Matahari mulai condong ke timur, penglihatan kami juga mulai terbatas. Suara jangkrik mulai bersaut-sautan menyapa satu sama lain. Sudah cukup jauh kami berjalan ke dalam hutan, kaki ku sudah mulai pegal. Dimas yang menyadari itu menghentikan langkah kakinya.
"Apa kita istirahat saja sebentar?" Dimas membalikkan badannya ke arah ku. Sekarang mata kami bertemu.
"Hmm... gak usah kak, aku masih kuat kok. Kalau kita istirahat dulu nanti hari keburu malam", Kata ku sembari menunjuk ke arah matahari terbit, yang sekarang hanya meninggalkan cahaya ke jinggaan di langit biru. Sedangkan wujud matari sudah tenggelam di balik pepohonan tinggi itu.
"Kamu yakin?, Kalau enggak biar aku gendong" Katanya sembari menepuk pundak bidangnya itu.
"Eh... tidak usah kak, aku bisa jalan sendiri kok", Dimas menatap ku menyelidik, seakan tak percaya padaku. Sehingga itu membuatku salah tingkah, dengan cepat aku palingkan wajah ku ke kanan.
Ah... mungkin sekarang pipiku sudah memerah.
"Hah..." Dimas menghela napasnya. Dia pun langsung menggenggam tangan kiriku, yang sontak membuatku kembali kaget.
"Baiklah kalau gitu, biarkan aku memegang tanganmu. Sekarang sudah malam, aku takut nanti kita terpisah" Mendengar penuturannya aku hanya mengangguk dan mengikuti kemana dia melangkah.
Aku rasa tidak cukup jauh dari tempat kami berdiri tadi, tiba-tiba terdengar suara teriakan seseorang.
"TOLONG!!! TOLONG!!!! KU MOHON!!!" Jelas itu suara perempuan. Bukan hanya teriakan tapi juga di selingi isakan tangis.
Mendengar itu kami berdua langsung menatap satu sama lain. Seakan mengerti akan pikiran masing-masing kami pun langsung berlari mencari asal suara itu.
"Kak.... itu!" Aku menarik tangan kak Dimas agar berhenti berlari dan menunjuk ke arah perempuan yang sedang berlari ketakutan.
"Ocha..." Dimas memanggil perempuan itu. Merasa namanya disebut,Ocha melihat ke sekitarnya dan menemukan kami berdua yang bersembunyi di balik Semak-semak yang cukup tinggi. Tanpa berfikir panjang Ocha langsung mendekat dan bersembunyi bersama kami.
"Di...Dimas...?" Perempuan itu terbata... sepertinya masih susah menetralkan oksigen ke dalam tubuhnya.
"Sssttt... " Kak Dimas meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya mengisyaratkan untuk tetap diam. Ocha mengangguk mengerti.
Sudah cukup lama kami bersembunyi bahkan sekarang langit sudah gelap. Tapi tak melihat siapa pun atau apa pun itu datang mengejar Ocha.
"Sepertinya dia kehilangan jejak mu deh cha" Kata kak Dimas yang masih fokus memperhatikan sekitar.
"Iya, sepertinya gitu" Kata Ocha sembari duduk di atas semak-semak itu. Dia kelihatan sangat kelelahan. Bajunya bukan hanya terkena keringat tapi juga ada bercak darah di situ. Sedangkan rambutnya sudah banyak yang lepas dari ikat rambut.
"Ya udah, Kalau gitu kamu ikut kita aja, sekalian mengganti bajumu" Kata ku sembari ikut duduk disampingnya dan memegang bahu kanannya. Dia hanya mengangguk tanpa menjawab.
***
Sesampainya di rumah tua itu, ku lihat lampu teras belum di nyalakan, dan saat aku membuka pintu lampu di dalam pun belum di nyalakan juga. kemana nenek itu? Apa dia tidak di rumah dari pagi?
"Nek... nenek..." Aku mencarinya ke dapur, kamar mandi tapi tak ada tanda-tanda ke beradaan nenek tua itu.
"Di kamar kali ya?" Kata ku sembari memutar kenop pintu. Baru saja ingin membuka Ocha berbicara dan sepertinya padaku.
"Apakah kamu ada baju yang bisa aku pakai?" Katanya sembari tersenyum canggung kepadaku.
"Ah... iya ada, ayo ke kamar ku" Kami pun masuk ke dalam kamar kecualu kak Dimas yang terduduk di atas kursi yang ada di ruang tamu.
"Pakai ini" Kataku sembari memberikan baju kaos merah berlengan panjang dan celana jeans panjang dan tak lupa aku memberikannya handuk.
"Kamar mandi ada di dapur, kamu bisa membersihkan bada di sana" Kata ku seramah yang aku bisa.
"Hmm... makasih ya..."
"Risa" Kataku sembari mengulurkan tangan padanya.
Dia tersenyum dan menjabat tanganku. "Terimakasih ya Risa," aky mengangguk dan melepaskan tangannya.
Sambil menunggu Ocha di kamar mandi aku kembali mencari nenek itu. Saat aku buka pintu kamarnya yang terlihat hanyalah satu kasur dan dua lemari. Tidak ada siapa-siapa di situ. Tapi karena penasaran aku tetap masuk ke dalam kamar nenek. Heran saja, bajunya sedikit tapi kenapa lemarinya dua?
Pertama aku buka lemari yang paling dekat dengan kasur dan isinya hanyalah baju dan sarung nenek itu. Semuanya berwarna hijau.
"Tidak ada yang menarik di sini" Kataku sembari menutup pintu lemari itu. Lalu aku berjalan menuju ke arah lemari yang terakhir.
"Apa ini?" Aku tercengang melihat isi lemari itu. Sebuah ruangan bawah tanah, ada tangga.
"Risa... kau sedang apa?" Dimas muncul di balik pintu kamar nenek di susul Ocha yang berdiri di belakangnya.
"Lihat ini"Kataku menunjuk ke arah lemari... bukan tapi ruangan rahasia.
"Wah... ada ruangan di sini?, Kita masuk?" Kata Dimas sembari menatap ku dan Ocha bergantian.
"Hmm... tunggu dulu, bagaimana kalau ada sesuatu yang mengerikan di situ?" Ocha sepertinya masih ke takutan.
"Aku tidak tau, makanya supaya tau bagaimana kalau kita masuk ke sana?" Dimas menjawab dengan enteng.
"Bagaimana kalau nenek itu tiba-tiba pulang? Dan kita masih ada di dalam? Bisa habis kita" kataku mengajukan penolakan.
"Hah... ya sudah... kalau begitu tunggu beberapa saat lagi, kalau nenek tidak kunjung pulang, kita harus masuk ke dalam, kalau kalian tidak mau aku sendiri yang masuk" Dimas lalu keluar dari kamar dengan kesal. Sepertinya dia sangat penasaran dengan ruangan itu.
'dia fikir dia saja yang penasaran, aku juga, tapi bukankah kita harus hati-hati?' Batinku.
***
Hening, tidak ada yang memulai percakapan, padahal sekarang kami berkumpul di ruang tamu. Aku berusaha memecahkan ke canggungan dan aku mendapatkan pokok yang bisa di bahas.
"Ocha... apa yang terjadi dengan mu?" Aku penasaran dengan hal yang membuat Ocha berlarian minta tolong di tambah lagi bajunya yang ada bercak darah.
Bukannya menjawab pertanyaan ku, Ocha malah menangis. "Cha... kok nangis?" Kali ini Dimas yang bertanya.
"Kami di kejar seseorang dia membawa benda tajam di tangannya. Aku... aku berhasil kabur dan Liam... dia...." Isakannya mulai mengencang, Liam? Itu adalah nama mayat yang kami temukan.
"Iya... aku sudah tau Liam telah tiada, bagaimana dengan yang lainnya?" Wajah Dimas terlihat sendu.
"Aku tidak tau dengan mereka bertiga, kami memencar mencari mu Mas... Aku dengan Liam dan adikmu dengan mereka berdua" Jelas Ocha.
Sekarang aku tau, Ternyata Ocha juga salah satu temannya Dimas yang tersesat di sini. Dan darah yang ada di baju Ocha pasti darahnya Liam.
"Bagaimana rupa orang itu?" Tanya ku.
"Aku tak bisa melihatnya dengan jelas, mukanya tertutup dengan rambut panjangnya". Jelas Ocha.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 175 Episodes
Comments
visual peran utama dan pemain mana thor
2022-10-01
1
Pujiati Fathir
serem,pasti itu nenek kintan
2022-09-29
1
Yulita
👍👍👍👍👍
2022-07-12
1