Awalnya Aku tidak ingin memperpanjang urusanku dengan Dimas, tapi setelah Dimas memohon untuk di bawa ke rumah nenek karena hari sudah hampir malam di tambah lagi Dimas tak tau jalan keluar memaksa dia harus menginap di tengah hutan itu. Aku tak tega dan lagian pula setidaknya aku punya satu orang teman manusia di sini. Selama perjalanan pulang Cowok itu terus saja bicara dan aku hanya memilih mendengarkannya saja. Tidak selera untuk mengobrol dengan orang asing.
*****
FLASHBACK ON
"Iya, tadi ada b*bi hutan, tapi kayaknya sih udah pergi. Jadi gak usah takut," kata Dimas yang sekarang berada di samping Risa.
"Oh gitu," Risa lalu membuat jarak lagi antara Dirinya dan Dimas. Dia melangkah sebanyak tiga langkah menjauh dari Dimas. Dimas yang melihat tingkah Risa terkikik.
"Tenang saja Risa, aku bukan orang jahat, seriusan," Dimas mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk 'V' .
"Benarkah? Bagaimana kalau kau berbohong?" Risa masih ragu dengan orang di depannya itu.
"Ayolah Risa, aku cuman orang biasa yang ingin berkemah tapi malah tersesat. Tak lebih dari itu," Dimas tak tau bagaimana menunjukkan pada Risa kalau dia bukan orang jahat, dia tidak punya bukti untuk membuktikan dia orang baik.
Melihat muka Dimas yang sepertinya berbicara dengan jujur, Risa menagngguk dan memilih percaya. Semoga saja Dimas memang orang baik.
"Baiklah, aku percaya," kata Risa. Dimas mendengar itu tersenyum sumringah. Setidaknya dia tidak lagi di curigai.
"Hmm... apa kau tinggak di sekitar sini Risa?" Tanya Dimas melihat ada orang lain di tengah hutan rimba seperti ini.
"Hmm... iya, aku tinggal dengan seorang nenek," Entah kenapa Risa tak mau mengatakan bahwa itu adalah neneknya. Risa merasa yakin sekarang bahwa orang itu bukan neneknya. Rasa yakinnya sudah mencapai 95%.
"Kalau begitu bolehkah aku ikut denganmu? Hari sudah hampir malam, dan aku tidak punya tempat untuk beristirahat," jelas Dimas.
"Hah.. bukankah kakak bilang, dirimu pergi ke sini untuk berkemah? Pastinya bawa tendakan? Ya udah tidur di tenda aja, pasti udah terbiasa tidur di alam bebas kayak gini," Risa menjawab dengan nada dinginnya.
"Aku berani untuk berkemah di tengah hutan kalau bersama rombongan, sedangkan sekarang aku hanya sendiri, bagaimana kalau datang binatang buas lagi?" Dimas berusaha membujuk Risa.
"Tidak. Aku tidak mau membawa kakak," sepertinya Risa masih keras kepala.
"Ya ampun, Risa! Apa kau tega melihat orang yang seharusnya bisa kau tolong tapi tak ingin kau tolong dalam bahaya nantinya? Hanya karena kau tak mengizinkan ku menginap di rumah nenekmu?" Dimas mulai geram, apa perempuan ini tak punya hati.
"Bukankah itu sudah resiko berkemah di tengah hutan, kenapa kakak takut?" Dimas kira Risa akan sedikit mengerti,tapi kenyataannya tidak.
"Aish!!!" Dimas menarik rambutnya dengan kasar, bagaimana pun ini kali pertamanya sendirian di tengah hutan. Walau pun dia laki-laki, dia juga punya rasa takut, kalau di waktu gelap sendirian di tengah hutan tanpa ada siapa pun. Bagaimana kalau ada binatang yang bersedia menemaninya bahkan memakannya?.
"Sa... Tidakkah kau bisa sedikit saja peduli dengan ku? Ayolah, aku benar-benar takut di sini, coba kau bayangkan jika dirimu berasa di posisiku," Dimas tak tau bagaimana lagi cara membujuk perempuan itu. Mendengar penuturan Dimas, Risa terdiam, "Benar juga katanya, bagaimana pun sesama manusia bukankah harus saling membantu? Tapu bagaimana kalau nenek itu tidak menerimanya? Aduh aku harus bagaimana?" Batin Risa menjadi bingung.
"Hah... Baiklah kak, ayo ikut aku," Risa mengalah dan memilih membawa orang itu ke rumah nenej tua aneh tersebut.
FLASHBACK OFF
****
POV RISA
" Sa... masih jauh gak sih? Udah capek nih?" Tanyanya padaku.
"hmm... kayaknya udah dekat deh kak," aku pun mulai ragu dengan jalan yang ku lewati, gimana kalau tersesat?
"Kita gak tersesatkan sa?" Yah apa yang dia tanyakan sesuai dengan apa yang aku fikirkan.
Aku tak tau harus bagaimana dan memilih mengabaikan pertanyaan Dimas. Setelah beberapa lama berjalan dan mungkin sudah hampir jam 4, aku tiba-tiba melihat tamu nenek yang waktu hari itu (hantu yang memangku kepalanya alias kepalanya putus dari lehernya). Seketika langsung ku bekap mulutku dengan kedua tangan, karena hampir saja aku menjerit karena kaget. Langkahku berhenti tiba-tiba hingga membuat Dimas yang berada di belakangku menabrak punggungku.
"Aduh... sa... kok berhentinya gak bilang-bilang?" Kata Dimas setengah berteriak membuat aku panik. Takut nanti hantu itu melihat kami.
"kak bisa diam sebentar?" Bisik ku padanya.
"Loh kenapa, aku...." belum selesai dia bicara aku langsung menutup mulutnya dengan tangan kananku.
Bukannya diam dia malah bicara lagi. Dimas yang kaget dengan apa yang aku lakukan langsung terpaku di tempat. Matanya melotot seakan tidak terima dengan tanganku yang menutup mulutnya. Aku tak peduli mau dia marah atau apalah, yang aku tau sekarang hantu itu tepat ada di depan kami, jarak kami dengan kepala puntung itu cukup jauh tapi bisa sajakan tiba-tiba dia menyadari ke beradaan kami karena mulut cerewet si Dimas ini.
Setelah merasa cukup aman aku melepaskan tanganku dari wajah Dimas. "Kamu kenapa sih sa?" Dia terlihat kesal.
"Kakak gak lihat itu?" Aku menunjuk ke arah hantu itu, bukannya kaget karena terkejut atau takut dia malah mengejekku.
"Kamu aneh deh, gak ada apa-apa di situ sa, jangan nakut-nakutin deh," katanya enteng.
"Hah... kakak gak lihat, bahkan aku masih melihat hantu itu dengan jelas."
"Hantu??? Sa.. kamu ngigau kali... gak ada hantu sa..." dia sekarang seperti meremehkan aku atau menganggap aku berhalusinasi...
Ya sudahlah bodoh amat, kalau dia gak bisa melihatnya aku bisa apa?, Aku lebih memilih lanjutkan perjalanan dengan mengikuti hantu itu, mungkin dia ingin bertamu ke rumah nenek lagi.
Dan ya, tebakan ku benar. Dia bertamu ke rumah nenek. Dan nenek sudah menunggu di depan pintu. Apa nenek tidak tau aku bisa melihat yang dia lihat? Ah sudahlah. Yang penting sekarang bagaimana cara membawa Dimas ke rumah dan di izinkan nenek.
"Sa... itu rumah nenek mu?" Dimas bertanya.
"hmm," kataku sambil menganggukkan kepala.
"hah..." Dimas mendesah, sepertinya dia mulai terbiasa dengan sikap dinginku. Setelah bertanya dia memilih diam dan tak bersuara lagi.
Setelah hantu itu masuk nenek mengalihkan pandangannya padaku, dan dia tersenyum(senyum yang sangat aneh).
"Kau membawa tamu Risa?" Tanya nenek yang masih mantap tegak di ambang pintu.
"Ee... iya nek, dia tersesat di sekitar sini, jadi aku bawa saja ke rumah," jawabku sekenanya.
"Bagus.... bawa dia masuk, kamarnya yang ada di depan kamar mu. Kamar itu kosong," kata nenek sambil menatap Dimas. Dimas yang di tatap tersenyum canggung.
"Nama saya Dimas nek," mengenalkan namanya tanpa di tanya.
"Ya... masuklah," wajah cuek nenek muncul lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 175 Episodes
Comments
Ratu Mutiarasari
mudah"an dimas selamat ga disantap nenek
2022-10-06
1
Wartin Kusmawati
lanjut
2022-01-26
1
ani nurhaeni
haduuhh jadii keenakan niih ci nene dapat tumbal nya 2
2021-11-10
1