Setelah masuk ke dalam rumah aku hanya berdiam diri di dalam kamar. Tak ada niat untuk berkenalan lebih jauh dengan Dimas yang sekarang sedang asik mengobrol dengan nenek. Ke dengarannya nenek sangat penasaran dengan Dimas, dari dalam kamar aku bisa mendengar obrolan mereka, nenek terus bertanya sampai hal yang pribadi, dia kepo atau bagaimana sih?
"Hah... kok rasanya sepi ya, seharian gak ketemu si sherly?" Tiba-tiba aku kepikiran hantu itu. Biasanya dia selalu datang dan mengganggu ku, Kapan pun dan di mana pun itu. Tak pernah mau membiarkan aku tenang barang sebentar saja. Tapi sekarang dia seakan-akan hilang di telan bumi. Aneh.
Aku tak tau apakah dia memang berniat melindungiku atau tidak, yang pasti saat ini aku cuman bisa percaya padanya. Kalau soal nenek aku sudah mulai tak yakin, sebenarnya apa hubungan nenek dengan tamu yang sering datang ke rumah? Dan bagaimana caranya aku lepas dari tempat ini? Bagaimana aku bisa pulang? Hanya Tuhan yang tau.
"Aku rindu rumahku," seketika air mata jatuh ditengah lamunanku. Entah sudah berapa kali aku menangis di rumah tua ini.
***
Sudut pandang author
Sedangkan di rumah nenek Intan yang asli, keluarga Risa semuanya sudah tiba di sana. Setelah mendapat telpon dari nenek Intan bahwa Risa tak kunjung sampai di rumah Orang tua Risa dan ke dua adiknya memilih untuk segera ke kampung setelah menghubungi polisi bahwa anaknya telah hilang 5 hari. Rani dan Rudi izin untuk libur sekolah, awalnya ibu Rudi tak mengizinkan Rudi ikut, karena dia harus fokus dengan ujian akhirnya, ini adalah tahun terakhir Rudi menjadi murid SMP. Tapi Rudi menolak permintaan ibunya itu, sekarang tidak ada yang lebih penting dari pada kakaknya. Kalau masalah pelajaran yang tinggal, bisa pinjam catatan teman sekelas, itu bisa di atur. Melihat Rudi yang bersikeras ibu akhirnya mengizinkan Rudi untuk ikut ke kampung tapi hanya boleh seminggu, dan ibu tak mau lagi mendengar penolakan. Yang membuat Rudi pasrah dan berharap kakaknya cepat ketemu.
Semua terlihat sedih tak tau bagaimana sekarang kondisi Risa. Sedangkan ayah Risa tak bisa tidur beberapa hari ini setelah menerima telpon dari ibu mertuanya itu. Dia merasa sangat bersalah, seandainya saja dia mengantarkan Risa sampai langsung ke rumah mertuanya itu, mungkin sekarang Risa ada di antara mereka.
"Ayah, makan ya... Nanti ayah sakit kalau gak makan," kata Rani si bungsu sambil meletakkan sepiring nasi beserta lauknya dan air minum di atas meja yang terletak di depan ayahnya.
"Gimana ayah bisa makan Ran, sedangkan kakakmu sekarang tak tau apa kabarnya, entah dia sudah makan atau belum,dia baik-baik saja atau tidak. Tidak ada yang tau Ran, dan ini semua karena ayah." Lagi-lagi Ayahnya menyalahkan dirinya. Rani tak tega melihat ayahnya yang terua menyalahi diri sendiri. Ini tidak baik buat kesehatan ayah mereka. Rani mengusap punggung ayahnya dan berusaha membujuk ayahnya untuk makan.
"Ayah gak boleh nyalahin diri ayah sendiri. Mending sekarang ayah makan, katanya mau cepat cari dan nemuin kak Risa, kalau ayah gak makan ayah gak bakalan punya tenaga buat nyari Kakak, sekarang ayah makan ya, jangan bikin diri ayah sakit," Rani terus membujuk ayahnya untuk makan. Mendengar tuturan anaknya, dia mengalah dan mengambil piring itu lalu makan, walau pun rasanya sangat tidak berselera untuk makan. Karena apa yang di katakan Rani ada benarnya, dia harus punya cukup tenaga untuk mencari si sulung Risa.
"TOK..TOK..." Tiba-tiba suara pintu seperti di ketuk seseorang, Rani yang berada dekat dengan pintu segera membuka pintu rumah. Ternyata itu Kelvin, teman kak Risa dari kota. Dia sudah sampai di sini. Pasti dia ngebut saat mendengar kak Risa hilang. Rani sangat tau, kalau kak Kelvin sangat dekat dengan kakaknya Risa. Dan kak Kelvin adalah satu-satunya teman laki-laki Kak Risa yang menjadi sahabat karib kakaknya itu.
"Loh kakak udah sampai? masuk kak" ajak Rani sambil membuka pintu rumah lebih lebar.
Kelvin mengangguk dan segera masuk sambil mengucap salam "Assalamualaikum" Kelvin memberi salam.
"Waalaikumsalam, eh kelvin duduk sini nak dekat oom" Jawab ibu Risa yang baru keluar dari dapur.
"Gimana kabar om sama tante?" Tanya Kelvin setelah duduk di depan ayahnya Risa yang sedang makan.
"yah... kayak gini lah nak kevin, kami benar-benar khawatir sama Risa" muka ibu Risa berubah sendu, tiada senyuman di situ. Begitu juga dengan anggota keluarga yang lain. Terlihat tak bersemangat bahkan habya untuk sekedar tersenyum.
Kelvin pun sama, saat mendengar Risa hilang, dia benar-benar sangat khawatir. Gadis yang biasanya selalu bisa mengurus diri sendiri dengan baik, sekarang hilang tanpa terdengar kabar apapun. Dia selalu berharap perempuan itu baik-baik saja. Baginya Risa sangat penting dan dia tak ingin Risa kenapa-napa.
Kelvin tertunduk menatap tangannya yang terletak nyaman diatas meja. Tanpa dia sadari matanya mulai berkaca-kaca takut kemungkinan buruk terjadi pada Risa. Sedangkan dia sedang tak ada di samping wanita itu sekarang.
"Kamu dimana Risa?" Batinnya terus bertanya, entah bertanya pada siapa.
"Ada tamu?" Nenek Intan muncul dari dalam kamarnya, Rani yang melihat neneknya keluar dari balik pintu segera membopong neneknya, tubuh kecilnya berusaha membantu sang nenek berjalan ke ruang tamu. Nenek Intan jangankan berjalan untuk duduk saja kadang begitu susah. Tetangga sebelah kadang yang membantu nenek selama ini. Rambutnya sudah hampir semuanya berwarna putih hanya tinggal beberapa helai yang berwarna hitam. Kulit keriput menghiasi tubuh nenek Intan,tapi senyumnya,tutur katanya masih sesopan dulu.
"Nek, saya Kelvin temannya Risa," Kelvin berdiri dari duduknya lalu menyalami nenek Intan yang sekarang sudah sampai di atas tempat duduk yang ada di ruang tamu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 175 Episodes
Comments
Zeety Zola
udah lanjut aja thor kalo risa g ilang kan jd g ada cerita hantu ....simak aja dlu alurnya
2022-11-01
1
thatha angga
bisa2 nya si bapak tega banget anak nya di turunin di jalan
2022-06-04
1
Eno Cuttee
ayah gflok
2022-03-12
1