"Itu kan Priska," beonya.
Arsyad segera memarkirkan mobilnya, kebetulan malam itu sangat ramai karena bertepatan dengan malam minggu. Sehingga area lokasi yang sering didatangi oleh beberapa anak muda dan masyarakat umum.
Arsyad memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, lalu berjalan melangkahkan kakinya menuju angkringan tersebut yang cukup dipadati oleh pembeli ketika mulai berjalan ke sana.
"Maaf Pak kalau mau beli silahkan antri dibelakang," ucapnya seorang pria sambil menunjuk ke arah belakang tepatnya di salah satu barisan orang yang ikut mengantri.
Arsyad tanpa sepatah katapun atau protes segera menjalankan apa yang dikatakan oleh pembeli itu.
"Gadis yang jaga itu lumayan cantik yah seperti artis saja cantiknya," ucapnya pria yang berbaju kemeja kotak-kotak yang berdiri tepat di depannya Arsyad.
"Betul apa yang kamu katakan benar adanya, sejak aku masih tahu kalau setiap malam minggu gadis itu yang berjualan aku selalu datang, lagian makanan dan minuman yang dijualnya rasa enak dan murah lagi," timpalnya pria yang berjaket hitam itu.
Desas desus kasat kusut yang sampai di telinganya Arsyad membuatnya meradang. Ia mengepalkan kedua genggaman tangannya, karena marah ada komentar dua pria yang terang-terangan memuji wanitanya di depan matanya itu sendiri.
M "Ya Allah… semoga saja besok pagi Vero sudah mendapatkan informasi yang akurat tentang kedua perempuan itu apa kah Pratiwi Andien Utomo bukanlah Priska Oktaviani tapi, kalau mereka berbeda aku akan tetap berusaha untuk mendapatkan gadis yang sangat mirip dengan Tiwiku," batinnya Arsyad.
Berselang beberapa menit kemudian, Arsyad sudah berdiri tepat di hadapannya Priska. Sedangkan Priska yang baru tersadar jika, pria itu adalah pemilik perusahaan tempat ia bekerja segera menundukkan kepalanya dan salah tingkah serta takut jika, Arsyad akan membuat perhitungan dengannya.
"Priska, kok kamu tidak melayani pembeli?" Tanyanya sang pemilik tempat jualan itu.
"Ehh a-nu Pak saya mau minum dulu soalnya haus sekali," elaknya Priska yang sedikit gagap sambil mengelus lehernya yang tertutupi hijab.
"Silahkan Nak,kamu sudah seharian bekerja dengan giat kamu juga butuh istirahat sejenak, biarkan Bapak saja yang melayani pembeli, tapi kalau sudah baikan kamu cepatlah ke sini kasihan Bapak sudah tua tidak mampu berdiri lama," guraunya Pak Haji Mudin.
Priska hanya tersenyum menanggapi perkataan dari bosnya itu. Arsyad sedari tadi memperhatikan dengan seksama Priska, hingga sudut ekor matanya melihat ada sebuah benda yang mengkilap di jari manisnya Priska.
"Itukan cincin yang saya berikan sebelum saya berangkat ke Ibu kota Jakarta," cicitnya Arsyad yang sudah yakin dengan kenyataan jika Priska adalah Tiwi kekasihnya yang masih hidup dan selamat dari tenggelam kecelakaan maut.
Arsyad memesan asal saja karena tujuan utamanya ke tempat itu adalah untuk bertemu dr Priska.
"Tidak mungkin di dunia ini ada yang namanya kebetulan, apa mungkin ada orang yang berbeda memakai cincin yang sama padahal cincin itu hanya dibuat satu di dunia ini, tapi untuk meyakinkan pernyataan dan keyakinanku harus melepas cincin itu karena namanya Mama terukir di dalam sana," bathinnya Arsyad Shafiyyur Rahamny.
Setelah pesanannya jadi, Arsyad mencari bangku kayu yang kosong. Ia berjalan perlahan menuju bangku itu,alangkah bahagianya karena,bangku yang tersisa adalah bangku yang diduduki ujungnya oleh perempuan berhijab biru dongker itu yang menjadi alasannya berjibaku dengan berbagai pembeli dalam antrian yang cukup panjang seperti ular raksasa saja.
"Hemm!!" Arsyad berdehem untuk mengalihkan perhatian Priska dari air botol mineral kemasan yang digenggamnya.
Priska Oktaviani segera mengalihkan perhatiannya ke arah sumber suara. Ia begitu terkejut melihat Arsyad sudah duduk dengan anteng di sampingnya. Matanya melotot dan mulutnya menganga saking terkejutnya melihat pria yang menjadi bosnya di perusahaan terbesar yang ada di dalam tanah air Indonesia.
"Ba-pak Arsyad," ucapnya yang tergagap dan spontan menundukkan kepalanya itu.
Arsyad tersenyum tipis," kenapa reaksinya saat melihatku seperti itu? Santai saja lah emangnya aku makan orang apa!" Candanya Arsyad seraya menyeruput minuman hangatnya dalam gelas sekali pakai itu.
Priska masih saja menundukkan kepalanya karena tidak berani menatap langsung ke arah pria yang digandrungi banyak kaum hawa di perusahaan tempat kerjanya itu.
"Sifatnya masih seperti dulu selalu malu-malu dan wajahnya merah merona jika aku goda," Arsyad tersenyum simpul melihat tingkah lakunya Priska.
Priska segera berdiri dari duduknya karena, melihat Pak Haji Mudin semakin kewalahan melayani banyaknya pembeli yang membludak selama kedatangan Arsyad.
Ketampanan paripurna dari Arsyad memiliki daya tarik tersendiri bagi para pembeli khususnya kaum wanita muda maupun dewasa.
"Syukur Alhamdulillah… sepertinya kedatangan anak muda yang duduk dipojokan membawa berkah tersendiri di warung kita Bu," imbuhnya Pak Haji Mudin sembari menatap ke arah Arsyad yang bermain hp.
Kedua perempuan itu yang berada di dekatnya reflek mengalihkan perhatiannya ke arah Arsyad.
"Benar sekali yang Bapak katakan, aku juga merasa seperti itu anggap saja ini berkah luar biasa warung kita semoga kedepannya dia sering-sering mampir ke sini supaya jajanan makanan dan minuman kita cepat laku dan habis terjual, amin ya rabbal alamin," timpalnya Bu Haja Midah.
Priska membenarkan perkataan dari kedua pasangan suami istri itu yang sudah berjasa menampung dirinya selama berada di Jakarta.
"Apa yang dikatakan oleh bapak dan ibu benar sekali, tapi kalau harus hari-hari datang itu kan sama saja akan mengganggu konsentrasi kerjaku," umpatnya Priska yang memonyongkan bibirnya sambil membuat minuman dan makanan yang kembali dipesan oleh Arsyad.
Bagi Like, Komentar, gift iklan,poin dan koinnya dong kakak readers...
Makasih banyak...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments