MPB Bab 17

Bramono membulatkan kedua matanya saat melihat Abella ada di tempat sama dengannya. Pria yang sudah berusia hampir kepala lima itu tidak berkutik sama sekali saat putrinya memergokinya bersama seorang wanita.

"Oh, jadi ini kelakuan Papa. Aku udah menduga kalo Papa emang gak bakalan dengerin ucapan aku kemarin, ternyata Papa udah ngelakuin hal itu tanpa sepengetahuan aku dan Kak Alex. Heh kamu, dijanjiin apa kamu sama Papa aku sampai mau dihamilin kayak gitu?!"

"ABELLA!"

Abella mengalihkan pandangannya pada Bramono, sudut bibirnya tertarik sinis mendengar bentakan pria yang selama ini dia kira akan menjadi pelindung dan tempatnya pulang setelah Sang Mama tiada. Tapi nyatanya pria itu malah menjadikannya seperti orang asing, dengan berani menggantikan posisi Sang Mama dengan wanita asing ini.

"Kenapa? Papa malu, atau Papa takut kalau aku melaporkan hal ini sama-,"

"Kita bicara dirumah!" sela Bramono. Pria itu terlihat panik dan mulai malu saat melihat banyak mata kearah mereka, terlebih bisik bisik yang tidak mengenakan mulai dia dengar walaupun samar samar.

"Enggak ada yang harus kita bicarain, semuanya udah jelas. Kalau emang Papa tetap mau nikahin dia, silahkan angkat kaki dari rumah peninggalan Mama. karena aku tau kalau rumah itu adalah milik Mama, bukan milik Papa." cetus nya datar.

Ekor mata Abella melirik pada wanita yang masih terdiam dan terus saja menggandeng lengan Bramono tanpa malu.

"Aku gak yakin nih cewek bakalan setia sama Papa kalau sampai Papa bangkrut dan jatuh miskin. Berdoa aja, semoga Papa gak bangkrut biar kamu bisa nikmatin apa yang enggak pernah Mama aku nikmatin saat hidup!"

Abella segera berbalik, dia menjauh dari Bramono dan kekasihnya. Abella berusaha menahan emosinya yang siap meledak saat ini juga. Dia mendekat pada Satya, meraih lengan pria itu dan membawa Satya ke poli dokter umum untuk melakukan pemeriksaan karena nama kekasihnya sudah di panggil.

Abella meninggalkan Bramono yang masih mematung di tempatnya, gadis itu juga tidak peduli dengan tatapan penasaran orang orang yang menatapnya.

"Papa kamu udah nikah sama cewek itu?"

Satya yang sedari tadi terdiam kini mulai bertanya, sejak tadi dia memperhatikan Bramono dan wanita yang katanya akan dinikahi pria itu. Ada yang aneh, sepertinya itu bukan wanita yang pernah dia lihat di hotel sebelumnya.

Apa Bramono memiliki banyak kekasih?

"Aku gak peduli mereka udah nikah atau belum. Yang pasti aku enggak bakalan biarin mereka masuk kedalam rumah peninggalan Mama, apa lagi sampai cewek itu tinggal disana."

Abella terlihat begitu emosi, dia tidak akan main main dengan ucapannya. Abella akan mengusir Papanya sendiri kalau sampai pria itu nekat dan tetap membawa wanita sialan itu ke kediaman mereka.

"Jangan emosi oke. Aku yakin kamu bisa ngatasin semua masalah ini dengan kepala dingin."

Satya menipiskan bibirnya, pria itu terlihat menatap satu ke arah dokter yang sudah menunggu mereka. Satya berharap kalau sakitnya ini tidak akan berkepanjangan dan bisa terus menemani Abella. Apa lagi sekarang gadisnya tengah memiliki masalah baru, Satya masih tidak menyangka kalau Bramono akan melakukan hal yang tidak disetujui oleh Abella dan membuat gadis itu murka.

"Aku bakalan hubungin Kak Alex nanti. Sekarang kamu harus di periksa dulu, semoga aja pulang dari sini kamu bisa lebih baik dan sembuh." Abella menarik lengan kekasihnya dan mendudukkan pria itu dikursi yang sudah tersedia di depan meja dokter yang bertugas.

🦋

🦋

🦋

"Udahlah Mas, aku yakin anak kamu cuma ngegertak aja. Gak mungkinkan dia tega ngusir kamu dari rumah itu, kamu juga punya hak atas rumah itu kan?"

Bramono tidak menyahut, pria itu terlihat memejamkan kedua matanya. Penampilannya terlihat berantakan, sepulangnya dari klinik dia tidak langsung pulang ke rumah atau pergi ke kantornya, tapi pergi ke apartemen wanita yang bersamanya tadi.

Wanita yang ternyata sedang mengandung anaknya, sial Bramono sepertinya kecolongan. Padahal dia hanya berniat untuk main main saja dengan wanita ini, tapi ternyata sesuatu yang tidak bisa dia prediksi malah menjebaknya.

"Kamu diam disini. Aku harus pulang dan berbicara dengan putriku, kamu harus tau kalau Abella tidak pernah main main dengan ucapannya. Jadi, kalau kamu mau aku nikahi secepatnya- menurut dan bersikap baiklah!"

Bramono bangkit, pria itu segera menyambar jasnya dan bergegas keluar dari apartemen wanitanya. Dia harus bisa meluluhkan Abella agar tetap bisa tinggal di rumah itu bersama wanita yang akan dinikahinya secara siri nanti.

Terpopuler

Comments

Ririe Handay

Ririe Handay

bagus bel.... jangan mudah luluh

2023-03-02

0

buk e irul

buk e irul

astagfirullah

2023-03-01

0

Enisensi Klara

Enisensi Klara

ngeri juga kelakuan papa si Abella ini Gonta ganti pasangan

2023-02-28

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!