MPB Bab 16

Abella berulang kali mengganti kompresan yang ada di dahi Satya. Sudah hampir satu jam lamanya dia berada di kostan kekasihnya dan Satya tidak kunjung membaik, beberapa kali Abella mencoba merayu kekasihnya itu agar mau dibawa ke klinik, tapi Satya terus saja menolak dengan mengatakan- ' nanti juga sembuh sendiri.'

Sebenarnya Abella sudah gatal ingin sekali menarik tubuh pria itu dan membawanya paksa, tapi lagi lagi kekuatannya tidak sekuat wonder women. Dan lagi bagaimana caranya dia membawa Satya, berjalan saja sudah tertatih dan tidak mungkin dirinya bisa membawa Satya sendirian.

"Kita ke dokter ya! Ayo, kalo kamu gak mau aku bakalan pulang terus marah pokoknya."

Abella terus saja membujuk tanpa henti, gadis itu menghela napas pelan- kedua matanya menatap pria yang masih nyaman bergelung di bawah selimut tebalnya padahal suhu tubuhnya masih tinggi.

"Pit!" Abella kembali bersuara, kali ini terdengar seperti rengekan dan permohonan.

Gadis itu bahkan memeluk tubuh Satya tanpa ragu, menenggelamkan wajahnya di dada sang kekasih. Rasa hangat yang keluar dari tubuh Satya bahkan bisa Abella rasakan padahal sudah terhalang oleh selimut.

Satya yang merasakan beban di dadanya perlahan membuka mata, tangannya terulur mengusap kepala Abella dengan lembut.

"Kalo kamu meluk aku kayak gini, nanti bisa ketularan," gumamnya dengan suara serak.

Abella tidak peduli, dia malah semakin mengencangkan dekapannya. Masa bodo kalau dirinya tertular dan itu semua gara gara Satya yang keras kepala tidak mau dibawa ke klinik.

"Biarin, kalo aku sakit itu gara gara kamu yang gak mau aku bawa ke dok-,"

"Oke, kita ke dokter." putusnya.

Walaupun sebenarnya enggak, tapi mau tidak mau Satya harus menurut. Karena dia tahu kalau Abella tidak akan menjauh darinya dan itu pasti akan membuat sang gadis tertular demamnya nanti. Lihat saja nanti malam atau besok, pasti Abella akan merasakan tidak nyaman di tubuhnya.

Dan kalau sampai itu terjadi dirinya lah yang patut disalahkan karena tidak mau dibawa ke klinik.

"Aku pesan taksi dulu, kamu diem disini jangan kemana mana!"

Abella turun dari kasur bisa yang di tempati oleh Satya, gadis itu terlihat mendekat ke arah tas selempang nya dan meraih ponselnya. Abella terlihat sibuk, tapi hanya sekejap karena setelah itu dia kembali mendekat ke arah Satya yang sudah bangun dan bersandar di tembok.

"Ayo kita berangkat! Kamu ganti baju dulu tapi."

🦚

🦚

🦚

Butuh tenaga ekstra untuk Abella membawa Satya ke klinik. Gadis yang sudah tidak memakai seragam abu abu itu dan kini memakai kaos hitam milik Satya juga celana training yang sedikit kebesaran di tubuhnya, terlihat susah payah memapah tubuh tinggi Satya masuk kedalam klinik.

"Ada yang bisa kami bantu?"

Abella mendekat ke meja resepsionis saat Satya sudah duduk dengan nyaman di kursi tunggu. Napas Abella terlihat berat tapi dia berusaha tenang dan mengatur napasnya yang sudah tidak teratur.

"Saya mau daftar, tapi bukan saya yang sakit. Emm- pacar saya yang sakit Sus. Boleh minta formulirnya atau apa gitu biar pacar saya bisa segera diobatin."

Perawat itu mengangguk, dia terlihat mengotak atik komputer yang ada dihadapannya, bertanya nama lengkap calon pasien, usia dan riwayat sakitnya.

"Nama pasien?"

"Nico Arya!"

"Usia?"

"21 tahun!"

"Pekerjaan?"

"Mahasiswa!"

"Riwayat sakit?"

"Emm- demam, menggigil, batuk kering, tenggorokan sakit, terus bersin bersin juga Sus."

Perawat itu mengangguk, dia mengetik semua pertanyaan yang di jawab oleh gadis yang ada dihadapannya saat ini. Setelah semua administrasi selesai, Abella kembali mendekat ke arah Satya dan menunggu giliran di panggil.

Sepasang kekasih itu duduk berdampingan, Abella menipiskan bibirnya saat melihat Satya menoleh ke arahnya. Pria itu pun ikut menipiskan bibir keringnya, meraih satu tangan Abella untuk dia genggam.

Cukup lama mereka menunggu, Abella bahkan sudah bersandar di bahu Satya tanpa ragu. Dia terlihat tidak peduli dengan lirikan orang orang yang ada disana, kedua matanya terlihat sibuk memperhatikan layar ponselnya dan Satya memilih membiarkan gadisnya seperti itu.

"Aku gak sabar buat nikah sama kamu, Mas. Lihat, kata dokter bayi kita sehat- moga aja pernikahan resmi kita bisa berjalan lancar ya."

Kefokusan Abella dan Satya teralihkan, keduanya reflek menoleh ke asal suara. Abella menegakan tubuhnya saat melihat seorang pria dan wanita baru saja keluar dari ruang poli kandungan dengan bergandengan mesra dan senyum mengembang.

"Papa, ngapain Papa disini sama dia?" gumamnya.

Abella belum melakukan apa pun, dia masih membiarkan Sang Papa dan wanita yang pernah dibawa Papanya ke kediaman mereka menikmati ketidaksadaran mereka akan kehadirannya disini.

"Iya Sayang, aku janji akan menikahi kamu dalam waktu de-,"

"Ngapain Papa disini? Kalian berdua habis keluar dari poli kandungan? Habis ngapain, siapa yang hamil? JAWAB!" Abella menaikan suaranya di kata terakhir hingga membuat Satya segera bangkit mendekat untuk menenangkan kekasihnya, karena dia tahu kalau Abella pasti akan marah besar pada Bramono di tempat ini.

Terpopuler

Comments

Enisensi Klara

Enisensi Klara

hahhh...papanya aneka hamilin cewek ??¿

2023-02-28

0

Enisensi Klara

Enisensi Klara

siapa tuh yg udah hamil tapi belum nikah ???

2023-02-28

0

Enisensi Klara

Enisensi Klara

oh nama lengkap Satya Niko Arya ,kok dipanggil Satya 😂

2023-02-28

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!