya Arsyad.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments