Tentang Sherly

Aku termenung menatap langit-langit kamarku, badanku masih belum berhenti menggigil karena ketakutan. Entah apa yang akan terjadi padaku ke depannya, tanpa aku sadari air mata telah merembes di pipi. Aku belum pernah merasakan putus asa seperti ini. Sekarang aku benar-benar sendirian. Aku benar-benar menyesal menuruti keinginan orang tuaku untuk pergike kampung. Tapi seandainya saja aku menolak, pasti yang pergi adalah di antara kedua adikku. Tidak, mereka tidak boleh sampai di posisiku. Tak apa-apa, lebih baik aku yang mengalami kesusahan ini, yang penting jangan adik-adikku. Semoga mereka baik-baik saja di kota.

"Bu... aku mau pulang " aku terisak. Bagaimana pun aku tak ingin mati konyol di tempat ini. Aku mau pulang. "TRAAK...." Jendela kamar ku terbuka seperti di dobrak seseorang. Angin mulai berhembus masuk ke dalam kamar ku. Hawa dingin mulai membelai kulitku. Dengan cepat aku merapatkan tanganku memeluk lutut ku.

'Hah... apa lagi ini?' batinku.

Tiba-tiba aku merasa ada seseorang berjalan ke arahku. Tanganku langsung menarik selimut hingga menutupi kepalaku. Tak menunggu berapa lama, seseorang duduk tepat di sampingku.

"Sa... ini aku," itu suara Sherly, tapi suaranya terdengar parau.

'Apa hantu bisa menangis' batinku. Mereka bahkan memperlakukan aku tanpa memikirkan aku yang bakal kesakitan. Masa iya mereka bisa menangis sedangkan hantu itu tidak memiliki perasaan. Ada-ada saja.

"A...ada apa sher?" Aku benar-benar ingin sendiri sekarang, tapi hantu satu ini tak pernah membiarkan aku tenang bahkan walau hanya sebentar. "Apa kau tau, melihatmu yang sekarang aku seperti melihat diriku yang dulu" tiba-tiba saja dia curhat, fikirku.

"mengapa kau bisa seperti sekarang sher?" kata ku yang mulai memberanikan diri untuk duduk di sebelahnya, dan syukurlah dia sekarang merubah wujudnya menjadi gadis pucat bukan wajah aslinya. Aku agak tenang sedikit. Walau tetap saja mengerikan untuk duduk berdua dengan hantu.

"Ini karena aku kabur dari rumah, dulu aku anak yang nakal Sa, aku membangkang semua perintah orang tuaku, aku selalu keluar malam-malam, nongkrong dengan teman sambil merokok," matanya terlihat kosong, seperti dia sekarang tak berada disini. Mungkin sekarang dia sedang berada di mana dia dulu masih hidup. Aku merasakan sedih yang dia rasakan. Mungkin aku masih punya kesempatan untuk hidup. Tapi dia? Tidak ada harapan lagi untuknya. Yang membunuh Sherly benar-benar keterlaluan.

"Mengapa kau kabur dari rumah?" Aku mulai tertarik mendengar ceritanya.

"Waktu itu aku di paksa untuk sekolah di asrama yang jauh dari kampung, dengan tujuan agar aku tak bertemu teman-temanku yang biad*p itu. Aku marah, aku tak mau pergi jauh dari kampung, aku melarikan diri dan sampailah aku di rumah yang kau tempati ini. Kamar ini dulu juga kamar ku Sa. Awalnya aku juga percaya dengan nenek tua itu, ku fikir dia benar-benar akan menolongku, ternyata dia malah menjadikan aku makanannya. Dia hanya manusia berhati iblis." Air mata Sherly mulai menetes, aku tak tau, apa dia jujur atau sekedar mengarang cerita, tapi kalau di lihat dari raut wajahnya, dia terlihat serius. Terlihat ada luka lama yang tak bisa terobati.

"Tapi nenekku bukan orang yang seperti itu, aku tak percaya padamu, kau bohong," nadaku mulai meninggi, sehingga membuat Sherly melotot dan tiba-tiba mencekikku dengan tangan dinginnya itu.

"BERAPA KALI AKU HARUS BILANG PADAMU M A N U S I A B O D O H ! DIA BUKAN NENEKMU! KAU TELAH SALAH JALAN, APAKAH KAU TIDAK BISA MEMBEDAKAN MANA NENEKMU DAN YANG MANA BUKAN????" Sherly penuh emosi sekarang, aku benar-benar tak dapat bergerak kalau sudah dalam cengkramannya.

"BRAK," dia melepaskan tangannya dari leherku. Aku lega.

"Uhuk...uhuk..., maaf Sherly aku meragukanmu, awalnya aku memang curiga dengan sifat nenek yang tidak seperti biasanya. Dan aku juga curiga saat melihat di belakang rumah tidak ada pohon Manggis.. " jelasku sambil mengelus leherku yang sakit. Aku mengambil kaca kecil di atas meja rias, dan mengarahkannya ke leherku, ada bekas merah di leherku, dia meninggalkan jejak dan juga rasa sakit.

"Tentu saja pohon itu tidak ada, dia hanya meniru rumah nenekmu Sa, dia tersenyum menyeringai.

"Lalu kenapa dia bisa tau namaku saat aku pertama kali kesini?" Itu cukup membuat ku penasaran, dari mana nenek itu tau namaku?

"Dia saudara nenek mu sa.... Nenek Kintan" Sherly mengatakannya tanoa ekspresi, dia sedikit menekankan di kata Kintan.

"ne...nek punya kembaran?" aku terkejut mendengarnya. Karena memang orang tuaku atau pun nenek belum pernah cerita tentang kembaran itu. Aku fikir nenek anak tunggal di keluarganya karena aku tak memiliki saudara sepupu.

"Iya... saat kau lahir, Kintan masih akur dengan Intan nenekmu, tapi karena suatu masalah dia menjadi seperti sekarang, mencari tumbal untuk mewujudkan keinginannya" Tiba-tiba hantu berpipi bolong itu berdiri tepat di sampingku. Entah dari mana hantu itu datang, benar-benar seenak jidat mereka saja masuk ke kamar orang. Selalu membuatku jantungan.

"Be...benarkah?" Tanyaku kepada temannya sherly itu.

Dia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Entah siapa nama hantu pipi bolong itu, aku tak berminat kenalan dengannya. Nanti suatu saat mereka sendiri yang akan memberi tahuku. Begitulah fikirku.

"Besok kau akan menempuh hari yang sangat panjang Risa" Kata Sherly. Lalu sherly dan temannya itu pergi tanpa pamit. Seperti angin, berlalu hingga menggerakkan tirai jendelaku dan membuat jendela itu bergerak sehingga meninggalkan suara kaca yang beradu dengan dinding.

"DASAR HANTU SIALAN... DATANG TIBA-TIBA PERGI JUGA GAK BILANG-BILANG, SEENAK JIDATNYA SAJA" cerocosku setelah mereka menghilang.

"Plak" tiba-tiba ada seseorang yang memukul kepala ku dengan kuat.

"Auu... sakit" Aku mengusap kepala bagian belakangku, seperti terkena benda keras, sakit sekali.

"Aku dengar apa yang katakan Risa...." Itu suara Sherly. Dia memang selalu kasar. Aku yakin waktu dia masih hidup pasti banyak orang yang kesal dengan tingkahnya yang seenak jidat itu.

'IIH.... JADI HANTU KOK KASAR AMAT' sekarang aku mengumpat dalam hati, takut kalau teriak dia dengar dan memukul ku lagi. Aku mendengus kesal, lalu beralih ke arah jendela. Terlihat langit malam sekarang tidak ada bulan di sana maupun bintang. Bukan hanya hutan ini yang sunyi, langit juga terlihat sunyi. Aku menundukkan kepalaku membiarkan angin malam membelai rambutku. Sekali-kali aku menyeka air mata yang keluar lagi.

Handphone ku menyala, ada notif di sana, saat aku lihat.

"Ah.. aku lupa sekarang hari ulang tahun Rani" Alu selalu menandai kalender dan menghidupkan alarm setiap jam 00.00 WIB di setiap hari spesial. Seperti saat ini, biasanya aku bakalan naik ke atas kasur Rani yang terletak di atasku. Kasur kami kasur susun, cuman Rudi yang beda kamar sama kami. Setelah aku naik ke atas aku akan mencium keningnya dan meletakkan kado dariku di samping kasurnya.

"Kakak, rindu kamu Rani... Apa kakak masih bisa ketemu kamu?"

Terpopuler

Comments

Yulita

Yulita

ada yg sedikit aneh Thor,masa udah sejau ini tida ada keluarga yg curiga atau mencari tau keberadaan anny

2022-07-12

2

Raini Sapitri

Raini Sapitri

Ooohh ternyata yg jahat itu nenek Kintan toch, kembaran nya nenek Intan ??
Trs nenek Kintan mencari tumbal itu untuk apa yaaaa ?????

2021-06-04

1

Raul Gonzalez~®®f❣️

Raul Gonzalez~®®f❣️

meski rada horor tapi ada humor nya juga .. semangat kak🤗

2021-01-17

2

lihat semua
Episodes
1 Pulang Kampung - Episode 1 perdebatan
2 Pulang Kampung - Episode 2 bertemu nenek
3 teman baru
4 teman baru 2
5 Tamu Pertama
6 Siapa yang jahat?
7 Tentang Sherly
8 Tamu Manusia
9 Tamu Manusia 2
10 Ketahuan?
11 batin Rani
12 Dimas Incarannya?
13 Sherly dan Rani
14 Nenek Intan dan Nenek Kintan
15 Masalalu Yang Terbongkar
16 Dia Iblis
17 Siapa Pelakunya?
18 Ruangan Tersembunyi
19 Dia Bukan Manusia Lagi
20 Dia Bukan Manusia Lagi Part 2
21 Kita Ketemu
22 Awal Konflik
23 Kedatangan Kelvin dan Rudi
24 Pertemuan Kakak dan Adik
25 Rani Sendiran
26 Teror
27 Teror 2
28 Was - Was
29 Rencana Penyelamatan Diri
30 Rencana Penyelamatan Diri 2
31 Rencana Penyelamatan Diri 3
32 Perubahan Rani
33 Raksasa
34 Izin ya
35 Perlawanan Rani
36 Perlawanan Rani 2
37 perlawanan Rani 3
38 pengumuman
39 Menghadapi masalah
40 Rani mulai bertindak
41 Memulai perjalanan
42 Bertemu Denis
43 Denis dan Rani
44 Kebenaran sesungguhnya
45 Ocha
46 Ocha 2
47 Ocha 3
48 Ocha 4
49 Rencana di Mulai
50 Pengganggu!
51 Ocha Pulang
52 Sudah Waktunya
53 Kembali ke Titik awal
54 Di Mulai
55 Kembali ke Rumah Itu
56 Masuk!
57 Masuk! 2
58 Masuk!3
59 Masuk! 4
60 Akhir dari semuanya
61 Rencana Rani
62 Rencana Rani 2
63 Selesaikah?
64 Berakhir
65 Pulang
66 Sapa Author
67 Dia ikut pulang
68 Hari Baru Dengan Masalah Baru
69 Tentang Risa
70 Piano Berdarah
71 Mimpi
72 Mimpi 2
73 Mimpi 3
74 Masalalu Yang Terbongkar
75 Hasil Menjelajahi Masalalu
76 Pertemuan Pertama Risa dengan Liya
77 Identitas S
78 Kontrak
79 Masalah Lagi?
80 Kehadiran Ahmad
81 Rahasia Di Balik Tusuk Rambut
82 Gadis berkerudung hitam
83 Dia Mengenalinya
84 Teka-teki Baru, Masalah Baru
85 Pria Berponi
86 Nathan
87 Antara Kunci Rudi dan Kotak Nathan
88 Kunci kompas
89 Isi Kotak Nathan
90 Bertemu Titik Terang?
91 S
92 Dosa S
93 Rahasia Di Masalalu
94 Perkenalan Dengan Ahmad
95 Rencana keberangkatan
96 Kembali ke Kampung
97 pengumuman
98 Gadis di luar kamar
99 Pertemuan
100 Luka Lama Yang Terbuka
101 Cerita dari Liya
102 Bertemu Bima
103 Bertemu Bima
104 Bertemu Bima 2
105 Terbongkar 1
106 Terbongkar 2
107 Terbongkar 3
108 Terbongkar 4
109 Terbongkar 5
110 terbongkar 6
111 Terbongkar 7
112 Maaf
113 Terbongkar 8
114 Alasan di balik semua masalah
115 Wanita misterius
116 Ibu Liya
117 Ibu Liya
118 perjalanan
119 Bertemu mama Liya
120 Akhir Dari Masalah Liya
121 Akhir Dari Masalah Liya 2
122 Akhir dari Masalah Liya 3
123 Mereka Pulang
124 Pria Pemain Piano - Episode 1
125 Pria Pemain Piano - epsiode 2
126 Pria Pemain Piano - Episode 3
127 Pria Pemain Piano - Episode 4
128 Pria Pemain Piano - Episode 5
129 Pria Pemain Piano - Episode 6
130 Pria Pemain Piano - Episode 7
131 Pria Pemain Piano - Episode 8
132 Pria Pemain Piano - Episode 9
133 Pria Pemain Piano - Episode 10
134 Pria Pemain Piano - Episode 11
135 Pria Pemain Piano - Episode 12
136 Pria Pemain Piano - Episode 13
137 Pria Pemain Piano - Episode 14
138 Pria Pemain Piano - Episode 15
139 Pria Pemain Piano - Episode 16
140 Pria Pemain Piano - Episode 17
141 pengumuman
142 Pria Pemain Piano - Episode 17
143 Pria Pemain Piano - Episode 18
144 19
145 20
146 21
147 22
148 23
149 24
150 25
151 26
152 27
153 28
154 29
155 30
156 31
157 32
158 33
159 34
160 Author
161 35
162 36
163 37
164 38
165 39
166 40
167 41
168 42
169 43
170 44
171 45
172 46
173 47
174 48
175 49
Episodes

Updated 175 Episodes

1
Pulang Kampung - Episode 1 perdebatan
2
Pulang Kampung - Episode 2 bertemu nenek
3
teman baru
4
teman baru 2
5
Tamu Pertama
6
Siapa yang jahat?
7
Tentang Sherly
8
Tamu Manusia
9
Tamu Manusia 2
10
Ketahuan?
11
batin Rani
12
Dimas Incarannya?
13
Sherly dan Rani
14
Nenek Intan dan Nenek Kintan
15
Masalalu Yang Terbongkar
16
Dia Iblis
17
Siapa Pelakunya?
18
Ruangan Tersembunyi
19
Dia Bukan Manusia Lagi
20
Dia Bukan Manusia Lagi Part 2
21
Kita Ketemu
22
Awal Konflik
23
Kedatangan Kelvin dan Rudi
24
Pertemuan Kakak dan Adik
25
Rani Sendiran
26
Teror
27
Teror 2
28
Was - Was
29
Rencana Penyelamatan Diri
30
Rencana Penyelamatan Diri 2
31
Rencana Penyelamatan Diri 3
32
Perubahan Rani
33
Raksasa
34
Izin ya
35
Perlawanan Rani
36
Perlawanan Rani 2
37
perlawanan Rani 3
38
pengumuman
39
Menghadapi masalah
40
Rani mulai bertindak
41
Memulai perjalanan
42
Bertemu Denis
43
Denis dan Rani
44
Kebenaran sesungguhnya
45
Ocha
46
Ocha 2
47
Ocha 3
48
Ocha 4
49
Rencana di Mulai
50
Pengganggu!
51
Ocha Pulang
52
Sudah Waktunya
53
Kembali ke Titik awal
54
Di Mulai
55
Kembali ke Rumah Itu
56
Masuk!
57
Masuk! 2
58
Masuk!3
59
Masuk! 4
60
Akhir dari semuanya
61
Rencana Rani
62
Rencana Rani 2
63
Selesaikah?
64
Berakhir
65
Pulang
66
Sapa Author
67
Dia ikut pulang
68
Hari Baru Dengan Masalah Baru
69
Tentang Risa
70
Piano Berdarah
71
Mimpi
72
Mimpi 2
73
Mimpi 3
74
Masalalu Yang Terbongkar
75
Hasil Menjelajahi Masalalu
76
Pertemuan Pertama Risa dengan Liya
77
Identitas S
78
Kontrak
79
Masalah Lagi?
80
Kehadiran Ahmad
81
Rahasia Di Balik Tusuk Rambut
82
Gadis berkerudung hitam
83
Dia Mengenalinya
84
Teka-teki Baru, Masalah Baru
85
Pria Berponi
86
Nathan
87
Antara Kunci Rudi dan Kotak Nathan
88
Kunci kompas
89
Isi Kotak Nathan
90
Bertemu Titik Terang?
91
S
92
Dosa S
93
Rahasia Di Masalalu
94
Perkenalan Dengan Ahmad
95
Rencana keberangkatan
96
Kembali ke Kampung
97
pengumuman
98
Gadis di luar kamar
99
Pertemuan
100
Luka Lama Yang Terbuka
101
Cerita dari Liya
102
Bertemu Bima
103
Bertemu Bima
104
Bertemu Bima 2
105
Terbongkar 1
106
Terbongkar 2
107
Terbongkar 3
108
Terbongkar 4
109
Terbongkar 5
110
terbongkar 6
111
Terbongkar 7
112
Maaf
113
Terbongkar 8
114
Alasan di balik semua masalah
115
Wanita misterius
116
Ibu Liya
117
Ibu Liya
118
perjalanan
119
Bertemu mama Liya
120
Akhir Dari Masalah Liya
121
Akhir Dari Masalah Liya 2
122
Akhir dari Masalah Liya 3
123
Mereka Pulang
124
Pria Pemain Piano - Episode 1
125
Pria Pemain Piano - epsiode 2
126
Pria Pemain Piano - Episode 3
127
Pria Pemain Piano - Episode 4
128
Pria Pemain Piano - Episode 5
129
Pria Pemain Piano - Episode 6
130
Pria Pemain Piano - Episode 7
131
Pria Pemain Piano - Episode 8
132
Pria Pemain Piano - Episode 9
133
Pria Pemain Piano - Episode 10
134
Pria Pemain Piano - Episode 11
135
Pria Pemain Piano - Episode 12
136
Pria Pemain Piano - Episode 13
137
Pria Pemain Piano - Episode 14
138
Pria Pemain Piano - Episode 15
139
Pria Pemain Piano - Episode 16
140
Pria Pemain Piano - Episode 17
141
pengumuman
142
Pria Pemain Piano - Episode 17
143
Pria Pemain Piano - Episode 18
144
19
145
20
146
21
147
22
148
23
149
24
150
25
151
26
152
27
153
28
154
29
155
30
156
31
157
32
158
33
159
34
160
Author
161
35
162
36
163
37
164
38
165
39
166
40
167
41
168
42
169
43
170
44
171
45
172
46
173
47
174
48
175
49

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!