Setelah hari itu, Arsyad tidak pernah lagi bertemu dengan Pratiwi. Seolah hubungan mereka sudah terputus begitu saja tanpa ada kata dan pertemuan perpisahan dari keduanya.
Satu bulan kemudian, Bu Hanifah melihat keponakannya itu sedang mengemas barang-barang pakaiannya ke dalam tas punggung yang akan akan dipakainya itu.
"Arsyad maafkan bibi yang tidak sanggup untuk membantu kamu Nak untuk memenuhi permintaan Pak Lukman," ujarnya Bu Hanifah sambil duduk di ujung ranjangnya Arsyad.
Arsyad menolehkan kepalanya ke arahnya Bu Hanifah seraya menggenggam tangan yang mulai kelihatan keriputnya itu.
Arsyad berusaha untuk kuat dan tersenyum di hadapan bibinya perempuan yang sudah berjasa membesarkannya hingga sampai seperti sekarang, "Ini semua bukan salahnya siapa-siapa kok Bi, ini sudah menjadi takdir dan jalan hidup kami berdua yang mau tidak mau kami harus lalui dengan penuh kesabaran dan keikhlasan semoga kepergian ku ke ibu kota membawa kebaikan untuk hubungan kami," imbuhnya Arsyad dengan senyuman yang berusaha setulus mungkin ia tunjukkan di hadapan bibinya itu.
"Bibi dan pamanmu hanya berdoa yang terbaik untuk kalian berdua, tapi ingat Nak pesannya bibi walau dalam keadaan apapun yang menghimpit kehidupan kamu, Bibi mohon jangan sekali-kali berani dan mencoba untuk berbuat hal yang tidak baik sedikitpun itu," pintanya Bu Hanifah yang memohon kepada keponakannya itu.
Pasangan Pak Budi Jaya dan Bu Hanifah sampai detik ini belum dikaruniai seorang anak, untungnya kehadiran Arsyad di tengah-tengah keluarga mereka menjadi pelipur laranya. Hingga hari ini, Arsyad bertekad untuk ke ibu kota Jakarta mencari pekerjaan dan juga mencari keberadaan kedua orang tuanya itu.
Pak Budi Jaya masuk kedalam kamar Arsyad dengan membawa sebuah kotak dan sebuah map besar berwarna cokelat.
"Arsyad tolong bawa ini Nak, Paman yakin insya Allah kedua benda ini sangat berguna untuk kamu kelak," jelasnya Pak Budi Jaya.
Arsyad segera menghentikan kegiatannya sementara waktu,lalu meraih kedua barang penting miliknya sejak kecil.
"Ini apa Paman?" Tanyanya Arsyad dengan penuh selidik sambil membolak-balik keduanya.
"Bukalah supaya kamu bisa tahu apa isi dari map ini," pinta Pak Budi yang tersenyum tipis.
Arsyad awalnya agak ragu dan bimbang untuk membuka semua benda penting tersebut satu persatu.
Bu Hanifah menyentuh punggung tangan Arsyad," bukalah Nak, semoga benda ini bermanfaat untuk kehidupan kamu kelak dan pergunakan sebaiknya,"
Arsyad tanpa ragu lagi membuka kotak persegi empat yang lebih mirip dengan kubus. Tatapan matanya yang langsung berbinar terang melihat sebuah perhiasan emas yaitu sebuah cincin dan liontin emas yang bertahtakan permata rubi.
Arsyad menatap satu persatu anggota keluarganya yang dimilikinya saat itu," Paman maaf ini cincin siapa dan juga kalung siapa?"
Pak Budi berdehem sebelum membuka suaranya itu," ini semua peninggalan mamamu sebelum pergi dari sini setelah berhasil melahirkan kamu dengan selamat ke dunia ini."
Arsyad sangat terkejut mendengar penuturan dari pamannya itu karena,selama ini dia mengira jika dia adalah anak yatim piatu yang dirawat oleh paman dan bibinya tersebut.
"Paman saya mohon perjelas dengan baik karena saya sama sekali tidak mengerti dengan semua ini," kilahnya Arsyad pemuda yang baru berusia dua puluh tahun itu yang sudah berani dan nekat melamar pujaan hatinya walau pun mendapat penolakan mentah-mentah dan perlakuan kasar dari keluarga kekasihnya itu.
Pak Budi menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan cukup keras sembari menatap ke arah istrinya berada.
Pak Budi pun mulai berbicara tentang masa lalunya yang berkaitan langsung dengan Arsyad," Sekitar kurang lebih dua puluh tahun lalu,kami bekerja di salah satu rumah orang terkaya di Jakarta,kami bekerja di sana sudah hampir sepuluh tahun lamanya, tapi suatu kejadian memaksa kami pulang dari sana dan kembali ke desa bersama dengan Nona Muda dari majikan kami yang saat itu dalam keadaan hamil tanpa suami karena anak majikan kami itu terjebak dalam situasi yang mencintai pria yang sudah beristri dengan berat hati, kami pulang malam itu dalam kondisi hujan badai kala itu dan hanya butuh waktu sekitar tujuh bulan Nona kami mengandung dan berhasil kamu dilahirkan ke dunia ini dengan selamat tanpa kekurangan apapun dan dalam keadaan sehat dan montok, hanya satu minggu kamu dilahirkan Nona Muda pergi dari sini dan meninggalkan kotak dan map ini sebelum beliau pergi ia menyampaikan kepada kami jika kamu kelak dewasa carilah kedua orang tuamu Nak," terang Oak Budi sambil menyeka air matanya menetes membasahi pipinya itu.
Bu Hanifah sesekali mengelus punggung suaminya untuk memberikan kekuatan kepada Pak Budi untuk melanjutkan penjelasannya saat itu. Arsyad tidak menyangka jika dirinya adalah anak dari keluarga yang berada.
"Tapi, mungkin saja semuanya sudah berubah Paman karena sudah dua puluh tahun lamanya kejadian ini terjadi, tapi saya berharap masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan mereka," harapnya Arsyad yang sangat berharap hal itu menjadi kenyataan dalam hidupnya.
"Kami berdua selalu berdoa untuk kebaikan kamu nak dan semoga kamu segera bertemu dengan kedua orang tua kandungmu," jelas Bu Hanifah.
"Amin ya rabbal alamin," ujarnya mereka serentak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Titin kharisma
hanya kedua orang tua angkatnya tapi sangat perhatian
2023-02-03
1