MPB Bab 10

Sudah cukup lama Satya pergi. Entah dimana pria itu sekarang, apa yang Satya cari atau sedang apa Satya sekarang. Abella yang masih terbaring di tempat tidurnya hanya bisa menunggu, selimut rumah sakit menutupi hampir seluruh tubuhnya karena saat ini Abella sama sekali tidak memakan da*laman.

Tapi tidak lama kedua telinganya mendengar ada seseorang yang datang, Abella tersenyum kala mendengar pintu ruang rawat inapnya terbuka. Namun senyumnya perlahan surut saat melihat siapa yang masuk kedalam, apa lagi melihat wajah tidak bersahabat yang di tampilkan orang itu.

"Kenapa kamu gak ngasih tau Papa kalau kamu masuk rumah sakit?!" sentaknya tiba tiba.

Abella menatap pria paruh baya itu dengan tatapan datar, lalu melanjutkan kegiatan membacanya. Hanya koran kemarin, tapi cukup membuat dirinya merasa tidak sendirian tadi.

"Abella, apa kamu gak denger Papa ngomong?!" dengusnya lagi.

Abella hanya menghela nafas panjang lalu meletakan majalah itu di sampingnya. Kedua matanya kembali teralih pada Bramono Suherman, pria yang menjadi Ayah kandungnya tapi tidak pernah bersikap layaknya seperti seorang Ayah kebanyakan. kalau kata orang Ayah adalah cinta pertama seorang anak perempuan, maaf tapi itu tidak berlaku untuk hidup Abella.

Cinta pertamanya hanya Satya, tidak ada lagi.

"Apa yang ingin Papa tau? peduli apa Papa sama aku. Bukan nya Papa seneng ya kalau aku kayak gini. Mungkin kalo Aku mati itu lebih baik buat Papa, bukan." ucapnya dingin.

Abella mengabaikan Bramono, dia malah dengan santai meraih buah jeruk yang ada di nakas tanpa memperdulikan wajah murka sang Papa.

"Apa ini yang di ajarkan oleh Mama mu saat dia masih hidup dulu?! Tidak menghormati Papanya sendiri."

Abella dengan cepat menatap Bramono sengit saat dia mendengar sang Papa menjelekan mendiang Mamanya. Kedua tangan Abella terkepal erat, dadanya sesak dan napasnya sedikit terengah karena menahan ledakan emosi.

Dia tidak menerima semua perkataan Bramono.

"Jangan pernah berani anda menjelek jelekan Mama saya. Harusnya anda sendiri yang berpikir, apa saja yang pernah ajarkan pada saya selama ini, Tuan Bramono yang terhormat." geramnya. Netra Abella tidak teralih sedikit pun dari Papanya. Matanya mulai berembun, Abella mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menghalau cairan bening itu.

Sementara Bramono terlihat mengencangkan rahangnya mencoba menahan amarah, dia tidak menyangka putri manjanya berani melawan dan membalikan semua perkataannya.

"Anak kurang ajar, kamu benar benar butuh di didik lebih keras lagi! Pokoknya setelah kamu sembuh Papa akan mengirim kamu keluar kota. Kamu akan melanjutkan pendidikanmu di sana! "

Bruukk!

Abella yang sudah muak dengan perkataan Bramono pun, dengan keras melempar satu keranjang berisi buah ke arah nya. Netranya yang berembun terlihat mencair, memerah, menatap nyalang pada pria yang selalu mementingkan egonya sendiri.

"ABELLA APA APAAN KAMU HUH?! TIDAK TAHU SOPAN SANTUN, DASAR ANAK KUR...."

Cleekk!

Ucapan marah Bramono terhenti saat pintu ruangan yang Abella tempati terbuka. Keduanya menatap kearah pintu masuk, ternyata itu Satya yang datang dengan membawa satu kresek besar berwarna hitam di tangannya, entah apa isinya.

"Kamu, kamu pasti yang sudah mendoktrin otak anak saya agar bertindak tidak sopan pada Ayah nya sendiri, mengaku kamu?!" murka Bramono tak beralasan dan tidak tahu tempat.

Satya yang tidak siap pun reflek mundur kebelakang akibat dorongan dari Bramono, sedikit lagi terbentur tembok kalau saja pertahanannya tidak bagus.

"PAPA!" pekik Abella.

"APA?! PASTI LAKI LAKI MISKIN INI YANG SUDAH MENCUCI OTAK KAMU KAN? DIA YANG SELALU JADI PARASIT UNTUK KAMU KAN ABELLA. DIA TIDAK MENCINTAI KAMU, LAKI LAKI INI HANYA MENCINTAI UANG KAMU!" raung Bramono.

"PAPA STOP! JANGAN PERNAH PAPA MENGHINA SATYA DI DEPAN MATA AKU. SATYA TIDAK PERNAH MELAKUKAN APAPUN SEPERTI YANG PAPA UCAPKAN TADI, TIDAK PERNAH. BAHKAN SATYA YANG MEMBIAYAI RUMAH SAKIT AKU. Dia yang selalu ada buat aku di saat semua keluargaku tidak ada yang peduli pada ku. Jadi jangan pernah Papa menghinanya atau merendahkan Satyanya Abella, jangan pernah!" ucap Abella perlahan melirih.

Abella menekan setiap ucapan nya yang di tujukan untuk Bramono sang Papa, gadis itu murka tapi tetap mengendalikan emosi agar tidak berbuat durhaka pada orang tuanya.

"Cih!" Bramono berdecih lalu pergi meninggalkan ruangan rawat Abella.

Braakk!

Air mata Abella kembali luruh setelah Bramono keluar dari ruangannya, gadis itu terisak- dia meremas selimut yang saat ini membalut tubuhnya.

JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA 💕💕😘😘😘😘😘

Terpopuler

Comments

Ririe Handay

Ririe Handay

bapaknya minta ditendang

2023-03-02

0

mang tri

mang tri

ada ya ayah kaya gitu, duhhh beda banget sm daddy el yg sampai bersaing sm menantunya berebut perhatian anak gadisnya 🥺🥺🥺

2023-02-24

0

denisa ajja

denisa ajja

contoh bapak yg hnya bisa bikin anak tpi tak bisa menjaga anak.

2023-02-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!