Setelah mengambil nafasnya berkali-kali pak RT pun bersiap-siap melanjutkan ceritanya.
"Waktu malam hari, tepatnya tengah malam lewat Aldo datang ke rumah Tarjo dan membuat keributan dengan cara mengetok pintu dan berteriak di depan rumah itu. Tarjo yang geram karena tidurnya terganggu bergegas keluar dengan emosi yang sudah ingin meluap.
Kintan yang melihat suaminya penuh emosi segera menyusul langkah kaki suaminya yang begitu cepat menuju pintu utama. Dia mendobrak pintunya dengan emosi yang membara. Tanpa menunggu lama kepalan tangan Tarjo mendarat dengan keras ke wajah Aldo.
Tiba-tiba kaki Aldo tak dapat menahan tubuhnya yang terdorong oleh pukulan Tarjo. Dia tersungkur tepat di depan Tarjo. Tarjo sepertinya belum puas akan pukulannya itu dan ingin kembali menempelkan tangannya di muka Aldo. Melihat Tarjo yang mendekat ke arahnya Aldo segera melayangkan kapak yang ternyata dari tadu ada di belakang tubuhnya. Tepat mendarap di leher Tarjo. Darah keluar dari sana dengan deras.
Kintan memekik tubuhnya terkulai melihat suaminya bercucuran darah di bagian leher. Aldo yang sepertinya sudah memendam dendam kepada Tarjo bahkan tak merasa takut sama sekali. Dia tersenyum puas dan duduk di atas tubuh Tarjo yang sudah tergeletak meringis menahan sakit di lehernya. Dia tertawa terbahak-bahak merasa senang.
Tapi ternyata walau dia senang Aldo belum puas dan mengayunkan kembali kapaknya tepat di tempat pendaratan yang sama dengan sebelumnya. Dia terus mengayunkannya hingga kepala itu mengelinding menjauhi badan Tarjo. Kintan berteriak sekencang-kencangnya. Dia tak mengira bahwa Tarjo akan meninggalkannya dalam keadaan menggenaskan seperti itu. Mendengar teriakan Kintan tetangga yang berada di sebelah rumahnya segera keluar melihat apa yang terjadi. Dan semua tetangga yang keluar terkejut bukan main.
Yang perempuan menutup mulutnya kaget sebagian lagi menutup mata anak mereka yang masih kecil. Sedangkan bapak-bapak berlari menangkap Aldo yang tertawa seperti orang gila. Dan akhirnya Tarjo di makamkan bersama kepalanya dan Aldo harus mendekam di penjara karena perbuatannya." Pak RT menundukkan kepalanya, kadang beberapa kali dia mengusap air wajahnya.
Rani yang polos langsung saja bertanya " Lalu kemana nek Kintan? Apa yang terjadi dengan dia" Keberadaan nenek Kintan yang penting saat ini.
" Dia menghilang setelah kejadian itu. Kintan sangat terpukul melihat kematian orang yang dia cintai seperti itu. Dan dia sangat membenci nenek, Karena neneklah akibat perkelahian Tarjo dan Aldo yang berakhir maut" Kali ini nenek Intan yang menjelaskan. Semua mengangguk mengerti dan terlihat rasa keprihatinan juga di wajah mereka.
"hmm... nek, Nenek kenal Sherly?" Rani mulai mengorek lebih dalam informasi yang ingin dia ketahui.
"Tentu saja nenek kenal, dia adalah anaknya buk Hesti. Tetangga nenek. Tapi Sherly sudah lama menghilang. Kami tak bisa menemuinya, tapi kok kamu bisa tau Sherly nak?" Kali ini nenek yang melayangkan pertanyaan kepada Rani.
"Maaf sebelumnya nek, mungkin semuanya harus tau kalau sherly...." Rani menghentikan ucapannya tak tau bagaimana menyampaikan kabar duka itu.
"Kenapa dengan Sherly?" Nenek penasaran dengan kalimat Rani yang menggantung begitu juga dengan yang lain, mereka juga penasaran.
"Sherly sudah meninggal nek, aku bertemu dengan arwahnya tadi," akhirnya Rani menyelesaikan kalimatnya yang menggantung.
Wajah nenek kembali sedih. Dia tak menyangka gadis yang sering datang ke rumahnya bermain dengan teman-temannya telah tiada.
"Innalillahi wainnalillahi rajiun, kalau begitu Hesti harus tau," kata pak RT Yang di jawab anggukan.
"hmm... Sherly bilang sesuatu ke Rani, Dia bilang kak Risa ada dengan Nek Kintan, tapi dia menyuruh untuk tidak perlu khawatir sekarang karena kakak masih baik-baik saja," jelas Rani yang membuat semuanya kembali terkejut.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Dimana Kintan sekarang?" Ayah terlihat kacau, karena mereka kembali kejalan buntu. Apakah mereka harus tetap diam?
" Tenang yah, besok Rani akan mencari Sherly lagi, Rani akan cari tau cara menemui kakak" terlihat di bola matanya semangat yang membara, entah kenapa dia sangat yakin bisa menyelamatkan kakaknya sesegera mungkin.
"Kalau begitu abang ikut " Rudi segera menyaut pernyataan adiknya.
"Aku jugan" Kelvin yang dari tadi diam akhirnya bersuara.
"Ayah ingin ikut juga,"
"Tidak, ayah di rumah saja, biar aku,Rani dan bang Kelvin yang pergi. Ayah masih sakit. Percaya sama kami yah," Rudi menolak keinginan ayahnya dan ibu setuju dengan pendapat Rudi.
"Baiklah besok malam kita akan ke hutan lagi," kali ini ada kebahagiaan di suaranya Rani. Dia terlihat sangat semangat untuk mencari kakaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 175 Episodes
Comments
Zeety Zola
semangat rani...buatlah kelebihanmu itu untuk mnolong kakakmu...
2022-11-01
1
Eno Cuttee
Katanya bu intan tau tapi pas udah dijelasin masih nanya kintan dimana bagaimana kumaha cenah
2022-03-12
1
Yuli Eka Puji R
berarti tamu neneknya itu suaminya sendiri serem
2022-03-11
1