Arsyad mengetuk-ngetuk meja kerjanya sambil memperhatikan apa yang dilakukan oleh Priska Oktaviani. Seolah dia tidak punya kerjaan yang lebih penting dari itu.
Walaupun Priska melakukan hal itu, hanya sekedar basa-basi semata dan tidak ingin dicap sombong. Lagian wajar mereka bercengkrama untuk menghilangkan rasa lelah mereka.
"Pratiwi aku yakin dengan sangat itu kamu, dari tatapan matamu itu membuktikan kalau kamu adalah Pratiwi Andien Utomo calon Istriku pendamping hidupku di masa depan,"
"Neli tolong perintahkan Priska Oktaviani dibagian officer girl untuk segera menghadap ke ruanganku," perintahnya Arsyad.
"Baik Pak," jawabnya Nely Alfian.
"Sepertinya mengerjai dia kali ini bagus juga mumpung lagi time break untuk meredakan rasa lelahku," cicitnya Arsyad Shafiyyur Rahmany.
Berselang beberapa menit kemudian, pintu ruangannya diketuk seseorang dari luar.
"Masuk!" Teriaknya dari dalam ketika ia sudah menekan kunci otomatis buka dari pintu masuk ruangannya.
Nely segera pergi setelah Priska sudah di dalam ruangan tersebut. Tapi, Nely sempet membisikkan kata-kata ke telinganya Priska.
"Pris jangan buat atasan kita marah yah, kalau perlu turuti semua keinginannya agar kita semua selamat dari kemarahannya," bisiknya Neli Alfin sebelum meninggalkan ruangan itu bersama Arsyad dan Priska hanya berdua saja.
Arsyad menatap dalam dan lekat wajahnya Priska yang mulai menundukkan kepalanya itu.
"Jika berada di sekitarku, aku minta jangan sekali-kali tundukkan pandanganmu ke arah bawah karena aku tidak berada di bawahmu sekarang,"
Priska refleks mengangkat kepalanya ke arah atas. Arsyad yang melihat hal itu langsung tersenyum.
"Gadis yang patuh, gitu seharusnya yang kamu lakukan jika kita berdua saja, karena aku ingin melihat terus kecantikan wajahmu,"
Priska terkejut dengan semua perkataan yang dikatakan oleh Arsyad. Priska duduk dengan tenang dan anteng, sedangkan Arsyad mulai kembali mengerjakan pekerjaannya dengan serius tanpa berucap sepatah katapun lagi.
"Ya Allah… kenapa aku merasa suasana seperti ini pernah aku rasakan sebelumnya, perasaan dejavu seperti ini entah kapan itu terjadi, aku melihat wajahnya yang tenang, teduh dan tak bisa tergambarkan tentang apa yang dia rasakan mampu membuatku tenggelam dalam perasaan yang sulit untuk aku ungkapkan," bathin Priska yang memegang dadanya itu.
Hingga berselang beberapa menit kemudian, mereka masih seperti itu dalam keadaan yang terdiam tanpa ada yang membuka suaranya untuk berbicara. Sedangkan Arsyad sesekali memperhatikan Priska yang terdiam mematung.
"Pris, tolong buatkan aku minuman," perintahnya Arsyad
Priska yang mendengar perintah dari bosnya itu segera berdiri dari duduknya. Dia ingin berjalan ke arah luar tepatnya di pantry perusahaan.
"Kamu mau ke mana?" Tanyanya Arsyad.
"Katanya tadi Bapak mau dibuatkan minuman, jadi pasti aku akan ke pantry kecuali dalam sinie ada dapurnya jadi, aku tidak perlu repot-repot untuk berjalan ke arah luar, ensngny di dalam sini ada dapurnya? Sehingga Bapak menghentikan langkahku?"
Arsyad tersenyum selalu menampilkan senyumannya apabila akan berbicara dengan Priska Oktaviani atau Pratiwi Andien yang selalu ia lakukan seperti dulu jika sedang berduaan saja.
"Tepat sekali apa yang kamu katakan, kamu berjalan ke arah kiri dan putar guci itu maka dapurnya akan kelihatan," sarannya Arsyad.
Priska tidak mau menunda lagi, ia segera melakukan apa yang diintruksikan oleh Arsyad tanpa ragu dan banyak pikiran. Lemari baca itu terbelah dan terlihatlah dapur mini yang sangat elegan, bersih dan tertata rapi serta fasilitasnya lengkap.
Priska kembali berhenti untuk meneruskan perjalanannya," maaf Bapak ingin minum apa?"
"Apa saja yang penting tanganmu sendiri yang membuatnya," tukas Arsyad tanpa memindahkan pandangannya dari berkas yang sejak tadi ia bolak balik baca.
Priska berjalan masuk ke dapur, bukannya langsung menjalankan perintah bos-nya tapi,ia sempatkan waktu untuk mengangumi kemegahan dapur minimalis itu.
"Ya Allah… Masya Allah cantiknya, kalau orang kaya apa pun bisa mereka lakukan," cicitnya Priska.
Arsyad diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh Priska. Ia tersenyum melihat tingkah lakunya Priska.
"Aku ingin melihat entah minuman apa yang akan kamu buat, apa masih mengingat kesukaan aku apa tidak," bathin nya Arsyad Shafiyyur Rahmany Yordan.
Priska membuat minuman sesuai dengan apa yang ada di dalam pikirannya, ia tidak bertanya sedikitpun karena hasilnya akan sama, tidak mendapatkan petunjuk ataupun jawaban apapun itu.
Priska membawa nampan yang berisi segelas minuman hangat yang masih mengeluarkan kepulan asap dan stoples biskuit. Ia segera menaruh meminum itu di hadapan Arsyad di tempat yang cukup aman terhindar dari tumpukan berkas.
"Silahkan Pak, diminum semoga suka dengan apa yang aku buat," tuturnya Priska.
"Makasih banyak sudah membuatkan minuman semoga saja aku suka, jika aku menyukai minuman yang kamu buat aku akan memberikan bonus besar untuk kamu khusus bulan ini,"
Apa yang dijelaskan oleh Arsyad barusan membuat hatinya Priska bahagia. Mimik wajahnya langsung bersinar cerah.
"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu Pak karena sejujurnya aku sangat butuh uang untuk biaya operasi ibuku di kampung," terangnya Priska yang memang selalu terbuka dan tidak menutupi kebahagiaannya pada siapapun itu.
Arsyad terenyuh melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya perempuan yang sangat ia cintai itu.
"Berdoalah semoga kamu bisa mendapatkannya dan hasilnya akan ketahuan jika aku sudah merasakan minuman keras ni," pungkasnya Arsyad.
"Amin… semoga saja Bapak suka."
Arsyad mulai menyentuh gelas itu dan betapa terkejutnya melihat minuman dalam cangkir itu. Semua seperti dulu, minuman yang selalu ia buat untuk Arsyad jika bertemu dengannya di rumah pamannya pak Budi Jaya. Arsyad tanpa ragu sedikitpun menyeruput teh itu hingga tandas.
"Rasanya pas, panasnya juga tidak berlebih-lebihan, aromanya wangi sekali," pujinya Arsyad setelah menghabiskan teh tersebut.
Priska yang raut wajahnya tadi nampak tegang, takut, cemas sekarang tergantikan setelah mendengar berbagai pujian yang diucapkan oleh Arsyad untuk minuman yang berhasil ia buat sesuai dengan feelingnya saja.
"Aku tidak salah lagi kalau dia adalah Pratiwiku, dia adalah calon istriku karena hanya Tiwi yang mengetahui kebiasaan yang sering dilakukan olehku, bibi Hanifah saja tidak tahu," Arsyad membatin sambil mencicipi biskuit cokelat itu.
"Jadi gimana hasilnya Pak, apa aku bisa mendapatkan bonus seperti yang Bapak janjikan sebelumnya?"
"Tidak masalah, kamu dapat bonus tambahan bulan ini dan aku masih punya tugas untukmu jika, besok pagi kamu buatkan aku makanan yang aku suka aku akan menambahkan lagi bonusmu itu gimana, apa kamu setuju?" Arsyad kembali melanjutkan menyeruput tehnya yang hampir dingin itu.
Mendengar perkataan dari atasannya itu Arsyila sangat bahagia, karena diiming-imingi hadiah yang sangat banyak. Kedua bola matanya bersinar terang sebening embun pagi secerah mentari.
"Ya Allah… kalau seperti ini terus aku bisa membayar lunas hutang bapak dan ibu sehingga aku tidak perlu menikah dengan anaknya juragan," cicit Arsyla.
"Kalau gitu kembalilah bekerja besok pagi sebelum aku datang makanan yang aku pesan sama kamu harus ada di atas meja kerjaku," ujar Arsyad sambil memangku dagunya itu.
"Baik Pak!" Teriaknya Priska yang sangat bahagia hingga kobaran semangatnya diperlihatkan oleh Priska di depan matanya Arsyad dengan menggenggam tangannya di depan dadanya.
Arsyad tersenyum bahagia melihat apa yang sedang dilakukan oleh Priska. Priska segera berjalan ke arah luar untuk kembali melanjutkan pekerjaannya untuk membersihkan seluruh ruangan yang tertunda karena, pemanggilannya atas dirinya oleh CEO perusahaannya.
Sedangkan di tempat lain, Arsyila sudah bersiap untuk pulang, setelah beberapa jam berbincang santai dengan Arimbi sahabat lamanya sejak masih berseragam putih abu-abu. Tetapi, ia melihat ada dua anak kecil yang duduk merenung dan sesekali menatap ke arah jalan.
"Itukan Nanda, Ninda apa yang mereka lakukan sedangkan temannya yang lain sudah pulang dijemput oleh keluarganya masing-masing,"
Arsyla berjalan ke arah kedua anak kembar itu dengan senyuman lebarnya.
"Hey, kok masih anteng bermain di sini! Apa kalian tidak mau pulang ketemu ayah dan ibu kalian?" Tanyanya Arsyla yang sudah ikut duduk di sampingnya Ninda.
"Eh ada Aunty cantik," teriak keduanya yang sangat senang bisa bertemu lagi dengan Arsyla.
"Ayah ke luar daerah Aunty, kalau Mama pergi katanya tidak akan pernah pulang lagi," ujarnya Nanda yang tiba-tiba terdiam sejenak dan air matanya menetes membasahi pipinya.
Arsyla reflek memeluk tubuh kedua anak itu" sabar yah sayang, kalau gitu aunty cantik yang akan antar kalian pulang, tapi harus stop nangis yah."
"Hore!! Aunty cantik emang baik," jerit keduanya yang sangat bahagia yang sebelum berwajah murung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments