MPB Bab 12

Abella sudah terlihat lebih baik, kemarin dia sudah di perbolehkan pulang. Luka sayatan di pergelangan tangannya pun kian membaik, tapi untuk dua hari kedepan Satya melarang Abella untuk bersekolah.

Pria itu tidak ingin jahitan di tangan kanan kekasihnya kembali terbuka karena belum terlalu kering, alhasil gadis itu pun hanya bisa menurut. Karena Abella hanya bisa melakukan hal itu, Satya selalu ada didekatnya- bahkan pria itu hampir telat kuliah karena harus bolak balik ke rumah sakit.

Bahkan Satya juga yang melunasi semua tagihan rumah sakitnya. Abella sempat melarang, karena dia tidak mau semakin membebani kekasihnya yang dia tahu kalau pekerjaan Satya tidak menghasilkan gajih besar.

Tapi pria itu dengan mudahnya mengatakan, 'Aku masih punya tabungan tenang aja, ini bukan uang kiriman buat Ibu kok.'

Abella semakin merasa bersalah, mungkin nanti dia akan mengganti semuanya tanpa sepengetahuan Satya. Saat ini dia hanya ingin mengistirahatkan dirinya sejenak, pikiran serta hatinya. Abella masih memikirkan Sang Papa yang ternyata sama sekali tidak memperdulikannya. Pria tua itu tidak lagi menemuinya setelah pertengkaran mereka di rumah sakit, bahkan tidak ada chat atau telepon untuk sekedar menanyakan bagaimana keadaan sekarang.

Jadi, apakah Abella durhaka kalau dirinya lebih memilih dan mengutamakan Satya dari pada Papanya sendiri?

Sepertinya tidak, mungkin Tuhan juga lebih tahu dan paham dengan masalahnya saat ini. Tidak di pedulikan oleh orang tua satu satunya, Sang Kakak pun sudah lama tidak memberinya kabar. Abella seakan terbuang sekarang, dan Satya lah yang menjadi tempat dirinya pulang.

Abella tidak tahu apa yang akan terjadi padanya kalau tidak memiliki pria itu didalam hidupnya saat ini, mungkin menyusul Sang Mama adalah jalan terbaik walaupun di benci oleh Tuhan nantinya.

Tok

Tok

Tok

"Non, ada temen Non Abel!"

Suara ketukan serta seruan seseorang dari balik pintu membuat lamunan Abella pecah. Gadis yang saat ini tengah menatap balkon kamarnya dengan tatapan kosong terlihat menoleh, dia menghela napas pelan dan mendekat ke arah pintu.

Tapi belum sempat dirinya sampai di pintu, seseorang sudah membuka dan masuk begitu saja tanpa izin.

"Lo kalo ada apa apa kenapa gak pernah ngabarin gue sih? Lo temen gue bukan sih, Bel?!" cerocosnya kesal.

Bahkan orang itu sudah mendudukkan diri diatas tempat tidur Abella, kedua matanya menatap nyalang pada gadis yang masih belum mengeluarkan sepatah kata pun karena terkejut.

"Jawab Abella! Kenapa lo enggak ngasih tau gue kalo lo masuk rumah sakit, di rawat berhari hari. Lo tau kagak, gue kesini beberapa hari yang lalu tapi satpam lo gak ngizinin gue masuk atas perintah bokap lo, gila kagak tuh. Dan gue baru tau kabar lo setelah gue tanya sama cowok lo." imbuhnya lagi.

Napasnya naik turun, dia terlihat begitu emosi dan menggebu gebu. Bahkan tidak lama merebahkan tubuhnya terlentang saat emosinya kian menjalar ke area kepala.

"Kenapa lo sampe nekat mau bundir sih, Bell? Kalo sampe lo mati Si Satya bakalan jadi milik cewek lain, emangnya lo rela cowok lo yang lemah lembut, baik hati, rajin menabung dan tidak sombong itu naik pelaminan sama cewek lain, Enggak kan?"

Abella yang sedari mendengar ocehan sahabatnya itu hanya menyimak dan mendengarkan, dia belum sempat menjawab karena Sang sahabat terus saja mengoceh dan sulit untuk dia sela.

"Maaf, waktu itu otak gue cuma mikirin satu hal. Gue cemburu, gue gak rela liat Satya deket sama cewek lain, bawaannya gue pingin mati aja. Sumpah Demi Tuhan, gue gak rela liat Satya kayak gitu."

Abella mengakui kalau semua perbuatannya itu salah, bahkan cemburu buta yang dia rasakan hingga menyebabkan dirinya kalap dan berpikiran untuk mati, itu juga adalah kesalahan besar.

Dia terlalu takut kehilangan pria yang selama ini selalu ada untuknya, menemaninya suka dan duka, jadi saat Abella melihat Satya dekat dengan gadis lain seketika hatinya tidak rela dan memilih untuk mengakhiri semua yang dia takutkan dengan cara, mati.

"Lo bener bener bucin sama Satya. Iya sih, gue akuin kalo cowok lo itu perfect, bukan cuma tampangnya doang yang mendukung tapi juga sifat sama sikapnya. Tapi gue cuma mau nyaranin sama lo, cintai Satya sewajarnya aja Bell. Gue tau gimana rasa cinta lo sama dia, tanpa lo bilang juga gue udah tau- tapi lo juga harus berpikiran waras oke. Sebagai temen, gue cuma mau ngingetin aja. Jangan pernah berpikiran pendek hanya gara gara co-,"

"Tapi Satya memang hidup gue, Dir. Dia segalanya buat gue, mungkin kalo disuruh milih antara nyawa gue sama nyawa Satya, gue gak bakalan mikir panjang buat milih nyawa Satya. Dia segalanya buat gue, kalo gak ada dia kayaknya gue gak bakalan hidup lama." cetus Abella menyela ucapan Nadira.

Suaranya terkesan dalam dan penuh emosi.

"Dia lebih berharga dari pada Papa gue sendiri yang udah buat gue lahir ke dunia ini. Disaat Papa dan keluarga gue yang lainnya gak peduli, dia yang selalu ada- jadi jangan paksa gue buat menjauh apa lagi ngurangin kadar cinta gue buat dia, sorry gue gak bakalan bisa!" lanjutnya lagi penuh emosi.

LO EMANG PERFECT SATYA

SORRY GUE GAK BISA NGURANGIN KADARNYA😘😘

Terpopuler

Comments

Ririe Handay

Ririe Handay

manis gitu Satya masa mau dibuang

2023-03-02

0

Anie Jung

Anie Jung

Nasihat Nadira baik juga 👍👍

2023-02-24

0

Susillah

Susillah

logam x pke kadar....😁😁

2023-02-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!