Bab. 7

Setelah sampai di kampungnya, Arsyad sama sekali tidak menunda dan membuang waktunya untuk segera mencari keberadaan Pratiwi. Sudah hampir tiga hari ia ikut membantu pencarian dari para korban kapal tenggelam itu.

Arsyad membuka tutup botol air mineral kemasan yang baru saja dibelinya itu. Dengan satu kali tegukan saja, rasa segar langsung terasa di dalam tenggorokannya.

"Tiwi kenapa engkau tega meninggalkan Abang seorang diri,padahal aku sudah menabung uang Tiwi untuk datang segera melamar mu," cicitnya Arsyad.

"Ya Allah… ridhoilah pencarian kami ini, semoga dihari ke sebelas ini pencarian para korban membuahkan hasil," gumam Arsyad sembari memakai alat renangnya dan juga perlengkapan selamnya.

Untungnya Arsyad pernah belajar masalah tentang menyelam sehingga bisa membantu proses pencarian.

"Nak Arsyad kami mendapatkan informasi dari pihak keluarga Tuan Besar Utomo katanya pihak mereka akan menghentikan pencarian hari ini dan pihak dari team Basarnas juga sepakat hari ini mengakhiri pekerjaan mereka karena hasilnya hanya percuma saja hanya buang-buang waktu yang berujung sia-sia saja," jelasnya Pak Budi Jaya.

Arsyad terkejut mendengar penuturan dari mulut pamannya," ya Allah… apa yang terjadi kepada mereka sampai-sampai harus putus asa dan berhenti untuk melakukan pencarian, apa mereka mereka menyerah begitu saja tanpa harus berusaha sekuat tenaga dan mengerahkan segala kemampuan yang kita miliki," kesalnya dengan menggenggam erat kepalan tangannya Arsyad lalu meninju permukaan tembok dinding bangunan itu yang berada di depannya.

"Arsyad sabar Nak jangan gegabah seperti ini, Paman mohon jangan cepat emosi coba duduk dan berfikir jernih karena semua orang sudah berusaha maksimal mengerahkan kemampuan mereka tapi, apalah daya Allah SWT berkehendak lain," ujarnya Pak Budi yang berusaha untuk mencegah tindakan anarkis dan gegabah serta amarah yang meletup yang timbul di dalam hatinya Arsyad.

Arsyad terdiam memikirkan perkataan dan nasehat dari pamannya itu, Arsyad berdiri dari duduknya lalu berjalan perlahan menuju ke arah jembatan dermaga pantai tersebut.

Pak Budi tidak berniat untuk mencegah ataupun melarang Arsyad karena,ia yakin keponakan angkatnya itu akan tahu batasan yang harus ia perbuat. Arsyad berdiri lalu berteriak sekencang-kencangnya dan sekuat mungkin sesuai dengan kemampuannya itu.

"Aahhhh!!" Teriaknya Arsyad yang meluapkan rasa kecewa dan amarahnya melalui teriakan yang begitu menggema memenuhi seluruh penjuru pantai.

Pak Budi dan beberapa warga masyarakat lainnya ikut sedih dan terharu melihat kondisi dari Arsyad pria yang harus mau tidak mau melepaskan kepergian kekasih dan pujaan hatinya itu.

Arsyad terduduk di atas jembatan tersebut, "Tiwi! Abang sangat mencintaimu hingga akhir waktuku, Abang akan membujang sampai nafas ini tidak lagi berada dalam jasadku, itu janjiku padamu Pratiwi i love you forever!!" Jeritnya Arsyad.

Matahari di sore hari itu perlahan condong ke arah barat. Cahaya matahari sore itu sangat indah hingga menciptakan sunset yang begitu indah dipandang mata. Tapi, bagi Arsyad itu adalah ungkapan hatinya yang begitu pilu dan sedih

Dua hari kemudian, Arsyad sudah bersiap untuk kembali ke ibu kota Jakarta. Dia memilih untuk balik dari pada berdiam diri di kampung halamannya yang sama saja akan membuat dirinya semakin larut dan jatuh dalam kesedihannya.

Arsyad memeluk tubuh ringkih bibinya itu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan," Bibi jaga diri baik-baik jika punya banyak waktu luang maka datanglah ke Jakarta," ujarnya Arsyad dengan memaksakan senyumannya itu.

"Paman, aku titip Bibi semoga kalian sehat selalu dan kalau ada apa-apa hubungi Ars saja Bi tidak perlu sungkan atau pun segan insya Allah… aku akan senantiasa membantu Paman dan Bibi," imbuhnya Arsyad yang mengecup pipinya Bu Hanifah.

Arsyadi melakukan hal seperti itu, sebagai tanda penghormatannya sebagai seorang anak walaupun mereka sama sekali tidak ada hubungan darah sedikit pun,tetapi kedua pasangan suami istri itu sangat berjasa di dalam hidupnya yaitu sudah 23 tahun itu.

Kedua orang tuanya melepas kepergian Arsyad dengan linangan air matanya itu,"semoga kamu selalu dalam lindungan Allah SWT dan segera menemukan kebahagiaanmu walaupun bukan dengan Tiwi Nak."

Baru beberapa menit kepergian Arsyad dari kampung halamannya,sebuah mobil dengan merk alfar memasuki area perkampungan tersebut. Beberapa warga masyarakat yang melihat kedatangan mobil mewah tersebut penasaran dengan siapa pemiliknya.

"Dua puluh tiga tahun lalu aku pernah tinggal di sini dan berhasil melahirkan seorang bayi yang montok dan imut serta ganteng, dia adalah anak tunggalku Arsyad Shafiyyur Rahman, nama yang aku sematkan untuk bayiku itu," batinnya Bu Sania Marwah.

Mobil itu berhenti tepat di depan pagar rumahnya Pak Budi. Kedua pasutri yang baru saja mendudukkan bokongnya ke atas kursi plastik yang terdapat di teras rumahnya cukup terkejut dan juga penasaran dengan siapa pemilik mobil itu.

Mereka saling memberikan kode satu sama lainnya dan berbisik dengan mengarahkan pandangannya ke arah mobil yang sudah terbuka lebar pintunya. Yang pertama kali terlihat adalah kaki jenjang yang putih mulus bersih yang berjalan ke arah mereka berdua.

Pak Budi dan Bu Hanifa tersentak seketika melihat siapa perempuan cantik itu yang berjalan ke arahnya dengan senyuman lebarnya.

"Nona Muda Sania!" Beo keduanya.

Bagi Like, Komentar, gift iklan,poin dan koinnya dong kakak readers...

Makasih banyak...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!