Bab. 20.

Betapa bahagianya Arsyad Shafiyyur Rahmany Jordan setelah mendengar langsung perkataan dari sahabat sekaligus detektif swasta yang ia ditugaskan untuk mencari tahu siapa Priska Oktaviani itu.

Mereka segera memutuskan sambungan teleponnya. Arsyad berjalan ke arah luar untuk menemui Leny karena, akan bertemu dengan kliennya di salah satu hotel bintang lima.

Sedangkan Vero mulai berselancar di dunia maya untuk mencari fb, Twitter, Instagram dan juga pastinya nomor hpnya Arsyla gadis cantik, anggun dan manis itu yang sudah membuat hatinya bergetar pada pandangan pertama.

"Syukur Alhamdulillah… makasih banyak aku sudah mendapatkan informasi penting itu, semoga saja Vero Roland Juno bisa secepatnya menyelesaikan pekerjaannya untuk bernegosiasi dengan juragan beras itu dan membawa ke Jakarta berobat orang yang sudah membantu menyelamatkan gadisku dan yang harus aku lakukan adalah membuat Tiwi untuk segera mengingat kenangan masa lalu kami yang dia lupakan," gumamnya Arsyad.

Arsyad meraih jasnya yang ia letakkan di tempat khusus penyimpanan jas pakainya di sudut ruangan kantor pribadinya.

Arsyad melirik sekilas ke arah jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kirinya itu," sudah jam delapan malam rupanya, aku yakin Tiwi sudah berada di angkringan untuk membantu Haji Muhidin dan istrinya Bu Haha Siti Maimunah,"

Langkah kakinya cukup panjang dan lebar terus berjalan ke arah lift khusus petinggi perusahaan yang hanya diperuntukkan untuk dirinya dan mamanya Bu Sarah atau Nyonya Tsania Marwah Daud Jordan. Lift itu cukup rahasia dan tersembunyi, hanya orang penting saja yang mengetahuinya karena pintu keluar masuknya terletak di dalam ruangannya.

Senyuman manis sedari tadi menghiasi wajahnya saking bahagianya, karena akan bertemu dengan kekasihnya itu.

"Tiwi semoga penyakitmu segera sembuh dan kita bisa berkumpul lagi seperti dulu aku sudah mempersiapkan segalanya untuk datang melamar kamu,"

Sedangkan jauh dari tempat keberadaan Arsyad, Priska Oktaviani sedang sibuk-sibuknya mengantar beberapa pesanan dari pengunjung gerai makanan dan minuman siap sajinya itu.

"Mbak apa pria yang sering duduk di sana belum datang yah?" Tanyanya salah seorang pelanggan setianya yang kemungkinan besarnya adalah seumuran dengannya.

Priska segera mengarahkan pandangannya ke arah tempat bangku kosong yang ditunjuk oleh perempuan itu.

"Pria?" Beonya Priska.

"Masa sih nggak tahu Mbak, itu cowok yang paling ganteng yang pernah datang kesini dan selalu duduk di pojokan sono, dia sudah tiga kali sepertinya aku lihat," jelasnya Mbak yang mengikat rambutnya itu.

Priska berpikir sejenak dan berusaha untuk mengingat siapa orang yang dimaksud oleh perempuan yang di depannya. Hingga beberapa gadis histeris melihat kedatangan seseorang yang sejak tadi menjadi bahan pembicaraan beberapa perempuan yang sengaja datang ke sana selain untuk makan dan minum, mereka selalu cuci mata dengan tampan wajah yang selalu fresh dalam keadaan apapun yang membuat dia digandrungi oleh banyak anak gadis remaja.

Wajah yang mirip orang bule dengan mata yang agak sipit seperti orang Korea Selatan dengan tubuh yang cukup tinggi dan jangkung. Pesona yang dimilikinya itu, yang membuat Arsyad menjadi daya tarik tersendiri untuk sengaja meluangkan waktu untuk nongkrong di angkringan Pak Haji Mudin.

"Mbak tidak perlu menjawab semua pertanyaan kami, karena orangnya sudah datang kok, itu dia," kilahnya perempuan yang memakai sweater abu-abu itu sembari menunjuk ke arah kedatangan Arsyad yang berjalan tanpa memperlihatkan senyumannya yang sungguh mahal dan sulit untuk ia perlihatkan.

Priska mengikuti apa yang ditunjuk oleh pelanggannya, matanya menatap intens ke arah Arsyad sang CEO tempat dimana ia juga bekerja selain di warung tersebut. Mulutnya menganga lebar membentuk huruf O besar melihat kharisma pria berusia 29 kurang satu bulan sudah tiga puluh tahun usianya yang masih seperti remaja saja.

"Pantesan semua orang rajin ke sini karena kedatangan bos Arsyad setiap hari, kalau seperti ini aku bisa manfaatkan supaya omset penjualan kami semakin meningkat katanya juga Bu Hajah minggu ini peningkatan keuntungan kami naik drastis hampir sepuluh kali lipat sebelum Pak Arsyad datang, saya harus memanfaatkan kesempatan langka ini, kasihan Ibu yang sudah saatnya dioperasi tapi, belum juga dan semoga aku cepat melunasi hutang bapak sama juragan Kosin yang lima juta lebih itu entah bunganya sudah berapa karena sudah hampir setahun kami pinjam, saya tidak ingin menikah dengan anaknya yang terkenal berandalan itu ya Allah…,"

Pak Mudin yang melihat penglaris usahanya sudah datang segera bergerak cepat dan memberikan pelayanan yang maksimal dan terbaik.

Pak Haji Mudin segera berteriak memanggil Priska, "Priska! Cepat kesini Nak!" Perintahnya Pak Haji.

"Iya Pak, tunggu," balasnya Priska.

Priska segera mempercepat langkahnya menuju ke arah dimana Pak Haji berteriak.

"Maaf Nak, Priska sedikit lambat datangnya karena Alhamdulillah malam ini pengunjung di tempat kami sungguh lumayan banyak," ujarnya dengan raut wajahnya yang sangat kegirangan.

Pak Haji Muhidin sudah mengetahui apa alasannya Arsyad sudah sering kali datang ke tempat mereka dan itu terjadi hampir setiap hari.

"Tidak apa-apa kok Pak, santai saja lagian aku juga tidak cepat pergi dari sini," sanggahan Arsyad.

Arsyad untuk kali ini memakai pakaian kasual saja dengan celana Levis pendek yang sama sekali tidak mengurangi kadar ketampanannya, malahan semakin membuat kaum hawa klepek-klepek melihatnya. Priska pun diam-diam mengagumi pria yang menjadi pemilik perusahaan tempat ia bekerja di siang hari.

Priska sedikit ngos-ngosan karena harus berjalan terburu-buru," ma-af Pak ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya Priska yang berbicara sedikit tergagap.

”Saya pesan makanan dan minuman yang seperti biasanya, pasti kamu sudah hafal dengan pesanan ku itu," balasnya Arsyad sama sekali tidak mengalihkan tatapan matanya dari wajahnya Priska.

Apa yang dilakukan oleh Arsyad dilihat dengan jelas oleh Pak Haji. Arsyad sengaja melakukan hal itu dengan terang-terangan agar kedepannya ia lebih mudah untuk mendekati Priska. Arsyad juga berencana untuk berbincang-bincang dengan Pak Haji untuk bertanya tentang latar belakang Priska.

Pak Mudin ingin meninggalkan tempat duduknya Arsyad tapi, segera dicegah oleh suara seruan dari Arsyad," Pak apa boleh kita berbincang di sini aku merasa kesepian jika harus duduk seorang diri," imbuhnya Arsyad.

"Bisa kok Nak, hanya saja bukan sekarang karena masih banyak pembelinya Bapak kasihan kalau hanya istriku dan Priska yang melayani pembeli dengan banyaknya orang malam ini," tolaknya untuk sementara waktu Pak Haji.

Arsyad tersenyum simpul lalu membalas perkataan dari Pak Haji," Ohh maafkan saya Pak, kalau seperti itu silahkan lanjutkan dahulu pekerjaan Bapak nanti setelah agak longgar dan punya waktu luang baru bapak temani saya minum kopi hangat buatan gadis tercantik malam ini," candanya Arsyad yang sedari tadi ekor sudut pandang mengarah ke perempuan 24 tahun yang sedang sibuk mengantarkan pesanan orang-orang.

Pak Haji Muhidin hanya tersenyum menanggapi sikap dari Arsyad yang menurutnya lucu karena dimabuk kepayang oleh kecantikan alami yang diperlihatkan oleh Priska sejak dulu tanpa polesan make up tebal hanya memakai bedak tabur dan lipgloss saja yang sangat alami.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!