Pulang Kampung - Episode 2 bertemu nenek

"Sa, kamu masih ingat rumah nenekkan?" Tanya ibu memastikan.

"Masih bu, pokoknya rumah nenek itu satu-satunya yang gak di cat, dan di belakang rumah nenek kalau gak salah ada dua pohon manggiskan?" Jawabku sambil mengingat-ingat.

"Iya yang itu, nanti ayah gak bisa ngantar kamu sampai ke dalam jadi kamu harus masuk sendiri ke kampung dan cari sendiri ya." Aku hanya mengangguk mendengarkan penuturan ayah.

***

5 jam berlalu, dan sekarang mobil ayah sudah sampai di depan sebuah gang kecil.

"Sa, ayah cuman bisa antar kamu sampai sini. Soalnya mobil ayah gak bisa masuk ke dalam, kamu pergi sendiri ya?, Sampaikan salam ayah buat nenek, oke..?."

"Oke yah, Risa pamit dulu, Assalamualaikum," ku salami tangan ayah, dan bergegas keluar dari mobil.

Setelah koperku di keluarkan oleh ayah, aku melambaikan tangan padanya. Aku tertegun beberapa saat memandangi gang yang ada di depanku. Di samping kiri gang ada banyak pohon coklat yang berjejer dengan rapi, sedangkan disebelah kanannya ada rumah yang kelihatannya paling besar dari rumah yang lainnya.

Tapi entah kenapa rumah itu terlihat cukup menakutkan. Dengan di halamannya begitu banyak rumput-rumput liar tumbuh dengan subur, Bahkan jendela yang ada di samping rumah itu sudah hampir tertutup oleh rumput ilalang. Benar-benar tidak terurus.

"Belum juga masuk, tapi auranya udah gak enak, huuh... kalau ada hantunya gimana... ooh... tidak... tidak... berpikir positif Risa pikir positif, zaman sekarang mana ada hantu." Aku menarik nafas perlahan-lahan dan menghembuskannya lewat mulut ku.

"Oke... aku gak pengecut... mendingan sekarang cari rumah nenek dulu." Baru juga mau masuk ke gang, tiba-tiba adzan sudah berkumandang, menunjukkan sudah masuk waktu magrib. Ah.. sepertinya aku kelamaan berfikir.

***

Sudah hampir setengah jam aku berjalan sambil menarik koper yang berat ini,tapi kok rumah nenek gak kelihatan juga. Hampir putus asa tiba-tiba di ujung jalan aku menemukan persimpangan.

"Kok ada persimpangan disini? Perasaan kata ibu dari gang tadi sampai ke rumah nenek itu lurus aja, gak ada persimpangan, apa rumah nenek udah lewat ya?" Aku terpaku di antara kedua simpang itu, mau balik ke belakang bingung, mau milih antara dua simpang ini juga bingung.

Sekilas ku lihat layar hpku, ternyata sekarang sudah jam 7 malam. Malah dari tadi gak ada rumah warga satu pun di gang ini, yang ada cuman rumah besar di ujung gang tadi. Apa jangan-jangan ayah salah gang ya?.

Di tambah lagi tenggorokan ku sudah sangat kering. Dari sini aku mendengar suara air, kayaknya sungai, tapi malam-malam gini yakin mau cari sungai? Di tengah hutan kayak gini? Ah... mendingan aku nahan haus dari pada harus mencari sungai nanti malah tambah ke sasar.

Mau nelpon tapi sinyal hilang, padahal kata nenek sinyal di kampung kuat, baterai hp mau habis lagi. Ingin rasanya mengupat tapi takut dosa.

"AKHHH... Gimana dong? Gak ada orang sama sekali lagi di sini. Perasaan dulu waktu pulang kampung warganya ramai. Apa aku ke sasar di hutan ya? Huaaa... Ibu.. Mau pulang," badan ku bergemetar ketakutan, di sini sangat gelap dan dingin, aku benar-benar ketakutan. Siapa pun tolong aku!!.

"Risa....," tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggilku, seperti suara nenek-nenek.

"Riisaaa...," suara itu semakin terdengar jelas, tanpa menunggu lama aku pun mulai mencari dimana asal suara itu.

Tidak berapa lama aku melihat sebuah rumah tua yang terlihat cukup familiar, dan di depan pintunya aku melihat seseorang tengah duduk di sana dengan di terangi lampu teras yang remang-remang.

"Itu kamu Risa?" Orang yang ku lihat itu langsung berdiri dari tempat duduknya dan tersenyum padaku.

Dia tau namaku? Apa itu nenek? Aku pun mendekat ke rumah itu dan berusaha melihat wajah orang yang baru saja memanggilku.

Aku tersenyum dan memekik kegirangan "Nenek...!! Yey... akhirnya sampai di rumah nenek."

Nenek merangkulku dan mencium pipiku lalu mengusap kepala ku dengan lembut " kamu sudah besar Sa, ayo masuk , dan segera istirahat, pasti capekkan?."

"Iya nek. Capek banget, Risa masuk ya nek," aku melangkah masuk dengan buru-buru, pengen rasanya cepat-cepat tiduran di atas kasur.

"Sa, kamar kamu di sebelah kiri nomor dua ya," teriak nenek sambil mengunci pintu depan.

Segera aku meluncur ke dalam kamar dan menghempaskan diriku dengan nyaman di atas kasur. Baru juga ingin menutup mata, tiba-tiba sekelebat cahaya lewat di depan jendela kamar itu yang menghadap kebelakang rumah. Walau rasanya sangat capek tapi jiwa kepo membawa ku berdiri dan mengintip lewat jendela, entah cahaya apa itu, aku sangat penasaran!.

Aku lihat sekeliling halaman belakang rumah nenek lewat jendela tapi tidak ada yang aneh.

"Ah mungkin itu perasaan ku saja,"aku pun berencana menutup jendela itu tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu.

"Bukankah di belakang rumah nenek ada dua pohon manggis? Tapi kok sekarang gak ada? Apa di tebang ya?" Halaman belakang rumah nenek yang ku lihat sekarang hanya ada satu pohon coklat di sana. Padahal seingatku bukan pohon coklat tapi pohon manggis.

"HOAAAM...," sepertinya kantuk sudah menyuruhku tidur. Aku pun berhenti memikirkan perkara pohon manggis dan coklat itu, dan mulai merebahkan diriku di atas kasur lalu mulai terjun kedunia mimpi. Bahkan aku tak peduli dengan baju yang belum aku bereskan ke dalam lemari. Di tambah lagi aku sama sekali tidak mandi dan mencuci muka. Benar-benar lelah. Sepatu yang ku kenakan masih menyangkut manis di ke dua kakiku.

Tanpa ku sadari di ruang tamu nenek tersenyum penuh kemenangan. Entah apa yang membuatnya tersenyum aneh seperti itu. Siapa pun yang melihat senyumannya pasti akan curiga. "Dia cucuku," Gumam nenek di tengah ruang tamu yang sepi.

****

Sedangkan tidak jauh di luar rumah itu ada yang memperhatikan kamar Risa. Tatapannya sendu, seperti terselip rasa iba di situ. Entah iba kepada siapa?.

"Nenek itu cepat juga mencari mangsa," dia berdeham kecil dan perlahan-lahan menghilang dalam ke gelapan malam. Meninggalkan angin yang meniup sepoi-sepoi. membelai setiap daun- daun pepohonan. Sekali-kali terdengar suara jangkrik saling bersaut- sautan seperti paduan suara yang tengah konser di malam hari, memberikan nyanyian tidur kepada manusia yang ada di dekat mereka.

Sedangkan langit sepertinya tak mendukung ke indahan suara jangkrik-jangkrik itu. Tiada bintang dan bulan yang menghiasi langit malam ini. Hanya langit gelap tanpa warna dan sinar dari ribuan bintang.

"Kretak.... kretak...," jendela ku tiba-tiba terbuka dan berbunyi karena terdorong oleh angin yang menerobos masuk ke dalam kamar ku. Hingga membuatku merapatkan selimut hingga menutup ke atas kepalaku. Malam ini aku tidur dengan nyenyak. Bahkan tak sadar pintu jendela terbuka dan ada yang duduk di bibir jendela. Memperhatikan ku.

Terpopuler

Comments

FiaNasa

FiaNasa

cermin sosok ayah yg tak bertanggung jawab banget..

2023-01-26

0

Tuh ayah nya kok gitu sih.
ama anak cwek trus katanya ortu kok gak mau anterin ampe rmh malah d taro d jln.boro² mampir bilang nitip anak.
bnr² bpk gk tau ahlak.
jadi nyasar kan tuh si risa nya

2022-09-30

1

Yulita

Yulita

wah kaya nya cerita nya udh mulay menarikni👍

2022-07-11

1

lihat semua
Episodes
1 Pulang Kampung - Episode 1 perdebatan
2 Pulang Kampung - Episode 2 bertemu nenek
3 teman baru
4 teman baru 2
5 Tamu Pertama
6 Siapa yang jahat?
7 Tentang Sherly
8 Tamu Manusia
9 Tamu Manusia 2
10 Ketahuan?
11 batin Rani
12 Dimas Incarannya?
13 Sherly dan Rani
14 Nenek Intan dan Nenek Kintan
15 Masalalu Yang Terbongkar
16 Dia Iblis
17 Siapa Pelakunya?
18 Ruangan Tersembunyi
19 Dia Bukan Manusia Lagi
20 Dia Bukan Manusia Lagi Part 2
21 Kita Ketemu
22 Awal Konflik
23 Kedatangan Kelvin dan Rudi
24 Pertemuan Kakak dan Adik
25 Rani Sendiran
26 Teror
27 Teror 2
28 Was - Was
29 Rencana Penyelamatan Diri
30 Rencana Penyelamatan Diri 2
31 Rencana Penyelamatan Diri 3
32 Perubahan Rani
33 Raksasa
34 Izin ya
35 Perlawanan Rani
36 Perlawanan Rani 2
37 perlawanan Rani 3
38 pengumuman
39 Menghadapi masalah
40 Rani mulai bertindak
41 Memulai perjalanan
42 Bertemu Denis
43 Denis dan Rani
44 Kebenaran sesungguhnya
45 Ocha
46 Ocha 2
47 Ocha 3
48 Ocha 4
49 Rencana di Mulai
50 Pengganggu!
51 Ocha Pulang
52 Sudah Waktunya
53 Kembali ke Titik awal
54 Di Mulai
55 Kembali ke Rumah Itu
56 Masuk!
57 Masuk! 2
58 Masuk!3
59 Masuk! 4
60 Akhir dari semuanya
61 Rencana Rani
62 Rencana Rani 2
63 Selesaikah?
64 Berakhir
65 Pulang
66 Sapa Author
67 Dia ikut pulang
68 Hari Baru Dengan Masalah Baru
69 Tentang Risa
70 Piano Berdarah
71 Mimpi
72 Mimpi 2
73 Mimpi 3
74 Masalalu Yang Terbongkar
75 Hasil Menjelajahi Masalalu
76 Pertemuan Pertama Risa dengan Liya
77 Identitas S
78 Kontrak
79 Masalah Lagi?
80 Kehadiran Ahmad
81 Rahasia Di Balik Tusuk Rambut
82 Gadis berkerudung hitam
83 Dia Mengenalinya
84 Teka-teki Baru, Masalah Baru
85 Pria Berponi
86 Nathan
87 Antara Kunci Rudi dan Kotak Nathan
88 Kunci kompas
89 Isi Kotak Nathan
90 Bertemu Titik Terang?
91 S
92 Dosa S
93 Rahasia Di Masalalu
94 Perkenalan Dengan Ahmad
95 Rencana keberangkatan
96 Kembali ke Kampung
97 pengumuman
98 Gadis di luar kamar
99 Pertemuan
100 Luka Lama Yang Terbuka
101 Cerita dari Liya
102 Bertemu Bima
103 Bertemu Bima
104 Bertemu Bima 2
105 Terbongkar 1
106 Terbongkar 2
107 Terbongkar 3
108 Terbongkar 4
109 Terbongkar 5
110 terbongkar 6
111 Terbongkar 7
112 Maaf
113 Terbongkar 8
114 Alasan di balik semua masalah
115 Wanita misterius
116 Ibu Liya
117 Ibu Liya
118 perjalanan
119 Bertemu mama Liya
120 Akhir Dari Masalah Liya
121 Akhir Dari Masalah Liya 2
122 Akhir dari Masalah Liya 3
123 Mereka Pulang
124 Pria Pemain Piano - Episode 1
125 Pria Pemain Piano - epsiode 2
126 Pria Pemain Piano - Episode 3
127 Pria Pemain Piano - Episode 4
128 Pria Pemain Piano - Episode 5
129 Pria Pemain Piano - Episode 6
130 Pria Pemain Piano - Episode 7
131 Pria Pemain Piano - Episode 8
132 Pria Pemain Piano - Episode 9
133 Pria Pemain Piano - Episode 10
134 Pria Pemain Piano - Episode 11
135 Pria Pemain Piano - Episode 12
136 Pria Pemain Piano - Episode 13
137 Pria Pemain Piano - Episode 14
138 Pria Pemain Piano - Episode 15
139 Pria Pemain Piano - Episode 16
140 Pria Pemain Piano - Episode 17
141 pengumuman
142 Pria Pemain Piano - Episode 17
143 Pria Pemain Piano - Episode 18
144 19
145 20
146 21
147 22
148 23
149 24
150 25
151 26
152 27
153 28
154 29
155 30
156 31
157 32
158 33
159 34
160 Author
161 35
162 36
163 37
164 38
165 39
166 40
167 41
168 42
169 43
170 44
171 45
172 46
173 47
174 48
175 49
Episodes

Updated 175 Episodes

1
Pulang Kampung - Episode 1 perdebatan
2
Pulang Kampung - Episode 2 bertemu nenek
3
teman baru
4
teman baru 2
5
Tamu Pertama
6
Siapa yang jahat?
7
Tentang Sherly
8
Tamu Manusia
9
Tamu Manusia 2
10
Ketahuan?
11
batin Rani
12
Dimas Incarannya?
13
Sherly dan Rani
14
Nenek Intan dan Nenek Kintan
15
Masalalu Yang Terbongkar
16
Dia Iblis
17
Siapa Pelakunya?
18
Ruangan Tersembunyi
19
Dia Bukan Manusia Lagi
20
Dia Bukan Manusia Lagi Part 2
21
Kita Ketemu
22
Awal Konflik
23
Kedatangan Kelvin dan Rudi
24
Pertemuan Kakak dan Adik
25
Rani Sendiran
26
Teror
27
Teror 2
28
Was - Was
29
Rencana Penyelamatan Diri
30
Rencana Penyelamatan Diri 2
31
Rencana Penyelamatan Diri 3
32
Perubahan Rani
33
Raksasa
34
Izin ya
35
Perlawanan Rani
36
Perlawanan Rani 2
37
perlawanan Rani 3
38
pengumuman
39
Menghadapi masalah
40
Rani mulai bertindak
41
Memulai perjalanan
42
Bertemu Denis
43
Denis dan Rani
44
Kebenaran sesungguhnya
45
Ocha
46
Ocha 2
47
Ocha 3
48
Ocha 4
49
Rencana di Mulai
50
Pengganggu!
51
Ocha Pulang
52
Sudah Waktunya
53
Kembali ke Titik awal
54
Di Mulai
55
Kembali ke Rumah Itu
56
Masuk!
57
Masuk! 2
58
Masuk!3
59
Masuk! 4
60
Akhir dari semuanya
61
Rencana Rani
62
Rencana Rani 2
63
Selesaikah?
64
Berakhir
65
Pulang
66
Sapa Author
67
Dia ikut pulang
68
Hari Baru Dengan Masalah Baru
69
Tentang Risa
70
Piano Berdarah
71
Mimpi
72
Mimpi 2
73
Mimpi 3
74
Masalalu Yang Terbongkar
75
Hasil Menjelajahi Masalalu
76
Pertemuan Pertama Risa dengan Liya
77
Identitas S
78
Kontrak
79
Masalah Lagi?
80
Kehadiran Ahmad
81
Rahasia Di Balik Tusuk Rambut
82
Gadis berkerudung hitam
83
Dia Mengenalinya
84
Teka-teki Baru, Masalah Baru
85
Pria Berponi
86
Nathan
87
Antara Kunci Rudi dan Kotak Nathan
88
Kunci kompas
89
Isi Kotak Nathan
90
Bertemu Titik Terang?
91
S
92
Dosa S
93
Rahasia Di Masalalu
94
Perkenalan Dengan Ahmad
95
Rencana keberangkatan
96
Kembali ke Kampung
97
pengumuman
98
Gadis di luar kamar
99
Pertemuan
100
Luka Lama Yang Terbuka
101
Cerita dari Liya
102
Bertemu Bima
103
Bertemu Bima
104
Bertemu Bima 2
105
Terbongkar 1
106
Terbongkar 2
107
Terbongkar 3
108
Terbongkar 4
109
Terbongkar 5
110
terbongkar 6
111
Terbongkar 7
112
Maaf
113
Terbongkar 8
114
Alasan di balik semua masalah
115
Wanita misterius
116
Ibu Liya
117
Ibu Liya
118
perjalanan
119
Bertemu mama Liya
120
Akhir Dari Masalah Liya
121
Akhir Dari Masalah Liya 2
122
Akhir dari Masalah Liya 3
123
Mereka Pulang
124
Pria Pemain Piano - Episode 1
125
Pria Pemain Piano - epsiode 2
126
Pria Pemain Piano - Episode 3
127
Pria Pemain Piano - Episode 4
128
Pria Pemain Piano - Episode 5
129
Pria Pemain Piano - Episode 6
130
Pria Pemain Piano - Episode 7
131
Pria Pemain Piano - Episode 8
132
Pria Pemain Piano - Episode 9
133
Pria Pemain Piano - Episode 10
134
Pria Pemain Piano - Episode 11
135
Pria Pemain Piano - Episode 12
136
Pria Pemain Piano - Episode 13
137
Pria Pemain Piano - Episode 14
138
Pria Pemain Piano - Episode 15
139
Pria Pemain Piano - Episode 16
140
Pria Pemain Piano - Episode 17
141
pengumuman
142
Pria Pemain Piano - Episode 17
143
Pria Pemain Piano - Episode 18
144
19
145
20
146
21
147
22
148
23
149
24
150
25
151
26
152
27
153
28
154
29
155
30
156
31
157
32
158
33
159
34
160
Author
161
35
162
36
163
37
164
38
165
39
166
40
167
41
168
42
169
43
170
44
171
45
172
46
173
47
174
48
175
49

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!