Sudah pukul delapan malam, bintang tak ada begitu juga bulan. Aku menghela napasku. Baru kali ini aku merasa otakku sangat sakit karena terlalu banyak berpikir. Dan aku benar-benar putus asa karena terjebak di rumah tua ini. Tiba-tiba perutku terasa lapar. Tanpa pikir panjang aku berjalan ke arah lemari. Di situ ada beberapa bungkus indomie dan snack. Aku membawanya dari kota waktu itu.
"Yah... tinggal tiga bungkus mienya," aku mendesah kesal. Persediaan makananku hampir habis. Dan aku tidak tau berapa lama lagi aku di sini.
Tak mau termanggu lama-lama ku bawa saja dua bungkus mie yang ada di lemari itu. Mengingat kak Dimas belum makan aku ingin mengajaknya makan bersama.
"Jangan sampai dia memakan makanan yang di hidangkan nenek," kataku lantas menuju keluar kamar.
Sebelum keluar aku mendongakkan kepala berharap nenek itu tidak ada di luar melainkan di kamarnya. Dan yes... dia sepertinya ada di kamar, sekarang aku bisa masak mie. Saat aku berjalan ke dapur ku lihat Dimas sedang mengambil nasi untuk makan. Aku terperanjat kaget.
'Oh tidak' Batinku.
"Kak mau ngapain?" Aku segera berlari ke arahnya mencegah Kak Dimas memakan itu.
"Mau makanlah Sa, kamu gak lihat aku ambil nasi?" Jawabnya padaku.
" Gak boleh... kakak makan ini aja sama aku, biar aku yang masak mienya," kataku lalu menyingkirkan Nasi yang ada ditangan kak Dimas ke atas meja.
"Loh kenapa Sa?" Tanyanya heran.
"eemm... nanti aja ya Risa kasih tau, pokoknya sekarang kita makan ini aja oke?" kataku sambil mengangkat mie itu setinggi kepalaku.
Kak Dimas hanya mengangguk setuju, dan duduk di meja makan dengan rapi. Aku ingin menunjukkan padanya apa yang sebenarnya di hidangkan nenek untuk kami. Tapi nanti sajalah sesudah makan. Kalau sebelum makan aku lihatkan ke dia yang ada bakalan hilang nafsu makan ku.
Hanya tiga menit dan mienga sudah masak. Aku bawa mie itu ke meja dan meletakkan satu mangkok di depan dia, dan aku memilih duduk di depannya sambil memulai menyantap mie ku sendiri.
***
Setelah selesai makan segera aku cuci mangkok bekas makan kami tadi. Setelah selesai mencuci aku lihat Dimas tidak ada di meja makan.
"Apa dia keluar?" gumamku dan segera mencari keberadaan Dimas. Tempat yang ku tuju pertama kali adalah teras depan rumah, dan iyaa.... dia di sana berdiri menatap langit.
"Kak ngapain disini?" Aku menghampirinya yang berdiri seorang diri di teras rumah dengan di temani lampu berwarna kuning yang remang-remang. Jika di lihat dari luar rumah ini semakin menyeramkan karena nuansa lampu yang redup.
"Gak ada cuman pengen cari angin aja," jawabnya lalu menoleh kepadaku.
"ehmm... tapikan dingin kak," aku lalu mengusap lengan kananku dengan telapak tangan kiriku.
"hehehe... aku udah biasa kemah di luar Sa, jadi udah biasa rasain dingin kayak gini," jawabnya lagi.
"ooh... ngomong-ngomong apa temen abang yang lain gak khawatir, gak ada yang nelpon gitu?"
"ehmm... di sini gak ada sinyal dek, tapi mereka pasti khawatir apalagi adek ku," matanya berubah sendu, sepertinya dia merindukan adiknya.
Aku yang mendengar itu ikut terdiam. Aku juga merindukan adik-adik. Mereka pasti sekarang sangat khawatir dengan ku.
"Oh ya Risa... tadi kok kamu ngelarang kakak buat makan nasinya?" Dia teringat tentang kejadian tadi.
"Ah iya... ada yang mau aku tunjukin sama kakak, ayo ke dapur," ajakku kepadanya.
Dia mengangguk dan mengikuti ku ke dapur, sesampai di dapur aku keluarkan kalung yang aku simpan di saku celana.
"Kak usap dua kalu liontinnya," ku sodorkan kalung itu padanya.
"Kok di usap? untuk apa?" Dia keheranan.
"Udah... kakak usap aja," aku malas menjelaskan, biar dia lihat sendiri.
Tak mau berdebat denganku dia segera mengusap kalung itu dan tiba-tiba apa yang aku lihat dia juga bisa melihatnya.
"Astaga....!" Dia langsung menutup mulutnya kaget.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 175 Episodes
Comments
Wartin Kusmawati
seru thoor
2022-01-26
1
Raini Sapitri
Seruuu bgt ceritanya. Kira² apa yaaa yg di lihat nya ????
2021-06-05
1
Riski Fajar
Wah cerita nya sangat menarik 😍,
tetap semangat melanjutkan karya mu kakak
jangan lupa mampir di novel ku ya "Stranded in a Dungeon"
terimakasih
2021-02-15
7