MPB Bab 14

Abella terlihat lebih pendiam setelah bertemu dengan Bramono dan wanita yang bernama Riska, beberapa waktu yang lalu. Gadis itu bahkan sama sekali tidak mau melihat wajah Papanya saat berpapasan, entah mengapa didalam otak serta hati Abella mengatakan kalau wanita yang bersama Sang Papa salah satu penyebab pertengkaran kedua orang tuanya, sebelum Rima mendiang Sang Mana kecelakaan dan akhirnya meninggal.

Kedua tangan Abella mengepal, matanya menatap tajam ke arah jalanan yang ramai. Dia bahkan sama sekali belum menyentuh makanan yang dipesankan oleh pria yang saat ini ada didekatnya. Pikirannya masih terus saja tertuju pada kedua orang yang sudah berhasil mengungkit kesakitan didalam hatinya.

"By, kamu enggak makan?"

Abella tersentak, gadis itu mengerjap lalu menoleh pada orang yang bersuara lembut didekatnya. Wajah yang tadinya tegang serta dingin perlahan melembutkan dan hangat saat melihat pria pujaannya.

Sudut bibir Abella terangkat, lalu dia mengangguk dan mulai menikmati makanan sederhana yang di pesannya dari penjual kaki lima. Saat ini dirinya dan Satya tengah menghabiskan waktu bersama setelah hampir satu minggu ini tidak dapat bertemu.

Malam minggu yang kesekian kalinya, mereka berdua hanya kencan di mall dan berakhir di taman yang banyak menjual banyak aneka makanan. Padahal tadi Satya sempat menawarkan Abella untuk makan di salah satu resto yang ada di mall, tapi gadis itu menolak dengan alasan ingin makan sate di pinggir jalan.

Memang bukan alasan baru, karena Abella memang sering menolak ajakan Satya untuk menyantap makanan di restoran mewah. Bukan karena dia meragukan dompet kekasihnya, hanya saja Abella merasa lebih baik Satya menabung uangnya untuk keperluan lain yang lebih penting.

Dia bisa saja membayari semua dana kencan mereka setiap jalan, tapi Abella tidak sampai hati karena tidak mau membuat Satya merasa di rendahkan karena tindakannya. Jadi, biarkan pria itu membayar semua dana kencan mereka tanpa merasa keberatan, dan Abella juga harus tahu dan mengerti keadaan kekasihnya.

Ya seperti sekarang, makan di pinggir jalan.

"Kamu ada masalah selama aku ikut olimpiade?" tanya Satya.

Kedua mata satu pria itu menatap lekat pada gadis cantik yang ada didekatnya. Satya memperhatikan raut wajah kekasihnya dengan seksama, menelisik karena entah mengapa dia merasakan ada sesuatu yang tengah di sembunyikan Abella saat ini, dan itu membuat hati Sang gadis tidak tenang.

"Papa punya pacar, dan kayaknya mereka bakalan nikah." Abella menjawab dengan datar.

Jujur dia tidak ingin membicarakan kedua orang itu lagi, tapi kalau dirinya terus saja memendam tanpa mengungkapkan isi hatinya, itu pun tidak akan membuat dirinya tenang. Dia butuh teman bicara untuk masalah barunya, dan Satya lah orang yang tepat.

"Kamu ketemu sama mereka?" tanya Satya lagi.

Abella mengangguk kecil, napasnya naik turun seakan tengah menahan emosi dan kekesalan yang tidak bisa tersalurkan. Dia tidak suka, dia tidak senang dan dia tidak akan pernah setuju kalau Bramono Suherman menikah lagi. Terutama dengan wanita muda yang bernama Riska itu, Abella tidak akan mengizinkan sampai kapan pun.

Tapi bagaimana dengan Alex- kakaknya? Apakah pria itu akan membela penolakannya atau bahkan menyetujui Papanya menikah lagi?

"Nama ceweknya Riska, aku gak bakalan setuju kalau Papa nikah lagi. Walaupun nanti Kak Alex setuju, aku tetep gak bakalan setuju. Kalau Papa tetep nekat, silahkan- tapi aku enggak bakalan izinin mereka tinggal di rumah peninggalan Mama."

Abella menatap sendu pada Satya, kedua matanya berembun- dadanya terasa sesak. Hatinya terlalu sakit saat harus membayangkan bagiamana posisi Sang Mama di gantikan oleh wanita baru yang tidak dikenalnya.

"Jangan nangis oke. Abella nya Satya itu cewek kuat, kalo memang Papa kamu mau menikah biarkan aja. Kamu harus kuat, buktikan kalo Abella bukan gadis lemah, kalo kamu menangis almarhum Mama kamu pasti bakalan sedih. Kamu masih punya aku, jangan pernah lakuin hal gila lagi!" Satya mengusap salah satu pipi Abella, menarik lengan kanannya yang dulu terluka- memberikan satu kecupan di bekas luka itu.

Kedua mata Satya terus saja menatap dalam pada kekasihnya, dalam hatinya dia merasa bersalah. Satya tidak tahu apa jadinya kalau sampai Abella tahu dirinya pernah melihat Bramono masuk kedalam kamar hotel bersama seorang wanita muda. Apa mungkin wanita itu yang Abella maksud, sepertinya dia harus melihatnya sendiri nanti.

SEE YOU MUUUUAAACCHHH😘😘😘

Terpopuler

Comments

Ririe Handay

Ririe Handay

kak Alex kemana....sesibuk apasih sampe adeknya ga dipedulikan

2023-03-02

0

Anie Jung

Anie Jung

Satya baik bangett.

2023-02-24

1

Amboro DwiAmborowati

Amboro DwiAmborowati

next

2023-02-23

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!