"Cih!" Bramono berdecih lalu pergi meninggalkan ruangan rawat Abella.
Braakk!
Air mata Abella kembali luruh setelah Bramono keluar dari ruangannya, gadis itu terisak- dia meremas selimut yang saat ini membalut tubuhnya.
"Sssttt- Kenapa kamu nangis?" Satya segera mendekat, dia mendekap Abella yang kini mulai menangis sesenggukan di dalam pelukannya.
"Kenapa kamu diam aja waktu Papa ngerendahin kamu? Harus nya kamu bisa membela diri kamu sendiri, Pit." ucapnya serak.
Satya hanya tersenyum mendengarnya,dan dengan lembut dia menghapus air mata Abella dengan kedua ibu jarinya.
"Buat apa? Benarkan aku memang laki laki miskin dan itu fakta, untuk apa aku mengelak?"
"Tapi kamu bukan parasit, kamu gak pernah manfaatin uang aku. Kamu gak pernah minta apa pun dari aku, Papa salah dia salah besar." isak Abella tidak terima.
Satya menghela napas pelan dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Itu karena aku laki laki. Laki laki enggak akan meminta uang pada wanita. Selama aku sehat dan hidup, aku akan bekerja dengan mengandalkan tubuhku sendiri agar mendapatkan uang." ucapnya serius.
Mendengar itu Abella mendongakkan wajahnya, dan menatap langsung pada wajah Satya.
"Maaf," ujarnya.
"Buat?"
"Semuanya, maaf kalau ucapan Papa tadi buat kamu sakit hati."
"Aku gak apa apa, itu udah biasa. Penghinaan mah udah jadi makanan sehari hari aku, Bby."
Abella hanya menatap sendu ke arah kekasihnya. Dan dengan tiba tiba tangan kiri Abel yang di perban meraih tengkuk Satya. Tidak lama kedua benda lunak manis dan lembut itu pun saling mengecap dan memagut menyalurkan rasa yang tengah mereka rasakan saat ini.
Tidak lama Satya terlebih dahulu mengakhiri pagutan bibir mereka berdua dan itu membuat Abel mengerang tidak rela.
"Kamu belum ganti baju kan? Ayo ganti baju nya dulu aku udah bawain."
Satya tersenyum saat melihat wajah cemberut Abella. Abella menyibakkan selimutnya lalu perlahan turun dari atas tempat tidur sembari memegangi botol infusnya.
"Mau sendiri apa mau di bantu?"
"Sendiri aja ganti celananya, tapi nanti pas ganti baju bantuin ya aku gak bisa make sendiri kehalangin infus." pintanya.
Satya mengangguk lalu keluar dari kamar mandi.
5 menit kemudian
"Pit, udah."
Satya membuka pintu kamar mandi. Disana terlihat Abella sudah selesai mengganti celana plus celana dal*amnya, dengan tangan dia angkat tinggi sembari memegangi botol infus.
"Kamu belum pake baju, Bby?" tanya Satya. Abella hanya menampilkan wajah polosnya saat mendengar ucapan Sang Kekasih.
Dengan telaten Satya memakai kan satu buah piyama berlengan pendek dan berkancing tanpa mengganti br*a yang dipakai Abella terlebih dahulu.
"Kenapa B*h nya gak di copot dulu?" ucap Abella santai. Tapi sepertinya tidak untuk pria yang ada dihadapannya saat ini. Gerakan tangan Satya yang tengah memasukan lengan baju ke tangan Abel lapun otomatis langsung berhenti.
"Bby, yang bener aja, aku cowok normal, Bby. Ya kali gak berdiri pas liat itu." ujarnya frustasi.
Abella tersenyum jail saat melihat wajah nelangsa Satya, sudut bibirnya berkedut- matanya menatap lekat pada Satya yang terlihat malu malu saat mengancingkan piyama nya.
"Ya kalau mau pegang ya tinggal pegang aja, apa susahnya sih orang udah di depan mata juga." ucapnya santai.
Bukannya tenang, Satya justru kian frustasi dan menghela napas kasar.
"Justru itu, nanti bukan cuma megang, tapi lebih dari megang."
"Ya udah buka aja b*hnya, kamu kan tau kulit aku suka gatel kalo pake dale*man yang sama selama sehari. Bahkan dari kemarin aku gak ganti."
Satya menghirup nafas nya dalam dalam. Dia sedang mempersiapkan mental dan hati untuk menahan godaan. Dengan perlahan Satya membuka kancing kait bra yang di pakai oleh Abella, setelah kembali melepaskan piyama itu, dan tidak lama br*a itu lepas dari tubuh Abella. Demi apa pun saat ini Satya mati matian menahan gejolak panas dari dalam dirinya, ingat dia juga pria normal.
"Udah!" ucap Satya frustasi.
Abella membalikan tubuhnya menghadap langsung pada Satya setelah dia membelakanginya tadi.
"Muka kamu kenapa, kok tegang gituh." cetus Abella geli. Satya mendengus kecil sedangkan Abel malah terkikik, kala melihat wajah kekasihnya yang memerah.
"Bukan muka aku aja yang tegang, yang lain juga ikut tegang." cicitnya.
Tawa Abella pecah mendengar ucapan Satya,
"Utu utu tayang, jadi aku harus tanggung jawab nih?"
Abella malah semakin gencar menggoda kekasih nya itu, dia terhibur melihat Satya yang malu malu kucing saat kembali mengancingkan piyama nya.
"Udah kan, ayo kamu bisa sakit lagi kalo kelamaan di kamar mandi!"
Abella masih tersenyum melihat wajah tegang Satya. Suruh siapa dia tidak mau memegangnya, bukankah tadi dirinya sudah mengizinkan kalau mau pegang ya tinggal pegang saja, tersiksa sendiri kan jadinya.
PASTI LAGI ADA SETAN DIANTARA MEREKA BERDUA 🙈🙈🙈🙈🙈
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
Ririe Handay
kuatkan iman mu saty
2023-03-02
0
mang tri
abell mulai nakal ya, nnt beneran abang satya pengen km ga kasi 😀🤦
2023-02-24
0
denisa ajja
kak Satya,,,,,
mau satu dong buat calon mantu aku nanti.
2023-02-24
0