Bab. 13

Air matanya Arsyad menetes membasahi pipinya saking tidak percayanya setelah hampir kurang lebih lima tahun lebih berpisah akhirnya kembali dipertemukan dalam situasi yang berbeda pula.

Setelah beberapa saat lamanya Priska dalam pelukan pria yang sama sekali tidak dikenalnya itu. Dia hanya tahu jika pria yang sedang memeluknya adalah pria yang memiliki jabatan yang sangat tinggi.

"Tiwi sayang kamu pergi kemana saja kenapa baru pulang," tanyanya Arsyad yang sama sekali tidak ingin melepas pelukannya dari tubuhnya Priska perempuan yang dikiranya Pratiwi Andien Utomo kekasihnya sekaligus tunangannya itu.

Priska yang mendengar perkataan dari pria yang memeluknya segera tersadar dari perasaan hangat sedih yang tiba-tiba spontan datang memenuhi rongga dan relung hatinya yang paling terdalam.

"Maaf lepaskan Pak, Anda salah orang saya bukan Pratiwi seperti yang Anda kira jadi saya mohon lepaskan tangan Anda dari tubuhku," tegasnya Priska.

Arsyad yang larut dalam kebahagiaan dan uforia hatinya segera kembali tersadar atas apa yang telah ia perbuat. Arsyad melepaskan pelukannya dari tubuhnya Priska. Tatapan matanya Arsyad sendu melihat Priska yang sedikit jengkel dan muak dengan tindakannya Arsyad.

Sedangkan Priska mundur beberapa langkah ke belakang, karena takut jika Arsyad kembali memeluknya sedangkan mereka tidak ada hubungan apapun. Dengan tunangannya saja, Priska menjaga jarak dan hingga detik ini belum pernah melakukan kontak fisik yang disengaja.

"Maaf," cicitnya Arsyad.

"Maafkan atas kecerobohan saya Pak sehingga tadi sempat membuat ruangan Bapak kotor, tapi sekarang sudah bersih dan rapi kembali jadi saya pamit undur diri dari sini Pak," ujarnya Priska sembari membungkukkan sedikit tubuhnya itu.

Arsyad hanya berdiri tanpa berniat menimpali perkataannya Priska. Tatapan matanya terus memandangi kepergian Priska dari hadapannya.

"Tidak mungkin aku salah orang,aku yakin dengan sangat jika itu adalah Pratiwiku perempuan yang selalu hadir di setiap hembusan nafasku," gumam Arsyad.

Tubuhnya Arsyad luruh ke atas sofa buludru cokelat yang kebetulan berada di sampingnya itu. Ia kembali menangis tersedu-sedu meratapi kepergian Tiwi dari hidupnya.

"Saya harus menyuruh seseorang untuk mencari tahu siapa perempuan yang sangat mirip dengan Pratiwi Andien, karena feelingku mengatakan kalau dia itu bukan Priska tapi, Tiwi kekasihku yang tenggelam beberapa tahun yang lalu,"

Arsyad baru saja ingin menghubungi kenalannya yang bekerja sebagai detektif swasta, tapi pintu ruangannya terbuka dari luar.

"Siang Pak,maaf ganggu meeting dengan beberapa pemegang saham akan segera dimulai hanya menunggu kedatangan Pak Arsyad saja," jelasnya Dika asisten pribadinya itu.

"Oke tolong sampaikan pada Nely, jika aku ingin bertemu dengan og yang bernama Priska setelah rapat aku selesai," ujarnya Arsyad lalu segera berjalan meninggalkan Dika yang berdiri mematung.

"Baik Tuan Muda," balasnya Dika.

Arsyad berjalan tanpa menoleh sedikitpun ataupun melihat ke sekeliling. Pikirannya masih penuh dengan pemikiran tentang Priska dan Tiwi.

"Apa yang terjadi dengan Pak Arsyad, tidak seperti biasanya Pak Arsyad bersikap seperti itu," cicitnya Dika Ananto Herman.

Nely yang mendengar perintah itu tidak mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya. Nely hanya takut dan mencemaskan nasibnya Priska.

"Apa yang terjadi dengan Pak Arsyad yah? apa Priska membuat masalah besar sehingga meminta Priska menghadap ke kantornya," batinnya Nely.

Berselang beberapa jam kemudian, Nely kelimpungan karena tidak menemukan Priska di ruangannya tempat yang biasa dipakai oleh beberapa officer girl.

"Maaf ada yang bisa kami bantu Bu?" Tanyanya Nia.

"Saya ingin bertemu dengan Priska, tolong panggil Priska ke ruanganku," perintahnya Nely.

"Maaf Bu, Priska sudah pulang karena jam kerjanya sudah selesai hari ini," jelasnya Nila yang ikut berbicara.

"Apa kalian punya nomor hpnya Priska? Kalau ada saya boleh memintanya!" Harapnya Nely.

"Ada kok Bu,tunggu saya ambil hp dulu," tuturnya Nia Daniati yang bergerak cepat ke arah dalam pantry khusus officer girls.

Nely setelah mendapatkan nomor hp nya Priska segera meninggalkan ruangan tersebut.

"Hey! apa yang terjadi dengan Priska kenapa sekretaris CEO kita mencarinya langsung yah? Apa jangan-jangan Priska bikin masalah yah sampai-sampai dia dicari," tebaknya Nia.

"Tapi, seperti yang aku perhatikan tadi, wajahnya Priska sebelum pulang seperti seseorang yang sangat ketakutan dan wajahnya pucat pasi kira-kira apa sebenarnya yang telah diperbuat oleh Priska?"

"Saya berharap semoga saja Priska tidak melakukan kesalahan apapun kasihan sekali karena ibunya di kampung sangat butuh biaya perawatan katanya masuk rumah sakit," timpalnya Nila.

Beberapa hari kemudian, Arsyad akhirnya memiliki waktu luang untuk bertemu dengan kenalannya selama di Amerika Serikat USA sebagai seorang detektif swasta.

Arsyad membuat janji di salah satu restoran bintang lima terkenal yang ada di jantung ibu kota. Arsyad sudah duduk dengan anteng dan tenang sambil menunggu Adrian Mohede.

"Selamat malam Bro," ucapnya Adrian setelah berhadapan dengan Arsyad langsung sambil menjabat tangannya Arsyad.

Arsyad membalas jabatan tangannya Ardian Mohede," selamat malam juga kawan,"

"Maaf sudah buat lama menunggu, aku harus menenangkan diri putriku tercinta sebelum datang kemari," jelas Vero Ardian Mohede seorang duda keren yang memiliki dua orang anak kembar yang masih balita itu.

"Tidak apa-apa kok, santai saja ngomong-ngomong aku sudah merindukan kedua gadis kecilmu itu yang lucu pasti mereka semakin tinggi dan pintar," pungkas Arsyad yang membayangkan kebersamaan mereka ketika di Washington DC dulu.

"Kapan-kapan singgah lah ke rumah kalau kamu merindukan mereka,"

"Insya Allah, hari minggu nanti aku akan sempatkan waktu berkunjung untuk bertemu dengan dua princess imut itu,"

Mereka kemudian berbicara serius setelah berbasa-basi beberapa saat. Arsyad memberikan beberapa data tentang Pratiwi Andien dan juga Priska Oktaviani.

"Saya janji hari Jumat pagi semua yang kamu inginkan akan kamu ketahui, cukup berikan aku waktu dua hari kemudian barulah kamu akan mengetahui siapa sebenarnya mereka."

"Oke kalau gitu aku tunggu kabar baik itu brotha, kita cicipi makanannya entar keburu dingin," usulnya Arsyad.

Mereka kemudian makan malam bersama sambil sesekali bercakap-cakap dan bercanda bareng.

Arsyad pulang ke apartemennya terlebih dahulu sebelum pulang ke rumahnya. Arsyad yakin jika, Priska adalah Pratiwi Andien kekasihnya.

Arsyad berencana langsung pulang ke rumahnya, karena kedua orang tua angkatnya dari kampung sudah datang sesuai dengan keinginannya.

Paman Budi dengan Bibi Hanifah sudah datang aku harus cepat pulang," gumamnya Arsyad Shafiyyur Rahmany.

Arsyad menambah laju kecepatan mobilnya menuju jalan raya.

Tapi, ketika ia sesekali memandang ke arah samping kanan melihat begitu banyaknya orang yang berlalu lalang di sekitar trotoar jalan, ia melihat ada seorang perempuan yang memakai hijab berwarna biru muda sedang menjajakan makanan dan minuman diangkringannya.

"Itu kan Priska," beonya.

Arsyad segera memarkirkan mobilnya, kebetulan malam itu sangat ramai karena bertepatan dengan malam minggu. Sehingga area lokasi yang sering didatangi oleh beberapa anak muda dan masyarakat umum.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!