"Sa, kamu masih ingat rumah nenekkan?" Tanya ibu memastikan.
"Masih bu, pokoknya rumah nenek itu satu-satunya yang gak di cat, dan di belakang rumah nenek kalau gak salah ada dua pohon manggiskan?" Jawabku sambil mengingat-ingat.
"Iya yang itu, nanti ayah gak bisa ngantar kamu sampai ke dalam jadi kamu harus masuk sendiri ke kampung dan cari sendiri ya." Aku hanya mengangguk mendengarkan penuturan ayah.
***
5 jam berlalu, dan sekarang mobil ayah sudah sampai di depan sebuah gang kecil.
"Sa, ayah cuman bisa antar kamu sampai sini. Soalnya mobil ayah gak bisa masuk ke dalam, kamu pergi sendiri ya?, Sampaikan salam ayah buat nenek, oke..?."
"Oke yah, Risa pamit dulu, Assalamualaikum," ku salami tangan ayah, dan bergegas keluar dari mobil.
Setelah koperku di keluarkan oleh ayah, aku melambaikan tangan padanya. Aku tertegun beberapa saat memandangi gang yang ada di depanku. Di samping kiri gang ada banyak pohon coklat yang berjejer dengan rapi, sedangkan disebelah kanannya ada rumah yang kelihatannya paling besar dari rumah yang lainnya.
Tapi entah kenapa rumah itu terlihat cukup menakutkan. Dengan di halamannya begitu banyak rumput-rumput liar tumbuh dengan subur, Bahkan jendela yang ada di samping rumah itu sudah hampir tertutup oleh rumput ilalang. Benar-benar tidak terurus.
"Belum juga masuk, tapi auranya udah gak enak, huuh... kalau ada hantunya gimana... ooh... tidak... tidak... berpikir positif Risa pikir positif, zaman sekarang mana ada hantu." Aku menarik nafas perlahan-lahan dan menghembuskannya lewat mulut ku.
"Oke... aku gak pengecut... mendingan sekarang cari rumah nenek dulu." Baru juga mau masuk ke gang, tiba-tiba adzan sudah berkumandang, menunjukkan sudah masuk waktu magrib. Ah.. sepertinya aku kelamaan berfikir.
***
Sudah hampir setengah jam aku berjalan sambil menarik koper yang berat ini,tapi kok rumah nenek gak kelihatan juga. Hampir putus asa tiba-tiba di ujung jalan aku menemukan persimpangan.
"Kok ada persimpangan disini? Perasaan kata ibu dari gang tadi sampai ke rumah nenek itu lurus aja, gak ada persimpangan, apa rumah nenek udah lewat ya?" Aku terpaku di antara kedua simpang itu, mau balik ke belakang bingung, mau milih antara dua simpang ini juga bingung.
Sekilas ku lihat layar hpku, ternyata sekarang sudah jam 7 malam. Malah dari tadi gak ada rumah warga satu pun di gang ini, yang ada cuman rumah besar di ujung gang tadi. Apa jangan-jangan ayah salah gang ya?.
Di tambah lagi tenggorokan ku sudah sangat kering. Dari sini aku mendengar suara air, kayaknya sungai, tapi malam-malam gini yakin mau cari sungai? Di tengah hutan kayak gini? Ah... mendingan aku nahan haus dari pada harus mencari sungai nanti malah tambah ke sasar.
Mau nelpon tapi sinyal hilang, padahal kata nenek sinyal di kampung kuat, baterai hp mau habis lagi. Ingin rasanya mengupat tapi takut dosa.
"AKHHH... Gimana dong? Gak ada orang sama sekali lagi di sini. Perasaan dulu waktu pulang kampung warganya ramai. Apa aku ke sasar di hutan ya? Huaaa... Ibu.. Mau pulang," badan ku bergemetar ketakutan, di sini sangat gelap dan dingin, aku benar-benar ketakutan. Siapa pun tolong aku!!.
"Risa....," tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggilku, seperti suara nenek-nenek.
"Riisaaa...," suara itu semakin terdengar jelas, tanpa menunggu lama aku pun mulai mencari dimana asal suara itu.
Tidak berapa lama aku melihat sebuah rumah tua yang terlihat cukup familiar, dan di depan pintunya aku melihat seseorang tengah duduk di sana dengan di terangi lampu teras yang remang-remang.
"Itu kamu Risa?" Orang yang ku lihat itu langsung berdiri dari tempat duduknya dan tersenyum padaku.
Dia tau namaku? Apa itu nenek? Aku pun mendekat ke rumah itu dan berusaha melihat wajah orang yang baru saja memanggilku.
Aku tersenyum dan memekik kegirangan "Nenek...!! Yey... akhirnya sampai di rumah nenek."
Nenek merangkulku dan mencium pipiku lalu mengusap kepala ku dengan lembut " kamu sudah besar Sa, ayo masuk , dan segera istirahat, pasti capekkan?."
"Iya nek. Capek banget, Risa masuk ya nek," aku melangkah masuk dengan buru-buru, pengen rasanya cepat-cepat tiduran di atas kasur.
"Sa, kamar kamu di sebelah kiri nomor dua ya," teriak nenek sambil mengunci pintu depan.
Segera aku meluncur ke dalam kamar dan menghempaskan diriku dengan nyaman di atas kasur. Baru juga ingin menutup mata, tiba-tiba sekelebat cahaya lewat di depan jendela kamar itu yang menghadap kebelakang rumah. Walau rasanya sangat capek tapi jiwa kepo membawa ku berdiri dan mengintip lewat jendela, entah cahaya apa itu, aku sangat penasaran!.
Aku lihat sekeliling halaman belakang rumah nenek lewat jendela tapi tidak ada yang aneh.
"Ah mungkin itu perasaan ku saja,"aku pun berencana menutup jendela itu tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu.
"Bukankah di belakang rumah nenek ada dua pohon manggis? Tapi kok sekarang gak ada? Apa di tebang ya?" Halaman belakang rumah nenek yang ku lihat sekarang hanya ada satu pohon coklat di sana. Padahal seingatku bukan pohon coklat tapi pohon manggis.
"HOAAAM...," sepertinya kantuk sudah menyuruhku tidur. Aku pun berhenti memikirkan perkara pohon manggis dan coklat itu, dan mulai merebahkan diriku di atas kasur lalu mulai terjun kedunia mimpi. Bahkan aku tak peduli dengan baju yang belum aku bereskan ke dalam lemari. Di tambah lagi aku sama sekali tidak mandi dan mencuci muka. Benar-benar lelah. Sepatu yang ku kenakan masih menyangkut manis di ke dua kakiku.
Tanpa ku sadari di ruang tamu nenek tersenyum penuh kemenangan. Entah apa yang membuatnya tersenyum aneh seperti itu. Siapa pun yang melihat senyumannya pasti akan curiga. "Dia cucuku," Gumam nenek di tengah ruang tamu yang sepi.
****
Sedangkan tidak jauh di luar rumah itu ada yang memperhatikan kamar Risa. Tatapannya sendu, seperti terselip rasa iba di situ. Entah iba kepada siapa?.
"Nenek itu cepat juga mencari mangsa," dia berdeham kecil dan perlahan-lahan menghilang dalam ke gelapan malam. Meninggalkan angin yang meniup sepoi-sepoi. membelai setiap daun- daun pepohonan. Sekali-kali terdengar suara jangkrik saling bersaut- sautan seperti paduan suara yang tengah konser di malam hari, memberikan nyanyian tidur kepada manusia yang ada di dekat mereka.
Sedangkan langit sepertinya tak mendukung ke indahan suara jangkrik-jangkrik itu. Tiada bintang dan bulan yang menghiasi langit malam ini. Hanya langit gelap tanpa warna dan sinar dari ribuan bintang.
"Kretak.... kretak...," jendela ku tiba-tiba terbuka dan berbunyi karena terdorong oleh angin yang menerobos masuk ke dalam kamar ku. Hingga membuatku merapatkan selimut hingga menutup ke atas kepalaku. Malam ini aku tidur dengan nyenyak. Bahkan tak sadar pintu jendela terbuka dan ada yang duduk di bibir jendela. Memperhatikan ku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 175 Episodes
Comments
FiaNasa
cermin sosok ayah yg tak bertanggung jawab banget..
2023-01-26
0
Tuh ayah nya kok gitu sih.
ama anak cwek trus katanya ortu kok gak mau anterin ampe rmh malah d taro d jln.boro² mampir bilang nitip anak.
bnr² bpk gk tau ahlak.
jadi nyasar kan tuh si risa nya
2022-09-30
1
Yulita
wah kaya nya cerita nya udh mulay menarikni👍
2022-07-11
1