Leni pun segera menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap menunggu kedatangan pria yang dia suruh mengahadap itu. Sekretaris muda itu dibuat terpesona, terpana dan takjub serta melongok tak percaya melihat penampilan hampir sempurna Arsyad pemuda ganteng yang sudah menjelma sebagai pria dewasa yang cukup menarik perhatian publik.
"Ars jagain aku dong," beonya Leni yang berdiri mematung dengan pandangan matanya tertuju pada sosok pria muda itu.
Arsyad dengan perasaan yang campur aduk berjalan ke arah ruangan khusus CEO perusahaan tempat ia bekerja.
Karisma yang ditujukkan oleh security satu itu mampu menyihir mata semua kaum hawa. Tanpa terkecuali, wajahnya yang dingin,datar seolah tanpa ekspresi apapun yang diperlihatkannya tak mengurangi kadar ketampanannya.
"Abang jagain hati aku dong!" Seperti itulah suara-suara teriakan dari para perempuan yang melihat kedatangan Arsyad di lantai dua belas tempat khusus ruangan petinggi perusahaan.
Arsyad Shafiyyur Rahmany berjalan ke arah Asisten Leni Alfin yang ditugaskan untuk mengantar Arsyad bertemu dengan Bu Sania Marwah Daud.
"Silahkan masuk Anda sudah ditunggu sedari tadi Pak," sahutnya Leni dengan senyuman ramahnya.
"Terima kasih banyak Mbak,"
Arsyad masuk ke dalam pintu ya sudah dibuka oleh Leni sesuai dengan petunjuk dari yang punya ruangan. Nyonya Sania yang sudah menyadari kedatangan putra tunggalnya itu segera berbalik dengan senyuman lebarnya.
Selama Sania pindah ke luar negeri bersama kedua orang tuanya, dia mengganti namanya menjadi Sarah Naimi Adeline. Ketika satu persatu kedua orang tuanya meninggal dunia, dia tetap memakai nama itu hingga detik ini. Dan hanya orang yang paling dekatnya saja yang mengetahui siapa dia sebenarnya.
"Welcome Arsyad Shafiyyur Rahmany Damar," ucapan Bu Sania dengan penuh mantap.
"Makasih banyak Bu Sarah atas sambutannya," imbuhnya Arsyad yang masih berdiri di depan mamanya.
"Apa kamu tidak mengenali Mama Nak?" Tanyanya langsung Bu Sarah yang tidak ingin berbasa basi dengan anaknya itu.
Arsyad cukup terkejut dengan perkataan dari mulut pemimpin perusahaan itu tapi, Arsyad semakin pintar dan lihai menyembunyikan perasaannya di hadapan orang lain. Sehingga raut wajahnya masih seperti semula datar dan dingin tak bisa terbaca.
"Leni!" Panggilnya Bu Sania Marwah.
Leni segera masuk ke dalam ruangan tersebut.
Leni segera berjalan ke arah tembok dan menekan sebuah tombol khusus dan terbukalah sebuah tirai yang cukup besar dan panjang. Muncullah sebuah potret besar yang di dalam terdapat figura foto anak kecil yang baru berusia sekitar dua bulan.
Bu Sania segera berjalan ke arah tembok itu dengan tatapan matanya sendu hingga buliran air matanya menetes membasahi pipinya.
"Arsyad putraku apa kamu kenal siapa anak bayi itu?" Tanyanya Bu Sania.
Arsyad semakin dibuat terkejut sekaligus kaget dan tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya itu. Dia tidak menduga jika perempuan yang menjadi pemilik perusahaan raksasa itu adalah seorang ibu kandungnya.
"Kamu adalah putra Mama yang aku titipkan pada Pak Budi Jaya supir pribadinya Mama sejak masih remaja itu," ujarnya Bu Sania dengan tersedu-sedu sembari merentangkan kedua tangannya dengan lebar menunggu Arsyad datang ke arahnya untuk memeluk tubuhnya itu.
Leni Alfin yang melihat kejadian itu pun tidak menyangka dan hanya bisa menjadi penonton dan saksi dari pertemuan dua orang keluarga yang terpisah lama dan akhirnya bertemu kembali.
Arsyad tanpa pikir panjang segera berjalan ke arah Bu Sania lalu memeluk erat tubuh mamanya yang masih cukup muda diusianya yang sudah menginjak hampir kepala lima itu.
"Mama," beonya Arsyad.
Rasa benci dan dendam serta amarah yang pernah membuncah di dalam dadanya ketika Ia masih kecil sudah sirna di dalam benak, pikiran dan hatinya itu.
"Putranya Mama maafkan Mama Nak yang sudah meninggalkan kamu dengan Pak Budi dan bibi Hanifah, Mama terpaksa melakukan semua itu tapi, maafkan Mama untuk alasan khusus itu Mama belum bisa ungkapkan di sini karena jalan ceritanya terlalu panjang."
Betapa bahagianya Bu Sania ketika Arsyad putranya dengan tangan terbuka menerima dan mengakuinya sebagai seorang Mama.
Bu Sania tersenyum dalam tangisnya," syukur Alhamdulillah… makasih banyak ya Allah atas segala anugerah dan nikmat terindah yang Engkau berikan kepadaku."
Arsyad masih memeluk tubuh mamanya itu," andaikan aku bertemu dengan Mama lebih awal mungkin kekasihku tidak akan pergi dari hidupku dan juga aku tidak akan menderita begini, tapi sudahlah mungkin juga ini yang terbaik untuk kami berdua, aku hanya berharap suatu hari nanti cepat atau lambat Pratiwi Andien segera ditemukan dalam keadaan yang masih hidup," air matanya menetes setetes Arsyad buru-buru menyeka air matanya karena tidak ingin ada orang yang melihat sisi lemahnya itu.
"Leni mulai detik ini panggil Arsyad Tuan Muda karena dia adalah putraku penerus keluarga besar Daud Yordan kedepannya dan atur keberangkatan kami ke Amerika Serikat USA karena Arsyad akan segera pergi mengambil studi di luar negri hingga Ia cukup mampu untuk berdiri sendiri dan kuat untuk bersaing menjadi pemimpin semua kerajaan bisnisku ini!" Perintahnya Bu Sania Marwah atau orang-orang mengenalnya dengan panggilan Nyonya Besar Sarah Daud Yordan.
Arsyad sama sekali tidak membantah perkataan dari mamanya, karena itu hal yang paling ia inginkan sejak dulu. Ia bermimpi besar ketika, lamarannya ditolak oleh Tuan Besar Utomo, salah satu pengusaha kaya di kampungnya.
Penolakan itu membuat hubungan mereka terpisah yang membuat kekasihnya Tiwi harus tenggelam dalam kedukaan. Hingga kapalnya tenggelam dalam lautan dalam hingga, tak ada satupun korban jiwa yang meninggal mayatnya belum ada yang ditemukan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Fahira Febrina
lanjut
2023-02-15
0