MPB Bab 8

Satya terduduk diantara kedua lutut sembari memegangi kepalanya. Saat ini dia tengah berada di salah satu rumah sakit, kondisi Abella belum dia ketahui karena tim medis masih melakukan penanganan di dalam ruang tindakan. Berkali kali Satya meraup wajahnya kasar, matanya tidak henti menatap penuh harap ke arah pintu. Dia berharap dokter akan segera keluar dan memberikan kabar baik untuknya saat ini.

jujur Satya tidak bisa tenang, terlebih saat melihat kondisi Abella tadi. Dia benar benar tidak menyangka kalau gadisnya akan melakukan hal nekat.

Clekk!

Pintu ruangan terbuka, mendengar suara pintu terbuka Satya bergegas berdiri dari duduk nya. Pria itu segera mendekat pada dokter yang terlihat cukup tenang kala dirinya sudah tidak sabaran.

"Bagaimana dok?" wajah khawatir Satya semakin pucat saat melihat wajah Dokter yang terlihat mulai ragu dan gugup.

"Anda keluarganya? " Sang Dokter mengabaikan pertanyaan Satya tadi.

"Saya tunangan nya." sahut Satya tanpa ragu.

Dokter itu terlihat menghela nafasnya sejenak, kedua matanya menatap lekat pada pria bertubuh tinggi yang saat ini terlihat tengah mengintimidasi padanya.

"Pasien kehilangan banyak darah akibat luka di tangan nya."

Tubuh Satya langsung menegang mendengarnya, jakunnya naik turun, dadanya berdebar kencang seakan hendak meledak keluar.

"Tapi jangan khawatir kami sudah menangani pendaharan nya dan langsung melakukan transfusi darah. Untung saja di rumah sakit ini golongan darah AB masih ada jadi anda tidak perlu khawatir, mungkin sebentar lagi pasien akan siuman Anda hanya perlu mengontrol emosi nya saja agar pasien tidak depresi. kalau begitu saya permisi, nanti pasien akan di pindahkan ke ruang rawat." jelas Sang dokter. Pria berjas putih itu menepuk pundak Satya dan berlalu pergi. Satya yang masih tidak tahu harus merespon apa hanya menganggukkan kepalanya dan tidak lupa untuk mengucapkan terimakasih, dia kembali mengusap wajahnya kasar

🌹🌹🌹

Terlihat seorang gadis cantik masih terbaring di ranjang pesakitan dengan satu buah selang infus menancap di punggung tangan kanan nya. Bibirnya terlihat pucat, seru napasnya terlihat stabil walaupun dia belum sadarkan diri.

"Hai Bby," Satya mendudukan dirinya di samping tempat tidur Abella. Dengan lembut Satya membelai kepala gadisnya, dan perlahan dia mendaratkan satu kecupan di dahi cukup dalam dan lama.

"Kenapa kamu lakuin ini, Bby? kamu tau semua ini hanya salah paham, hm. Kamu tau bagaimana gila nya aku saat melihat kondisi kamu tadi? kamu berhasil membuat hidupku seakan direnggut paksa dari tubuh ku, Bby."

Kini usapan lembutnya turun ke pipi chubby milik Abella, membelai lembut. Terasa dingin, dan itu kian membuat Satya menunduk dalam.

"Setelah kamu sadar nanti aku mohon dengerin penjelasan aku dulu. Aku- aku benar benar takut kamu pergi dari hidupku Bby, berjanjilah kamu tidak akan pernah lagi ngelakuin ini."

Cup

Satu kecupan lembut kembali Satya daratkan lagi di kening Abella, kedua mata pria itu terpejam- hidungnya menghirup dalam aroma obat yang menempel di tubuh gadisnya.

"Kamu istirahat ya, aku bakalan jagain kamu di sini."

Satya beranjak meninggalkan ranjang yang di tempati Abella. Dia mendudukkan dirinya di sebuah kursi plastik yang ada di ruangan itu dan menyenderkan kepalanya ke tembok dengan mata terpejam.

Satu jam kemudian

Geliat pelan terlihat dari ranjang yang di tempati Abella. Dengan perlahan mata Abella terbuka, gadis itu mengerejapkan kedua matanya untuk menyesuaikan cahaya masuk. Abella sedikit meringis saat menggerakkan tangan kiri nya yang tengah diperban.

Dengan susah payah Abel menelan salivanya karena merasa sangat haus. Dia menoleh ke arah samping tubuhnya, matanya membulat saat melihat siapa yang tengah tertidur pulas di sana dengan keadaan bersandar di tembok.

"P-Pit," Suaranya lirih hampir tak terdengar. Dengan susah payah Abel menggeser tubuhnya untuk mendekati nakas yang terlihat ada satu gelas air putih diatas nya.

Abella menggeser sedikit demi sedikit tubuh lemahnya hingga membuat ranjang yang dia tempati berdecit hingga membuat Satya yang tadi nya tertidur pun akhir nya terbangun.

"Bby," Satya bergegas mendakat pada Abella. Abella semakin menggeser tubuhnya mendekati nakas saat Satya mulai mendekat padanya.

"Kenapa kamu gak bangunin aku? Lihat luka kamu berdarah lagi kan." raut wajah Satya kembali khawatir saat melihat luka di pergelangan tangan Abella kembali berdarah.

Namun sayang Abella menepis kasar tangan Satya yang hendak memegang lengan yang terbalut perban putih yang sedikit berwarna merah itu.

KAYAKNYA 1001 COWOK JAMAN SEKARANG YANG MODELAN KAYAK SATYA, BIAR PUN GAK LAHIR DARI KELUARGA BERSENDOK EMAS TAPI DIA LEBIH BERHARGA DARI PADA PARA TUAN MUDA SI KELUARGA KAYA 🙈🙈

Terpopuler

Comments

Ririe Handay

Ririe Handay

pertahankan cowok begitu

2023-03-02

0

Susillah

Susillah

terlalu sering diabaikan dibohongi dan dicampakkan wlwpun oleh ayahnya sendiri membuat abell mudah salah faham dan putus asa

2023-02-23

0

Ani Salihah

Ani Salihah

Semog salah faham ny segera ber akhir yaak😩

2023-02-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!