Bab. 3

Arsyad memutuskan untuk meninggalkan kota kelahirannya menuju Ibu kota Jakarta. Setelah mengetahui jati dirinya yang sebenarnya, Arsyad semakin terpacu semangatnya untuk memperbaiki kehidupannya itu demi cita-cita dan tujuan awalnya untuk menikahi kekasihnya yaitu Pratiwi Nadine Aurora.

"Tiwi tunggu Abang dan aku mohon bersabarlah insya Allah Abang akan pulang dengan membawa lamaran yang sesuai dengan keinginan kedua orang tua dan kakakmu," gumamnya Arsyad sebelum masuk ke dalam bus yang akan mengantarnya ke Ibu kota malam itu.

Bu Hanifah tak hentinya menangis tersedu-sedu melihat kepergian keponakan angkatnya itu. Dia sangat sedih karena untuk pertama kalinya selama hidupnya Arsyad yang sudah berusia 21 tahun itu pergi jauh dari sisinya.

"Arsyad semoga kamu segera pulang Nak, bibi pasti akan sangat merindukan kehadiranmu," cicitnya Bu Hanifah dalam tangisnya ketika bus yang ditumpangi oleh Arsyad semakin menjauh dari terminal kota Surabaya.

Pak Budi Jaya yang melihat kesedihan istrinya itu segera merangkul tubuh istrinya dalam dekapannya.

"Istriku Hanifa ini jalan yang terbaik untuk anak kita, karena jika ia tidak mencari kedua orang tuanya itu harapan dan impiannya untuk menikahi Tiwi akan sia-sia dan pupus begitu saja, kamu hanya perlu mendoakan yang terbaik untuk mereka semoga Arsyad secepatnya pulang dalam keadaan yang sukses dan siap menikahi Pratiwi," ujarnya Pak Budi yang diam-diam juga ikut menyeka air matanya yang mewakili perasaannya saat itu.

Perpisahan kala itu menimbulkan kesedihan yang mendalam bagi ketiganya. Mereka berharap apa yang dilakukan oleh Arsyad di Ibu kota membuahkan hasil yang maksimal dan sesuai dengan harapan mereka semua.

Dua hari kemudian, Arsyad sudah sampai di kota tujuan di salah satu stasiun yang adaedi Jakarta. Arsyad begitu terkejut melihat pemandangan kota Jakarta malam itu yang sangat jauh berbeda dengan kampung halamannya di pedesaan.

Hirup pikuk mobilitas kota Jakarta sangat ramai malam itu. Bangunan yang berjejer seakan berlomba untuk mencakar langit. Cahaya dari beberapa lampu pertokoan dan perumahan semakin memperindah suasana malam itu.

Arsyad mengagumi keindahan kota Jakarta pusat. Tapi, seketika itu perhatiannya tertuju pada sepasang anak kecil yang sekitar berumur sebelas tahun sedang berdiri sambil menyanyikan sebuah lagu untuk menghibur pejalan kaki.

Anak laki-laki itu memetik gitar kecil dalam tangannya sedangkan anak perempuan bernyanyi sambil membawa kotak yang mungkin dipakainya untuk memasukkan uang bagi orang yang menyukai pertunjukan mereka. Arsyad sempat miris melihat mereka berdua.

"Inilah sisi kehidupan Jakarta seperti yang diberitakan di televisi," gumam Arsyad.

Arsyad berjalan sambil menenteng tas ransel dipunggungnya. Arsyad berbekal alamat rumah salah satu sahabat pamannya yang sewaktu bekerja dulu di rumah kakeknya itu.

Arsyad membuka kertas itu yang bertuliskan nama jalan dan nama pria itu," Pak Ahmad Adam jalan xx,"

Arsyad segera berjalan beberapa langkah kakinya sambil mencari tukang ojek yang mangkal di sekitar area terminal. Tapi, sebelumnya ia bertanya kepada beberapa orang yang kebetulan lewat di tempat tersebut.

Arsyad bersyukur karena alamat rumah yang dicarinya itu cukup mudah dijangkau sehingga memudahkan langkahnya.

"Syukur Alhamdulillah, hanya sekitar satu jam perjalanan dari sini saya sudah sampai di rumahnya Pak Ahmad," lirih Arsyad.

Kedatangan Arsyad di rumah Pak Ahmad disambut hangat oleh anggota keluarganya yang berjumlah empat orang itu. Istri Pak Ahmad Bu Dewi dan kedua anaknya yang kebetulan satu cewek yang seumuran dengannya dan satu cowok yang masih sekolah di SMA.

Pak Ahmad awalnya ragu tapi, setelah membaca sepucuk surat yang sengaja ditulis oleh pamannya yang meyakinkan mereka untuk menerima Arsyad dengan tangan terbuka lebar dan penuh suka cita.

"Ya Allah Tuan Muda Arsyad Arbani Naufal kamu sudah besar Nak," ucapnya Pak Ahmad dengan penuh sukacita.

Bu Dewi dan kedua anaknya yaitu Hani dan Gani itu hanya terdiam menyaksikan apa yang dilakukan oleh bapaknya.

"Tuan Muda," beonya Hani.

Pak Ahmad melirik sekilas ke arah putrinya itu," Panjang ceritanya Nak tapi suatu saat nanti Bapak akan jelaskan kepada kalian siapa Tuan Muda Arsyad ini karena kasihan kalau kita berbicara panjang lebar padahal sudah tengah malam hari dan waktunya istirahat mungkin besok bapak akan jelaskan kepada kalian semua,"

Tiga bulan kemudian, kehadiran Arsyad di dalam keluarga kecil itu sangat beruntung dan berguna karena membantu Pak Ahmad yang memiliki sebuah ruko d dalam tengah pasar.

Arsyad sedikit kecewa karena kakek dan mamanya sudah lebih sepuluh tahun terakhir tinggal dan menetap di luar negri sedangkan rumahnya yang ada di Jakarta dibiarkan kosong begitu saja tanpa dirawat.

Arsyad awalnya kecewa dan sedih, tapi senyuman manisnya Tiwi yang setiap saat datang dan terlintas dalam ingatan dan benaknya membuatnya optimis dan bersabar untuk menjalani kehidupannya di ibu kota Jakarta. Kakek dan neneknya Arsyad sudah dikabarkan meninggal dunia sedangkan mamanya beritanya sama sekali tidak ada yang mengetahui karena nama yang dicarinya itu, tidak ada orang satupun yang mengetahuinya.

"Apa Mama juga sudah meninggal dunia di luar negri karena aku sudah mencari beritanya tapi aku sama sekali tidak menemukan wanita yang bernama Anna Thalia Ivanka," lirihnya Arsyad yang putus asa kala itu.

Waktu terus berlalu tanpa mereka sadari, sudah dua tahun sejak kedatangannya Arsyad di ibu kota. Hari ini, Hani berencana membawa Arsyad untuk membeli sebuah hp untuk memudahkan Arsyad untuk berkomunikasi karena hp yang dia bawa beberapa hari lalu rusak sehingga ia tidak bisa lagi berkomunikasi dengan anggota keluarganya di kampung sedangkan dengan Tiwi komunikasi sama sekali terputus karena, nomor hpnya Tiwi sudah tidak pernah aktif.

Arsyad bersyukur dan bahagia karena anak-anaknya Pak Ahmad sudah menganggapnya sebagai saudara sendiri. Sepulang dari Mall, Hani duduk di depan televisi sambil membuka beberapa bungkus cemilan khas untuk menemani santainya malam itu.

"Arsyad apa kamu mau bekerja di Perusahaan tempat aku bekerja enggak? Kebetulan dia lagi cari tenaga bantu karena kantorku bulan ini dan beberapa bulan kedepannya akan sangat sibuk sehingga membutuhkan tenaga kerja lagi dan kebetulan penjaga keamanan yang kurang, kalau kamu minat aku akan tanya teman aku," terangnya Hani yang sama sekali pandangan matanya tak teralihkan dari drama Korea Selatan yang sedang ditontonnya itu.

 

Arsyad yang mendengar tawaran pekerjaan dari kakak angkatnya itu tergiur dan bahagia karena bisa mendapatkan penghasilan tambahan walaupun bekerja dengan pak Ahmad tetap mendapatkan gaji, tapi baginya kurang karena ia juga mengirimkan uang belanja ke kampung.

Hani memperhatikan gelagat Arsyad yang tiba-tiba terdiam, Hani menyunggingkan senyumnya karena yakin jika Arsyad tertarik dengan penawaran dari Hani.

"Bagaimana Are, apa kamu setuju? Kalau kamu setuju besok kamu ikut Mbak ke kantor," usulnya Hani yang kembali mencicipi cemilannya tanpa henti itu.

Arsyad menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan dari Hani perempuan yang hanya beda setahun dengan usianya itu.

Bagi Like, Komentar, gift iklan,poin dan koinnya dong kakak readers...

Terpopuler

Comments

Zaenab ali Said

Zaenab ali Said

Arsyad pria yang sudah langka

2023-02-15

0

Cassandra aiya

Cassandra aiya

demi cinta rela pergi merantau

2023-02-03

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!