teman baru 2

sudah jam satu siang, tapi panas masih belum terasa di sini. Tidak ada bedanya hawa dingin dimalam hari maupun siang hari. Padahal langit terlihat sangat cerah. Anehnya kabut juga belum menghilang dan masih dengan setia mengelilingi rumah. Angin meniup dengan kencang, hingga membuat pintu jendela bergoyang-goyang dengan kuat. Takut nanti kacanya pecah aku tutup pintu jendela dan tertegun di depan meja rias.

Hari ini cukup melelahkan, hal-hal yang aneh terus datang mengusikku. Bahkan sekarang aku mendengar suara tawa anak-anak. Ingin rasanya aku menyuruh yang tertawa itu diam. Hah andai saja bisa di suruh diam!. Lambat laun suara itu semakin kecil dan akhirnya menghilang. Ku kira setelah ini aku bisa beristirahat untuk tertidur. Tapi harapan ku tinggal sekedar harapan. Seseorang memanggilku, itu suara perempuan.

"Saaa.... Risaa.., Kahh...lung.... mer...paaaaatii," tanpa aba-aba aku langsung menutup kedua telingaku dengan telapak tanganku, tapi tetap saja suara itu masih terdengar. Membuatku semakin frustasi. Suara itu terus mengulang kata-katanya seperti kaset rusak. Aku mulai tak tahan. Entah keberanian dari mana, aku menjawab panggilan itu.

"Sii...aapa? Apa yang kau... mau... dariku??" Suara ku bergetar, kenapa rumah ini sangat menakutkan? "Kemari sa...., kah...lung... mer..pati...hihihi," ya ampun, hantunya pakai acara ketawa lagi.

"BRAKKK...," pintu kamar ku terbuka seperti di dorong dengan kuat. padahal sudah aku kunci, tapi tidak ada orang di sana. "Kemari.... saaa.. Bawaa... Kah....lung," suara itu mengucapkan kata kalung.... Iya dia bilang kalung.

"kalung? kalung ap....," aku terdiam, bukankah dari tadi dia terus bilang kalung merpati? Apa kalung yang dia maksu....d?.

Ku rogoh saku celana dan mengambil kalung itu. Kalung yang berliontin burung dengan permata merah sebagai permatanya itu mengeluarkan cahaya kemerahan. "Apa? Apa ini?, Ini kalung siapa sebenarnya sih?".

"Sa... ke...maa...ri... bawa... itu...," suara itu kembali menyuruhku kepadanya. Tapi kemana? aku bahkan tak tau dia dimana.

Tiba-tiba tubuhku terangkat ke udara.

"BRAAKK...," dan terhempas kuat ke lantai.

"Auu...," kepalaku benar-benar sakit, sekejap pandangan ku menjadi kabur, dengan tenaga yang ada aku berusaha untuk berdiri, tapi belum sempat aku duduk dengan sempurna kaki ku di seret keluar dari kamar.

Saat melewati pintu kamar nenek, aku ingin berteriak memanggilnya. Namun sia-sia suara ku tak keluar sedikit pun. Ketika tepat sudah berada di halaman depan, sesuatu yang menyeretku entah apa itu berhenti. Aku tergeletak tepat di tengah halaman dengan baju yang sudah kotor dengan tanah.

Aku merangkak mencoba berlari menuju pintu. Namu SIAL!... sepertinya keberuntungan tidak berpihak kepadaku. Untuk yang kedua kalinya aku melayang ke udara dan kembali di hempaskan lagi. SAKIT!! Tulang-tulangku terasa remuk. Tapi aku bahkan tak bisa menjerit ke sakitan. Seluruh suaraku seakan-akan menghilang, sekarang sudah persis seperti orang bisu.

"Jangan coba kabur Sa," tiba-tiba hantu yang ku lihat tadi muncul tepat di depanku. Mungkin hanya berjarak 5 cm. Perut ku terasa sangat mual menatap wajah tanpa satu mata,mulut yang sobek dan berlumuran darah. Itu benar-benar mengocok isi perutku. Menyeramkan dan menjijikkan.

Sialnya kali ini dia tersenyum. Itu membuat sobekan dimulutnya semakin terlihat jelas. Apa dia tidak mengerti bahwa aku sangat tidak nyaman dengan wajahnya itu? Apa aku boleh muntah di depannya? "Jika kau mencoba kabur, aku akan menjatuhkanmu lagi dari udara dan akan ku pastikan tulang punggung mu patah Risa.... hahaha," dia tertawa benar-benar tak berperasaan.

Dan aku hanya menutup mata. Tak sanggup melihat mulut yang sobek itu tertawa. "Apa yang kau inginkan?" Ups... aku bisa bicara. Pas saat kayak gini baru bisa bicara, kenapa gak dari tadi coba, kan aku bisa teriak manggil nenek. Dewi Fortuna sedang tak berpihak kepadaku saat ini. Malangnya aku.

"Bantu aku... Risa," wajahnya mendekat. Sehingga hidungku dapat menangkap bau amis darah itu dengan sangat jelas. "Aa...apa ... yang bi..bi...sa aku bantu," sepertinya aku akan mengompol di celana. Seperti orang gagap, aku tak bisa bicara dengan jelas. Rasa takut sudah merasuk ke dalam darahku.

"Jaga kalung yang aku berikan, jangan sampai nenek tua jahat itu melihatnya," dia menunjuk persis kedalam rumah nenek. "Maksudmu nenekku? Dia jahat? Bukankah kau yang jahat?" Ya,aku tak terima dia mengatai nenek ku jahat, dan sekarang aku berani menentang pernyataan hantu mulut sobek ini. Entah apa yang akan dia lakukan padaku nanti. Satu bola mata hantu itu membulat, dia sepertinya marah padaku.

"nanti kau akan tau siapa orang yang kau panggil nenek itu. Sekarang, simpan kalung itu dengan baik. Selama kalung itu bersama mu kau bisa melihat kebenaran yang sebenarnya. Hanya dengan mengusap liontin kalung itu 2 kali maka kebenaran akan terlihat Risa," dia tersenyum, dan aku bergidik ngeri.

Aku tak berani lagi menjawab, takut nanti salah jawab, bisa-bisa aku di lempar dan di jatuhkan lagi seperti bola basket. Jadi aku hanya mengangguk menyetujui perkataannya.

"sekarang masuklah nanti malam kita bertemu lagi Risa," dia menghilang dan dengan sigap aku berlari menuju kamar. Sebenarnya mau kemana juga aku lari dia pasti bisa menemuiku. Walau matanya satu tapi itu bukan penghalang baginga mencariku. Di tambah lagi dia pasti sudah menjadikan ku target balas dendamnya. Lalu apa hubungannya dengan nenek? Mengapa dia bilang nenek jahat? HAH, sepertinya aku tak bisa menceritakan kepada nenek bahwa aku telah bertemu dengan hantu itu lagi.

"Sa... tadi nenek dengar pintu depan terbuka,apa kamu keluar?" Nenek masuk ke kamarku bahkan tanpa mengetuk terlebih dahulu. Nenek benar-benar banyak berubah.

"Iya nek tadi keluar sebentar," jawabku sekenanya.

"ngapa keluar?" Aduh ni nenek kepo banget.

"Anu nek... tadi aku ketemu sama.... itu... teman baru.... iyaa... teman baru," kali ini aku mengatakn hantu itu teman baru ku. Aish... sebenarnya tak sudi, tapi mau bagaimana lagi?

"Oh... lalu kenapa baju mu kotor?" Ya ampun kali ini dia seperti reporter saja, banyak tanyanya.

"Tadi Risa jatuh nek,tergelincir," bodoh amatlah, sekali ini saja bohong sama orang tua gak apa-apakan?

Mendengar jawabanku nenek hanya mengangguk mengerti dan keluar dari kamarku. Tanpa menutup pintu kembali. MENYEBALKAN. Melihat tingkah nenek yang sepertu itu aku pun perlahan mulai curiga, apakah yang di katakan hantu itu benar? Bahwa nenek ku jahat? Tapi kenapa nenek jadi jahat? Ada apa ini sebenarnya? Kepalaku sakit memikirkan hal- hal aneh seperti ini. Tanpaku sadari air mata sudah mengalir membasahi pipiku. Aku takut, bagaimana keadaanku ke depannya? Apa aku bisa pulang dengan selamat?. Tuhan, aku merindukan keluargaku.

Terpopuler

Comments

•Rifa_Fizka

•Rifa_Fizka

Hallo Thor ijin promosi ya😃
Mampir yuk di novel pertama ku yang berjudul "KEKUATAN HATI WANITA"

Berkisah wanita yg bangkit dari penghianatan.

Mohon dukungannya, terimakasih🙏🏻🤗🌹

2022-10-12

1

Wartin Kusmawati

Wartin Kusmawati

sa banyak " berdoa dan sholat 5 waktu

2022-01-26

1

Yusta Wiewie

Yusta Wiewie

risa ambil wudu sholt baca ayat kursi

2021-12-17

1

lihat semua
Episodes
1 Pulang Kampung - Episode 1 perdebatan
2 Pulang Kampung - Episode 2 bertemu nenek
3 teman baru
4 teman baru 2
5 Tamu Pertama
6 Siapa yang jahat?
7 Tentang Sherly
8 Tamu Manusia
9 Tamu Manusia 2
10 Ketahuan?
11 batin Rani
12 Dimas Incarannya?
13 Sherly dan Rani
14 Nenek Intan dan Nenek Kintan
15 Masalalu Yang Terbongkar
16 Dia Iblis
17 Siapa Pelakunya?
18 Ruangan Tersembunyi
19 Dia Bukan Manusia Lagi
20 Dia Bukan Manusia Lagi Part 2
21 Kita Ketemu
22 Awal Konflik
23 Kedatangan Kelvin dan Rudi
24 Pertemuan Kakak dan Adik
25 Rani Sendiran
26 Teror
27 Teror 2
28 Was - Was
29 Rencana Penyelamatan Diri
30 Rencana Penyelamatan Diri 2
31 Rencana Penyelamatan Diri 3
32 Perubahan Rani
33 Raksasa
34 Izin ya
35 Perlawanan Rani
36 Perlawanan Rani 2
37 perlawanan Rani 3
38 pengumuman
39 Menghadapi masalah
40 Rani mulai bertindak
41 Memulai perjalanan
42 Bertemu Denis
43 Denis dan Rani
44 Kebenaran sesungguhnya
45 Ocha
46 Ocha 2
47 Ocha 3
48 Ocha 4
49 Rencana di Mulai
50 Pengganggu!
51 Ocha Pulang
52 Sudah Waktunya
53 Kembali ke Titik awal
54 Di Mulai
55 Kembali ke Rumah Itu
56 Masuk!
57 Masuk! 2
58 Masuk!3
59 Masuk! 4
60 Akhir dari semuanya
61 Rencana Rani
62 Rencana Rani 2
63 Selesaikah?
64 Berakhir
65 Pulang
66 Sapa Author
67 Dia ikut pulang
68 Hari Baru Dengan Masalah Baru
69 Tentang Risa
70 Piano Berdarah
71 Mimpi
72 Mimpi 2
73 Mimpi 3
74 Masalalu Yang Terbongkar
75 Hasil Menjelajahi Masalalu
76 Pertemuan Pertama Risa dengan Liya
77 Identitas S
78 Kontrak
79 Masalah Lagi?
80 Kehadiran Ahmad
81 Rahasia Di Balik Tusuk Rambut
82 Gadis berkerudung hitam
83 Dia Mengenalinya
84 Teka-teki Baru, Masalah Baru
85 Pria Berponi
86 Nathan
87 Antara Kunci Rudi dan Kotak Nathan
88 Kunci kompas
89 Isi Kotak Nathan
90 Bertemu Titik Terang?
91 S
92 Dosa S
93 Rahasia Di Masalalu
94 Perkenalan Dengan Ahmad
95 Rencana keberangkatan
96 Kembali ke Kampung
97 pengumuman
98 Gadis di luar kamar
99 Pertemuan
100 Luka Lama Yang Terbuka
101 Cerita dari Liya
102 Bertemu Bima
103 Bertemu Bima
104 Bertemu Bima 2
105 Terbongkar 1
106 Terbongkar 2
107 Terbongkar 3
108 Terbongkar 4
109 Terbongkar 5
110 terbongkar 6
111 Terbongkar 7
112 Maaf
113 Terbongkar 8
114 Alasan di balik semua masalah
115 Wanita misterius
116 Ibu Liya
117 Ibu Liya
118 perjalanan
119 Bertemu mama Liya
120 Akhir Dari Masalah Liya
121 Akhir Dari Masalah Liya 2
122 Akhir dari Masalah Liya 3
123 Mereka Pulang
124 Pria Pemain Piano - Episode 1
125 Pria Pemain Piano - epsiode 2
126 Pria Pemain Piano - Episode 3
127 Pria Pemain Piano - Episode 4
128 Pria Pemain Piano - Episode 5
129 Pria Pemain Piano - Episode 6
130 Pria Pemain Piano - Episode 7
131 Pria Pemain Piano - Episode 8
132 Pria Pemain Piano - Episode 9
133 Pria Pemain Piano - Episode 10
134 Pria Pemain Piano - Episode 11
135 Pria Pemain Piano - Episode 12
136 Pria Pemain Piano - Episode 13
137 Pria Pemain Piano - Episode 14
138 Pria Pemain Piano - Episode 15
139 Pria Pemain Piano - Episode 16
140 Pria Pemain Piano - Episode 17
141 pengumuman
142 Pria Pemain Piano - Episode 17
143 Pria Pemain Piano - Episode 18
144 19
145 20
146 21
147 22
148 23
149 24
150 25
151 26
152 27
153 28
154 29
155 30
156 31
157 32
158 33
159 34
160 Author
161 35
162 36
163 37
164 38
165 39
166 40
167 41
168 42
169 43
170 44
171 45
172 46
173 47
174 48
175 49
Episodes

Updated 175 Episodes

1
Pulang Kampung - Episode 1 perdebatan
2
Pulang Kampung - Episode 2 bertemu nenek
3
teman baru
4
teman baru 2
5
Tamu Pertama
6
Siapa yang jahat?
7
Tentang Sherly
8
Tamu Manusia
9
Tamu Manusia 2
10
Ketahuan?
11
batin Rani
12
Dimas Incarannya?
13
Sherly dan Rani
14
Nenek Intan dan Nenek Kintan
15
Masalalu Yang Terbongkar
16
Dia Iblis
17
Siapa Pelakunya?
18
Ruangan Tersembunyi
19
Dia Bukan Manusia Lagi
20
Dia Bukan Manusia Lagi Part 2
21
Kita Ketemu
22
Awal Konflik
23
Kedatangan Kelvin dan Rudi
24
Pertemuan Kakak dan Adik
25
Rani Sendiran
26
Teror
27
Teror 2
28
Was - Was
29
Rencana Penyelamatan Diri
30
Rencana Penyelamatan Diri 2
31
Rencana Penyelamatan Diri 3
32
Perubahan Rani
33
Raksasa
34
Izin ya
35
Perlawanan Rani
36
Perlawanan Rani 2
37
perlawanan Rani 3
38
pengumuman
39
Menghadapi masalah
40
Rani mulai bertindak
41
Memulai perjalanan
42
Bertemu Denis
43
Denis dan Rani
44
Kebenaran sesungguhnya
45
Ocha
46
Ocha 2
47
Ocha 3
48
Ocha 4
49
Rencana di Mulai
50
Pengganggu!
51
Ocha Pulang
52
Sudah Waktunya
53
Kembali ke Titik awal
54
Di Mulai
55
Kembali ke Rumah Itu
56
Masuk!
57
Masuk! 2
58
Masuk!3
59
Masuk! 4
60
Akhir dari semuanya
61
Rencana Rani
62
Rencana Rani 2
63
Selesaikah?
64
Berakhir
65
Pulang
66
Sapa Author
67
Dia ikut pulang
68
Hari Baru Dengan Masalah Baru
69
Tentang Risa
70
Piano Berdarah
71
Mimpi
72
Mimpi 2
73
Mimpi 3
74
Masalalu Yang Terbongkar
75
Hasil Menjelajahi Masalalu
76
Pertemuan Pertama Risa dengan Liya
77
Identitas S
78
Kontrak
79
Masalah Lagi?
80
Kehadiran Ahmad
81
Rahasia Di Balik Tusuk Rambut
82
Gadis berkerudung hitam
83
Dia Mengenalinya
84
Teka-teki Baru, Masalah Baru
85
Pria Berponi
86
Nathan
87
Antara Kunci Rudi dan Kotak Nathan
88
Kunci kompas
89
Isi Kotak Nathan
90
Bertemu Titik Terang?
91
S
92
Dosa S
93
Rahasia Di Masalalu
94
Perkenalan Dengan Ahmad
95
Rencana keberangkatan
96
Kembali ke Kampung
97
pengumuman
98
Gadis di luar kamar
99
Pertemuan
100
Luka Lama Yang Terbuka
101
Cerita dari Liya
102
Bertemu Bima
103
Bertemu Bima
104
Bertemu Bima 2
105
Terbongkar 1
106
Terbongkar 2
107
Terbongkar 3
108
Terbongkar 4
109
Terbongkar 5
110
terbongkar 6
111
Terbongkar 7
112
Maaf
113
Terbongkar 8
114
Alasan di balik semua masalah
115
Wanita misterius
116
Ibu Liya
117
Ibu Liya
118
perjalanan
119
Bertemu mama Liya
120
Akhir Dari Masalah Liya
121
Akhir Dari Masalah Liya 2
122
Akhir dari Masalah Liya 3
123
Mereka Pulang
124
Pria Pemain Piano - Episode 1
125
Pria Pemain Piano - epsiode 2
126
Pria Pemain Piano - Episode 3
127
Pria Pemain Piano - Episode 4
128
Pria Pemain Piano - Episode 5
129
Pria Pemain Piano - Episode 6
130
Pria Pemain Piano - Episode 7
131
Pria Pemain Piano - Episode 8
132
Pria Pemain Piano - Episode 9
133
Pria Pemain Piano - Episode 10
134
Pria Pemain Piano - Episode 11
135
Pria Pemain Piano - Episode 12
136
Pria Pemain Piano - Episode 13
137
Pria Pemain Piano - Episode 14
138
Pria Pemain Piano - Episode 15
139
Pria Pemain Piano - Episode 16
140
Pria Pemain Piano - Episode 17
141
pengumuman
142
Pria Pemain Piano - Episode 17
143
Pria Pemain Piano - Episode 18
144
19
145
20
146
21
147
22
148
23
149
24
150
25
151
26
152
27
153
28
154
29
155
30
156
31
157
32
158
33
159
34
160
Author
161
35
162
36
163
37
164
38
165
39
166
40
167
41
168
42
169
43
170
44
171
45
172
46
173
47
174
48
175
49

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!