Seberkas cahaya menghantam muka ku hingga membuatku terbangun dari tidur. Aku lupa menutup tirai jendela tadi malam. Mataku masih memicing susah terbuka karena cahaya yang menghantam tepat ke mata.
"Udah jam berapa? Kok matahari udah tinggi banget?" Aku raih handphone yang tergeletak di atas meja, saat melihat ke layarnya...
"Ya ampun aku tidur atau apa!? Masa ia sampai jam satu siang!" Bergegas ku raih handuk yang bergantung manja di belakang pintu kamar dan segera menuju kamar mandi. Baru saja sampai di dapur nenek memanggilku.
"Kamu tadi malam kenapa tidur larut Risa?" Nenek yang tiba-tiba nongol di dapur membuat ku kaget hampir terjatuh.
"Ah... anu nek... itu... aku susah tidur," aku tak tau mau jawab apa. Masa iya harus cerita semuanya ke nenek. Yang ada aku bakalan di bunuh oleh kedua hantu itu.
"Oh..." Nenek berlalu sambil membawa teh hangat yang ke lihatannya baru dia buat tadi.
"Ya ampun tu kembaran nenek cuek amat ya," gumamku dalam hati. Tak mau ambil pusing aku berlalu menuju kamar mandi membersihkan badanku yang rasanya udah lengket-lengket. Membiarkan nenek itu sendiri duduk seperti biasa di teras depan. Entah apa yang dia lihat, hingga bisa berjam-jam termenung seperti itu.
***
Selesai mandi ku kenakan baju kaos putih lengan panjang dan jelana jeans panjang. Baru hendak keluar dari kamar ku lihat Cincin yang di kasih hantu pipi bolong tadi. Aku menatapnya penuh selidik, apa gunanya cincin ini? Apa bisa membantuku? Mengapa hantu seperti mereka bisa memiliki perhiasan yang aneh kayak gini.
'Pakai gak ya?' Hmm... ya udah masukin kantong celana dulu aja deh. Takutnya nanti kalau di pakai ke lihatan lagi sama nenek itu. Lebih baik di simpan dulu, nanti kapan waktu terdesaj baru deh di gunain. Saat menuju pintu depan ku lihat nenek sedang termenung seperti biasanya sambil memegang teh hangatnya.
"Nek... aku boleh keluar gak jalan-jalan..." tanyaku hati-hati. Takut nanti dia curiga dengan ku.
"Boleh, tapi nanti tepat jam 4 harus sampai di rumah," katanya yang masih fokus menatap ke depan. Sekali aja gitu, kalau bicara sama orang, orangnya di lihat, kalau kayak gitu terkesan sombong tau gak sih. Hah... untung akunya sabar nek.
"Oke nek," dengan cepat aku bergegas keluar dari halaman rumah itu, takut nanti dia menarik kata-katanya kembali.
Aku terus berjalan mengikuti jalan setapak yang aku ikuti dari rumah tadi. Dan anehnya aku tak menemukan satu rumah pun di sini, hanya rumput-rumpur yang sudah tumbuh tinggi beserta bunga-bunga liar yang tumbuh di sela rumput-rumput itu. Benar kata Sherly, hanya rumah tua itu yang ada di sini. Lalu dimana rumah warga yang lainnya? Kalau aku teriak ada gak ya orang yang bakalan dengar? Sudahlah, lebih baik aku coba berjalan lebih jauh lagi. Selama perjalanan, hanya ada pohon-pohon kelapa dan pohon besar yang mengerikan di setiap jalan yang ku tempuh. Kadang sekali-kali, nyamuk menggigit pipiku. Geram sih, apa lagi pas di pukul, nyamuknya terbang, pipiku sakit.
AISH...
***
Sudut Pandang Author.
Sedangkan di lain sisi ada seseorang yang berlari terengah-engah di kejar oleh seekor ba*i hutan. Dia terus berlari hingga menemukan sebuah pohon besar yang mungkin mampu menyembunyikan dirinya. Dengan sigap dia menyembunyikan badannya. Berharao binatang itu tak menemuinya, seperti main petak umpet. Yang satu bersembunyi yang satunya lagi mencari. Setelah beberapa saat merasa aman tidak terdengar lagi suara b*bi hutan itu dia berniat untuk keluar dari persembunyiannya. Tapi belum juga keluar dia mendengar suara langkah kaki yang menuju ke arahnya.
"Aish... apa binatang itu ke sini lagi?" Keringat sudah mulai bercucuran di pelipisnya. Kakinya bergetar hebat. Dia memang laki-laki, tapi kalau harus berhadapan dengan binatang liarbtanpa ada senjata yang memadai, dia juga takut, lebih baik bersembunyi seperti pengecut dari pada sok berani tapi malah mati di tangan binatang buas. Tidak, itu tidak bagus sama sekali.
B*bi itu terlihat sangat besar,hampir sebesar sapi dengan bulu yang hitam legam membuat b*bi itu semakin menyeramkan. Seandainya dia tertangkap oleh b*bi itu entah apa yang akan terjadi pada dirinya, kembali kepada Tuhan atau kehilangan salah satu alat geraknya. Dia bergidik ngeri membayangkan entah apa yang akan terjadi padanya.
"Apa kau di sini sherly?" Ternyata suara seorang perempuan bukan b*bi fikirnya.
Dia pun bernafas lega. Lalu keluar dari persembunyiannya sambil merapikan bajunya yang telah basah oleh keringatnya.
"Kau siapa?" Risa terperanjat kaget. Iya orang itu Risa. Ini kali pertamanya Risa bertemu orang lain. Tunggu apakah benar, dia orang?
"Oh... itu.. aku Dimas," Sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Aa..apa kau juga hantu penunggu di sini?" Tanya Risa was-was sambil menjulurkan ranting yang entah kapan sudah berada di tangannya.
"Hantu? Ha ha ha... mana ada hantu siang bolong begini nyonya," Dimas terkekeh mendengar pertanyaan gadis di depannya. Risa yang mendengar kata-kata Dimas menyipitkan matanya dan keningnya berkerut. Nanti ketemu hantu beneran baru tau rasa lo, Batin Risa.
"Oh... jadi kau manusia?" Kini Risa sudah menjatuhkan ranting itu.
"Iya tentu saja, tidakkah nyonya lihat kaki ku menginjak tanah?" Dimas menghentak-hentakkan kakinya ke tanah memberi tahu Risa bahwa dia benar-benar manusia. Risa hanya menganggukkan kepalanya, dia benar-benar merasa malu dengan tingkahnya tadi.
Melihat Risa yang hanya diam dia menjulurkan tangannya meminta bersalaman. Berusaha untuk sedikit sopan, walau tadi sudah lancang menertawakan Risa.
"Aku Dimas Gunawan Saputra, kamu?" Tanya Dimas kepada Risa.
"Aku Risa," jawabnya tanpa membalas uluran tangan Dimas. Risa masih was- was dengan orang baru. Dimas menurunkan tangannya dengan canggung karena Risa tak membalas jabatan tangannya.
'Sepertinya dia masih takut dengan ku?' Batin Dimas. Dia mengelap telapak tangannya yang berkeringat ke bajunya. Malu itulah yang Dimas rasakan. Baru kali ini ada perempuan yang mengabaikannya.
"Kalau boleh tau, kenapa kak Dimas bisa sampai di sini?" Risa heran, karena ini kali pertamanya dia melihat manusia disini setelah dirinya dan nenek.
"Aku tadi ke sini sama teman-teman rencananya mau kemah, tapi tadi malah terpisah sama mereka karena di kejar b*bi hutan," jelas Dimas panjang lebar.
"B*...bi hutan?, Di sini?" Tanya Risa ketakutan sambil berjalan mundur mendekat ke arah Dimas.
Melihat Risa yang ke takutan membuat Dimas tersenyum.'Dia lucu' batin Dimas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 175 Episodes
Comments
Aishnina(✿ ♥‿♥)
risa masih gadis masa di panggil nyonya si
ngaco si dimas
2024-04-18
0
Ratu Mutiarasari
bpknya stres tuh..kok anaknya ga dianter sampe tempat sih..
2022-10-06
1
Yulita
akhirnya punya teman juga ya risa
2022-07-12
1