"Sudah aah candanya ini masakan Mama khusus untuk kalian berdua opor ayam spesial made in tangannya Mama sendiri loh," tuturnya H Sania yang sedari tadi menyajikan makanan di atas meja makan sebelum mereka akan kembali ke Indonesia Jakarta.
Arsyad dan Arsyla segera berjalan ke arah dapur tepatnya di meja makan. Bu Sania segera menaruh makanan ke atas piringnya satu persatu untuk anaknya itu.
Hari kepulangan anak sulungnya Bu Sarah Daud Yordan sudah tersiar hingga ke beberapa pasang telinga tak terkecuali dengan para karyawan dari semua divisi dan bidang. Seperti ramainya di dalam suatu ruangan yang selalu dipakai untuk tempat beristirahat para officer boys dan girl.
"Hey! Apa kalian sudah dengar informasi jika putra tunggalnya Nyonya Sarah akan datang ke perusahaan kita hari ini engga" tanyanya Nila yang sedang duduk di depan kotak bekal makanannya.
Doni segera menimpali perkataan dari Nila" aku juga dengar sih katanya anak bungsunya juga akan balik ke Jakarta setelah sekian lama tinggal di Amerika serikat,"
"Woooo berarti kalau seperti itu setiap hari kita bisa cuci mata dong,iya gak sih apa lagi pas capek, lelah bekerja seharian disuguhkan dengan pemandangan wajah bening pasti akan membuat rasa lelah itu hilang dalam sekejap mata," imbuhnya Nia.
Sedangkan ada satu perempuan yang hanya duduk manis dengan menyantap makanannya penuh hikmat tanpa perduli dengan bahan obrolan dari beberapa rekan teman kerjanya itu.
"Kamu sedari dulu kalau masalah cowok bening pasti akan selalu tampil di depan walaupun cowoknya tidak pernah menganggap kamu ada," sarkasnya Dion.
Mereka semua tertawa mendengar candaan dari Dion sembari menikmati santap malam siang mereka.
"Priska kamu hari ini ditugaskan sama Ibu Nana dilantai lima belas kan?" Tanyanya Nia.
Priska yang ditanya oleh temannya itu segera menghentikan kunyahan makanannya sesaat kemudian," iya, emang kenapa Mbak?" Tanyanya balik Priska.
"Kalau enggak salah itu kan lantai tempat dimana para petinggi perusahaan berada," celetuknya Nila.
"Emangnya kenapa?' tanyanya polos Priska.
"Ya Allah… Priska kamu itu punya kesempatan dan peluang besar untuk bertemu dengan CEO baru kita loh sedangkan kami hanya bisa berharap dan berdoa agar bisa memandang langsung wajahnya yang ganteng itu," ucapnya Nia dengan hebohnya.
"Oh gitu yah," jawabnya Priska yang sama sekali tidak tertarik dengan hal tersebut.
"Ini anak masih normal kah? Kita heboh dengan berita tersebut sedangkan dia hanya diam saja," ketusnya Nia.
Priska yang mendengar perkataan dari Nia hanya tersenyum tipis menanggapi hal tersebut.
"Hush kamu sembarang saja ngomongnya, wajarlah dia bersikap seperti itu karena Priska sudah punya tunangan di kampungnya dan katanya akan menikah tidak lama lagi," jelasnya Nila.
"Ohh pantesan Priska masa bodoh saja, karena begitu yah alasannya," pungkasnya Nia lagi.
Mereka kembali melanjutkan pekerjaannya mereka seperti biasanya. Priska berjalan di lorong sambil menenteng ember serta beberapa perlengkapan membersihkannya.
Priska seperti biasa mengerjakan pekerjaannya dengan tekun dan rajin serta ulet tanpa pernah mendengar dia mengeluh ataupun atasannya mengeluh dengan hasil pekerjaannya itu.
"Ini ruangan terakhir hari ini sebelum pulang rebahan di atas kasurku,kasurku tunggu aku yah," gumamnya Priska sambil memutar kenop pintu ruangan yang dikiranya kosong.
Priska berjalan ke arah dalam ruangan itu hingga sudut ekor matanya melihat sebuah foto yang cukup lumayan besar di pasang di dinding. Desiran aneh tiba-tiba muncul di dalam hatinya, jantungnya berdebar kencang dan ada perasaan aneh yang muncul seketika di dalam hatinya itu.
"Ya Allah… kenapa aku melihat foto pria ini seolah aku pernah bertemu sebelumnya," batinnya Priska hingga deheman seseorang mampu menghentikan kegiatannya mengagumi sosok pria yang cukup tampan yang berkarisma.
"Hem!"
Karena Priska yang terkejut sehingga tanpa sengaja ia mengangkat tinggi-tinggi ember yang sudah Ia isi air dan juga sabun tepat di hadapan wajahnya pria itu. Priska melakukan hal itu, karena dibuat terkejut mendengar suara seseorang yang ia anggap dan kira tidak ada satupun orang dalam ruangan itu.
Byur… biyiur…
Suara air mengenai tubuh pria yang berada di depannya itu. Priska berdiri kaku dan mematung saking takutnya hingga tubuhnya menggigil gemetaran.
"Priska! Lancang sekali kamu bertindak seperti itu pada CEO kita, apa kamu sudah bosan bekerja di sini?" Bentaknya Pak Diki Alvian Dharmawan menejer personalia yang sangat mengenal Priska karena sempat tertarik pertama kali melihat Priska datang ke perusahaan tersebut.
Beberapa orang yang berjalan bersama dengan Arsyad segera membantu Arsyad untuk membersihkan tumpahan air itu. Kebetulan hari itu,ada sekitar lima orang yang berada di dalam ruangan itu yang sedang rapat terbatas.
"Apa Tuan Muda baik-baik saja?" Tanyanya Nely yang segera memeriksa kondisinya Arsyad.
Arsyad belum melihat dengan jelas wajahnya Priska yang ketakutan dan cemas jika dirinya akan dipecat karena sudah melakukan kesalahan besar.
Arsyad mengayunkan tangannya ke arah bawahannya itu," tidak apa-apa tidak perlu heboh seperti itu juga ini cuma air dingin biasa bukan air panas yang mendidih kok," sanggahan Arsyad karena kasihan melihat og berhijab itu yang sudah meneteskan air matanya saking takutnya.
"Tapi Tuan Muda,"
"Saya tidak menerima kata tapi, kalau begitu kalian semua bubar dan pulanglah ke kantor kalian masing-masing karena aku ingin membersihkan seluruh tubuhku dulu, Nely apa pakaian kerja cadangan sudah kau siapkan untukku di dalam?" Tanyanya seraya membersihkan percikan air ditubuhnya itu.
Yang lainnya sudah bubar sedangkan Neli masih berdiri di sampingnya Arsyad.
"Semua pakaian dan yang lainnya sesuai dengan perintah Tuan Muda saya sudah atur semuanya," imbuh Nely.
"Kalau gitu keluarlah dari sini," pintanya Arsyad.
Nely dan Priska berjalan beriringan ke arah pintu tapi, tiba-tiba langkah kaki mereka berdua terhenti setelah mendengar intruksi dari Arsyad lagi.
"Kamu gadis og jangan pergi dulu setelah mengotori ruanganku kamu dengan seenaknya ingin pergi begitu saja,Nely silahkan lanjutkan perjalananmu," aura dingin mulai menyeruak di sekitar kantor tersebut.
Neli menatap iba ke arah Priska," ya Allah… semoga saja gadis itu selamat dari amukan Tuan Muda Arsyad kasihan juga dengan nasibnya."
Arsyad segera berjalan ke arah dalam ruangan khusus yang diperuntukkan khusus untuknya, jika sewaktu-waktu butuh istirahat sehingga ia merancang khusus ruangan itu seperti rumahnya sendiri.
Priska buru-buru membersihkan bekas kekacauan yang diciptakan oleh ulah dan kelakuannya sendiri. Dia tidak banyak mengeluh atau pun protes. Dengan penuh kehati-hatian ia menyelesaikan pekerjaannya itu dengan cepat, agar tidak mendapatkan sanksi ataupun teguran dari hasil pekerjaannya.
"Alhamdulillah akhirnya selesai juga," gumamnya sambil menyeka keringat yang mengucur membasahi pipinya dan sekujur tubuhnya itu.
Apa yang dilakukan oleh Priska dilihat secara langsung oleh kedua pasang matanya Arsyad Shafiyyur Rahmany Yordan. Kedua matanya membelalak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sendiri. Ars berulang-ulang mengucek matanya agar apa yang dilihatnya itu tidak salah.
Arsyad kemudian mempercepat langkahnya menuju Priska yang berdiri tegak sambil mengipas-ngipas wajahnya yang merasakan gerah. Arsyad menarik kuat tubuhnya Priska ke dalam dekapan hangatnya pelukannya itu.
"Pratiwi Andien!" Cicitnya Arsyad.
Priska yang dipeluk tanpa aba-aba hanya melongok tak percaya dan tidak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya seolah terkunci rapat sehingga ia tidak bisa bergerak. Ke-dua tangannya Priska hanya menggantung dan semakin dibuat kebingungan dengan situasi yang terjadi sedikitpun.
Air matanya Arsyad menetes membasahi pipinya saking tidak percayanya setelah hampir kurang lebih lima tahun lebih berpisah akhirnya kembali dipertemukan dalam situasi yang berbeda pula.
Bagi Like, Komentar, gift iklan,poin dan koinnya dong kakak readers...
Makasih banyak...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Fahira Febrina
next lah kakak authornya
2023-02-15
0