Bab. 15

Priska berjalan dengan bibirnya monyong karena akan mengantarkan pesanan Arsyad yang ketiga kalinya selama Arsyad datang ke tempat kerjanya.

"Apa yang dikatakan oleh bapak dan ibu benar sekali, tapi kalau harus hari-hari datang itu kan sama saja akan mengganggu konsentrasi kerjaku," umpatnya Priska yang memonyongkan bibirnya sambil membuat minuman dan makanan yang kembali dipesan oleh Arsyad.

"Maaf Pak mungkin ini pesanan terakhir bapak karena kami akan tutup sudah jam pulang kami," imbuhnya Priska seraya menata satu persatu gelas dan piring sekali pakai itu di depannya Arsyad Shafiyyur Rahamny Yordan.

Arsyad yang sedang memainkan hpnya itu segera mengalihkan perhatiannya dari video yang berhasil diambilnya melalui hpnya kegiatan yang dilakukan oleh Priska malam itu.

"Ohh maaf kalau seperti itu karena, saya baru ke sini jadinya enggak tahu, saya pikir ini kedai bukanya dua puluh empat jam," jawabnya Arsyad yang sama sekali merasa tidak bersalah karena sedari tadi seolah mengulur waktu kepulangan ketiga pemilik angkringan itu.

"Besok-besok kalau Anda datang lagi, tolong pakai jam Pak biar sadar waktu kalau warung kami buka dari jam lima sore hingga jam dua belas malam, sedangkan sekarang sudah jam satu lewat," sarkasnya Priska.

"Baik Mbak cantik, makasih banyak atas masukannya kalau begitu," tampiknya Arsyad lalu berdiri dengan membawa piring makanan dan gelas minumannya dengan seulas senyuman termanisnya ke arahnya Priska.

Apa yang dilakukan oleh Arsyad mampu membuat detak jantungnya Priska tiba-tiba berdetak kencang wajahnya merona memerah saking malunya melihat senyuman yang jarang sekali pria itu perlihatkan di area perusahaan.

Priska reflek memegang tubuh bagian dadanya," apa yang terjadi padaku? Kenapa hanya melihat senyumannya Pak Arsyad aku seperti ini, aku sangat bahagia seolah senyuman itu sudah lama aku rindukan sedangkan dengan Mas Hafid Fuad sama sekali aku tidak pernah berdebar hebat seperti sekarang ini padahal kami akan menikah tahun depan," bathin nya Priska yang tatapan matanya terus tertuju pada Arsyad yang berjalan ke arah mobil sportnya.

"Hey Pak andai saja anak muda itu besok datang lagi ini suatu rezeki nomplok untuk kita karena,seolah seperti magnet kedatangannya yang menarik kebanyakan pembeli perempuan,benar tidak apa yang saya katakan Pak?" Ujar Bu Haja Midah.

"Benar sekali apa yang kamu katakan Mas, kita berdoa saja semoga ia besok datang kembali," timpal Pak Haji Mudin.

Apa yang dikatakan oleh kedua pasangan suami istri itu membuat Priska merasa nano nano, karena ada sisi lain dalam hatinya yang menginginkan doa bosnya itu terkabul sedang logikanya berkata ia merasa jengkel karena terus diperhatikan oleh pria itu sehingga pekerjaan dan aktifitasnya terganggu.

Keesokan harinya, Vero mengabarkan jika apa ia sedang berada di pulau S sedang mengamati dan menyelidiki langsung tentang Priska. Walaupun bukti yang dia dapatkan sudah seratus persen akurat kalau Priska adalah Pratiwi Andien yang mengalami kecelakaan maut ketika berlayar di pantai.

Vero Ardian Mohede melakukan hal tersebut, karena aku mengetahui jika Priska akan menikah dalam waktu dekat ini. Alasan kuat itu lah yang menjadi dasar kepergian Vero ke Pulau S.

Sebelum keberangkatannya, Vero menyempatkan diri untuk mampir ke rumahnya Arsyad untuk membawa beberapa berkas penting hasil pencariannya dua hari itu. Bel berbunyi pintu rumahnya Arsyad berbunyi berulang kali.

Ting tong…

"Pagi-pagi gini siapa sih yang datang bertamu? Para pelayan juga kemana kenapa nggak ada yang bukain pintu kan jadi berisik ujung-ujungnya!" Ketusnya Arsyla yang segera menyelesaikan acara sarapannya di pagi itu.

Arsyla sangat kesal karena ia sedang makan tapi, gara-gara ada tamu yang datang sehingga kegiatannya terusik.

Arsyla memutar kenop pintunya dengan sekuat tenaga sedangkan mulutnya masih komat kamit saking jengkelnya, "Kenapa juga ini orang gak berhenti tekan belnya, apa perlu dicerama-hi," ucapannya terhenti ketika melihat seorang pria yang tidak dikenalnya berdiri tegak di depannya.

Arsyla sedikit mendongak ke atas karena tinggi badan mereka cukup berbeda. Walaupun body Arsyla tinggi semampai tapi, masih membuatnya harus mendongak.

"Assalamualaikum maaf menggangu kenyamanannya Mbak," ujarnya Vero.

Arsyla salah tingkah karena, tiba-tiba terdiam sejenak meresapi menatap dan memandangi wajah dari pria yang cukup ganteng itu yang mampu membuat hati Arsyla adem dari emosinya.

"Waalaikum salam Pak,maaf ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya dengan penuh keramahan.

Apa yang dialami oleh Arsyla tak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada Vero. Ia terpana dan terpesona melihat raut wajahnya Arsyla Ardila Daud Yordan itu.

Arsyla menggoyangkan telapak tangannya di hadapan Vero," maaf Pak Anda cari siapa yah?" Tanyanya Arsyla lagi.

"Ehh maaf, ini ada barang milik Pak Arsyad, tolong berikan padanya katakan saja ini sangat penting dari saya Vero Ardian Mohede," jelas Vero yang malu karena kedapatan melamun memikirkan raut wajah gadis yang membuatnya berseri pada pandangan pertama.

Arsyla meraih beberapa map itu dengan senyuman termanisnya," siap Pak saya akan sampaikan pada Abang Arsyad amanahnya, tapi maaf Pak Abang sudah berangkat kerja baru saja mungkin sekitar lima belas menit yang lalu," tuturnya Arsyla yang tersenyum manis juga.

"Makasih banyak Mbak,kalau gitu saya pamit dulu semoga lain waktu kita bisa bertemu kembali lagi," tutur Vero lalu berjalan cepat meninggalkan Arsyla yang kebingungan dengan ucapan terakhirnya Vero.

Arsyla segera menutup pintu rumahnya kemudian bersandar di pintu itu dengan debaran jantungnya yang memompa begitu cepatnya.

"Apa yang terjadi pada jantungku? Kenapa aku merasa salah tingkah dan grogi jika Pak Vero menatapku?"

Sedangkan Vero buru-buru menyetir mobilnya karena, tidak sanggup untuk melihat wajah manisnya Arsyla yang membuatnya bahagia.

Vero memegangi dadanya," apa ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama, aku sudah menikah dengan Vina tapi, perasaan seperti ini sama sekali belum pernah aku rasakan." Vero menyadarkan kepalanya ke setir mobilnya itu.

Arsyla diam-diam membuka tirai gorden jendela rumahnya itu lalu celingak-celinguk mencari keberadaan Vero.

"Dia sudah pergi rupanya, semoga kita masih dipertemukan lagi diwaktu dan tempat yang indah," gumamnya Arsyla dengan senyuman indahnya yang merekah seperti kelopak bunga mawar yang merekah di pagi hari itu.

Apa yang terjadi pada Arsyla ternyata diam-diam diperhatikan oleh Nyonya Sania Marwah.

"Ada yang sudah jatuh cinta rupanya, tapi kalau gak salah pria itu kan sahabatnya Arsyad ketika berada di Amerika Serikat, semoga kamu segera menemukan jodoh terbaikmu Nak pria yang sangat benar-benar mencintaimu setulus hatinya cukup Mama yang menderita karena cinta yang bertepuk sebelah tangan,"

Bagi Like, Komentar, gift iklan,poin dan koinnya dong kakak readers...

Makasih banyak...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!