Pohon di belakang rumah dan sifat nenek masih menjadi sebuah misteri. Kemana hilangnya pohon itu? Dan kemana hilangnya sikap hangat nenek? Di tambah lagi nenek seperti baik-baik saja tidak seperti orang yang sakit.
"Sa...," Angin berhembus membuka jendela kamarku. Sekarang sudah pukul 20.00 WIB.
"Itu... kamu Sherly?" Tanya ku.
"iyaa... Keluar yok... " Dia masih tak menunjukkan wujudnya, hanya suaranya yang terdengar.
"Sekarang? Kau gila.... aku bukan hantu seperti mu yang bisa keluyuran malam hari dengan aman tanpa takut." Aku mengerutkan keningku, dia benar-benar tak kasian denganku? Bagaiman jika nanti banyak makhluk astral yang mengerikan dan binatang buas?. Siapa yang akan menolongku nanti?.
"Pakai aja kalung itu," katanya lalu tertawa. "Gak mau, jelas-jelas kalau aku pakai kalung itu aku bisa lihat semua hantu." Dia bercanda atau gimana? masa iya malam-malam gini suruh keluar dengan pakai kalung ini? Dia mau aku mati di tempat apa?
"aku bilang pakai ya pakai Risa, aku bilang keluar ya keluar," nadanya mulai meninggi, sepertinya dia sudah marah. Aku menggelengkan kepala tanda penolakan. Tanpa menunggu waktu lama, badanku lagi-lagi terangkat dan kali ini leher ku terasa di cekik.
"UHUK...UHUK...." aku terbatuk mencoba melepaskan apapun yang mencekek ku. Tapi semuanya sia-sia,tidak ada apa-apa di leherku, tubuhku terasa lemas hampir ke habisan nafas.
"Le...lepasin... Sher... okee... aku ikut kamu," seketika badanku merosot ke lantai. Aku memegang leherku dengan lega. Setidaknya dia tidak menjadikan aku hantu sekarang. Aku berusaha duduk menggapai apa saja yang bisa menopang tubuhku yang masih terasa lemas. Aku syok.
"Keluar sekarang!" Kali ini dia berteriak. Mungkin dia geram dengan ku yang selalu mencoba menjawab kata-katanya. Dengan pasrah aku berjalan menuju pintu depan secara diam-diam takut ketahuan nenek. Ketika aku keluar terlihat seorang perempuan berdiri di depanku dengan membelakangi ku.
"Ikuti aku" Itu sherly hantu mulut sobek. Aku berhalan di belakangnya mengikuti kemana Sherly membawaku. Tak berani lagi untuk melawan, itu akan sangat bahaya untukku. Sudah beberapa menit akhirnya kami berhenti. Aku yang hanya berteman senter dan hantu ini berdiri tepat di dekat semak-semak dengan pohon besar berdiri di situ. Nafasku sudah ngos-ngosan karena harus berjalan mendaki dan menurun tapi banyak mendakinya. Saat aku lagi asik memandang pohon itu, terdengar suara seorang wanita. Suaranya cukup besar, hingga menggema di tengah hutan nan gelap. Aku terkejut dan Sherly tak bereaksi sama sekali.
"Apakah dia yang akan menjadi tumbal berikutnya?" Entah suara dari mana.
"Iya, dia yang akan menjadi tumbal berikutnya," Sherly menjawab pertanyaan hantu itu, ternyata mereka saling mengenal hanya aku yang merasa asing.
'Tumbal siapa yang Sherly maksud dia?, jangan-jangan itu aku,' mengingat cuman aku manusia yang ada di sini.
"Jadi kau risa?" Seketika seorang muncul di depanku dengan jarak yang sangat dekat, mukanya sangat menyeramkan dengan lubang yang sangat besar di pipi sebelah kanannya, lalu.... akh... ada pisau yang menancap di lehernya. Kenapa pisau itu di biarkan di situ? Apa tidak sakit. Sungguh mengerikan, rupanya tak kalah menyeramkan dari pada Sherly.
"I..i..ya.." Aku terbata dan mataku segera ku pejamkan. Sepertinya aku akan ngompol di celana.
Memalukan!
"jangan sampai telinga kanan mu hilang risa," dia mengusap telinga kananku. Seketika aku terperanjat dan terjatuh. Sherly hanya memperhatikan di sampingku, sedangkan hantu yang satu ini terus mendekatkan dirinya padaku. Pisau di lehernya bergerak-gerak, itu membuatku sangat ngilu. Tangannya sangat dingin dan basah. Kakiku bergetar kuat, kedua lututku terasa lemas sekali. Jangankan untuk kabur, mundur selangkah saja sangat sulit.
"A....apa maksudmu?" Tangan dingin yang tadi mengusap telingaku berpindah menarik rambutku. Sakit! Mengapa mereka terus memperlakukan aku dengan kasar, aku bahkan tak mengenal mereka semasa mereka hidup, dosa apa yang pernah aku perbuat kepada mereka? Sehingga mereka memperlakukan aku sekasar ini. Aku berusaha menahan rambutku dengan tangan kanan agar tak terlalu sakit.
"Menurutlah pada kami Risa... dengan begitu kau selamat" Kata hantu berpipi bolong itu padaku. "Kenapa...? Kalian sebenarnya siapa? " Aku di suruh menurut kepada mereka yang selalu mengasariku?
Yang benar saja!!
"BRAAK," aku terjatuh saat dia melepaskan rambutku, kaki ku benar-benar tak sanggup lagi menopang tubuhku. punggungku terasa sakit. Semoga saja aku masih punya tenaga untuk pulang.
"Kami korban Risa... kami yang dulu adalah kau yang sekarang, tertipu oleh nenek tua itu," jelas Sherly mendekati wajahku. Oh... perutku menjadi sangat mual melihat mulut sobeknya Sherly berbicara. Ya ampun... semoga saja aku tak muntah di depan mereka. Kenapa harus mendekati mukanya seperti itu. Bicara dari tempatnya berdiri saja aku masih bisa mendengarkan dengan baik. Tidak harus mendekat seperti ini.
"Daging pipi kananku sudah di ambilnya, mata kanan Sherly juga diambil, mungkin sekarang giliran telinga kananmu, ha ha ha ha," tawa hantu yang tadi memenuhi telingaku. Yang dia katakan itu mengerikan, tapi malah ketawa.
"Nenek tidak mungkin akan membunuhku... kalian bohong," aku berteriak sambil bergerak mundur.
"BERAPA KALI AKU BILANG.... DIA BUKAN NENEKMU RISAAAAA ," Sherly berteriak tepat di telingaku, aish... rasanya gendang telingaku akan pecah.
"Lalu jika benar begitu, kenapa kalian ingin menolongku?" Aku bertanya masih dalam keadaan menunduk... walau aku sudah sering bertemu dengan sherly, tetap saja aku merasa mual dan jijik jika melihat mukanya. Tidakkan ada orang yang tahan melihat wujud mereka. Entah siapa orang yang telah membunuh mereka? Hingga membuat wujud kedua perempuan itu menjadi mengerikan.
"Karena kami tak ingin keinginannya tercapai, dan kalung itu adalah satu-satunya alat yang bisa menyelamatkanmu, jadi jangan sampai nenek tua itu melihatnya," dia menunjuk ke leherku dimana kalung itu berada. Aku melihat ke arahnya menunjuk. Pasti ini bukan kalung nenek, ini pasti kalung yang mereka berdua buat. Kenapa harus aku sih yang terjebak di sini!!?.
"Sekarang kau pakai cincin ini, dengan cincin ini kau akan tau apa saja yang ingin nenekmu lakukan padamu, ingat... yang paling harus kau perhatikan adalah makananmu!" Peringatannya untuk yang kedua kali.
Aku hanya mengangguk, supaya aku bisa cepat pulang dari tempat mengerikan ini.
***
Setelah semuanya selesai, Sherly menyuruhku pulang sendirian, 'hantu sialan.... Katanya mau nyelamatin aku tapi sekarang aku di biarin sendirian di tengah hutan rimba. Hah... sebenarnya siapa sih yang jahat? Apakah nenek ku yang di rumah bukanlah nenek ku yang sebenarnya? Lalu kalau begitu dimana nenek yang asli?
Aisshhh...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 175 Episodes
Comments
Wartin Kusmawati
makin seru cerita nya
2022-01-26
1
Umi Hidayati
lanjut thor
2021-09-03
1
Neros_steel
hebat ya Risanya, bisa berteman dengan hantu. kalau itu aku sudah duluan lari terbirit birit😂😂
2021-08-18
1