"Tok...tok...tok...," suara ketukan pintu itu mengusik tidur ku, sepertinya nenek sudah bangun. Ku lirik jam tangan, ternyata sudah pukul 7 pagi.
"Aku kesiangan!!!" Dengan sigap aku berdiri dan membuka pintu. Terlihat nenek sudah berdiri di depan pintu dengan mengenakan baju yang kemarin, baju kebaya bermotif bunga hijau tua dan sarung batik warna coklat.
"Baru bangun Sa?" Nenek tersenyum sembari mengusap kepalaku.
"Iya nek, tidur Risa nyenyak banget sampai gak sadar tidurnya kelamaan, hehehe," aku menyengir sambil mengusap kepalaku malu-malu.
"Ya udah kamu buruan mandi, dan sudah itu langsung makan."
"Oke... nek."
Koper yang tergeletak sembarangan di lantai itu segera ku buka dan mengeluarkan semua bajuku, entah dimana handuk itu ku letakkan. Setelah semua baju berserakan di lantai, baru handuknya nongol. Aku pun bergegas menuju kamar mandi yang ada di samping dapur.
***
Setelah selesai berpakaian aku mencari nenek ke teras depan. Terlihat dia sedang termenung sambil memegang segelas teh hangat yang masih mengeluarkan asap. Cuaca di kampung cukup dingin, bahkan sudah jam tujuh pagi panas matahari belum juga menyentuh daerah ini, aku perhatikan di sekeliling rumah nenek masih di tutupi embun.
"Bisa bantu nenek Sa?" Aku terperanjat kaget, nenek menyadarkanku dari lamunan.
"Bisa nek, apa yang mau di bantuin?" Aku berjalan menghampiri nenek yang masih terus menatap ke depan, tanpa menoleh kepadaku sedikit pun.
"Di samping rumah ada sapu lidi, tolong sapukan halaman nenek, sudah banyak daun kering berserakan di halaman," aku mengangguk mengerti, dan mencari keberadaan sapu itu.
Aku mulai menyapu dari halaman belakang, tempat dimana aku melihat pohon coklat itu. Tapi untuk pertama kalinya aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Pohon coklat itu menghilang. Tidak ada pohon manggis mau pun pohon coklat, di sana hanya ada semak-semak dan bunga liar yang tumbuh dengan subur.
'Dag..dig...dug' jantungku berpacu dengan cepat, aku yakin kemarin malam aku tak salah lihat. Tapi kenapa sekarang pohon itu lenyap tanpa jejak. Jika di tebang pasti ada bekasnya. Dan dua pohon manggis itu dimana?.
Aku berjalan masuk ke dalam semak-semak itu mencoba mencari apakah ada jejak dari pohon manggis yang di tebang. Tapi semuanya nihil. Tiba-tiba bulu ku merinding. Tidak mungkin ada pohon yang menghilang begitu saja dalam waktu semalam bukan? Ada apa ini?.
"Lebih baik aku tanyain sama nenek". Sambil memegang sapu lidi dengan kedua tanganku, aku membalikkan badan menuju rumah, tapi baru saja aku mulai melangkah,tiba-tiba kaki kiriku seperti di pegang.
Aku kaget, mata ku membulat. Dengan memberanikan diri aku melihat kebawah, tapi nihil, tidak ada apa-apa di kaki ku.
"Haaah..., mungkin firasat ku aja," aku bernafas lega, dan cepat pergi dari tempat itu. Tapi tiba-tiba....
'BRUKKK....," tubuhku tersungkur ke tanah. Saat itu kakiku seperti di tarik seseorang. Kali ini aku yakin ini bukan firasatku saja. Di sini ada orang lain.
"Hahahaha....".
"Hahahaha....".
Aku kaget bukan main, itu seperti tawanya anak kecil. Aku merangkak dan berlari ke dalam rumah.
"Risaa...," baru juga mau membuka pintu belakang nenek memanggilku. Dan sepertinya suara nenek berasal dari belakang.
'Apa itu nenek? gimana kalau tidak,' batinku.
Tanganku masih dengan kuat memegang kenop pintu. Aku sangat takut untuk melihat kebelakang. Sedangkan derap langkah yang ada di belakangku semakin mendekat.
"Ya Tuhan..... Aku harus bagaimana," kaki ku menggigil dengan kuat, keringat mungkin sudah membasahi bajuku saat ini.
"Saaa... Risaaa....," suara itu semakin dekat dan TAP.... Bahuku disentuh seseorang.
"Nek i..i..itu ne..nekkan?" Bodoh aku malah bertanya!.
Tapi bukannya menjawab pertanyaanku, jari yang menyentuh bahuku itu tiba-tiba mencengkram dengan kuat..... sangaaat kuat. Sekarang aku yakin yang di belakang ku bukan nenek. Dengan cepat aku dorong pintu itu, tapi sial!! Pintu itu terkunci dari dalam. Keringat dingin mulai bercucuran di keningku. Dan malangnya tangan itu juga tak beranjak dari bahuku.
'Ya ampuunn.. ini siapa? Bukan hantukan? Gak mungkin ada hantu sepagi ini... iyaaa pasti bukan hantu!!!, Mungkin salah satu warga sini, tapi gimana kalau hantu, masa iya harus pura-pura pingsan biar hantunya gak ganggu?' Batinku terus saja bertengkar.
Okee... aku pejamkan mataku dan komat kamit gak jelas lalu dengan sok beraninya aku membalikkan badan melihat orang yang ada di belakangku.
'1..2...3...', Aku berputar dan dengan perlahan-lahan aku membuka mata. "Eh... kamu siapa?" Ternyata hanya seorang anak perempuan yang kira-kira seumuran Rudi.
"Aku Sherly kak...," jawabnya dengan wajah datar itu.
"Ee... Sherly ada yang mau di bicarain sama kakak," tanyaku sambil mengingat dari tadi dia memegang bahuku. Yah mungkin usiaku memang sudah 19 tahun tapi tinggiku cuman 149 cm. Jadi wajar dia bisa memegang bahuku walau dia jauh lebih kecil.
"ini tadi terjatuh," dia menyodorkan sebuah kalung yang liontinnya sebuah burung dengan matanya berwarna merah. 'Cantik'.
"Tapi kenapa kasihnya ke aku?" Tanyaku yang masih sibuk memperhatikan kalung yang sekarang ada di tanganku.
"Karena aku nemuinnya di halaman rumah ini," lagi-lagi dengan nada yang datar. "Oh gitu...," kata ku sambil kembali melihat wajahnya.
"AAA..... NENEK....," aku lari dengan cepat menuju teras depan dan menggedor pintu dengan tak sabaran. Nenek yang berada di dalam membuka kunci pintu. Entah kenapa pakai acara di kunci padahal cucunya lagi di luar nyapu.
"Kamu kenapa Sa," tanya nenek. "Nek taa... dii ada hantu," jawabku sambil menceritakan semua yang terjadi tadi dan juga bagaimana rupa hantu itu.
Anak perempuan yang memberikan kalung padaku itu, tiba-tiba wajahnya berubah menjadi sangat menyeramkan dan menjijikkan. Mata sebelah kanannya tidak memiliki bola mata dan darah mengucur deras dari lubang matanya itu, sedangkan mulutnya terlihat terkoyak lebar bahkan mukanya hancur seperti diiris iris. Rambutnya yang hanya seleher dan tanpa poni membuat wajahnya terlihat sangat jelas.
"Kau hanya beralusinasi Risa," jawab nenek dengan tenang.
'Berhalusinasi katanya? Jelas-jelas yang ku lihat itu nyata, bahkan dia menyentuh bahuku. Aku yakin sekali dengan apa yang kulihat.' Batinku.
Melihat aku yang hanya diam dengan muka pucat, nenek menyuruhku masuk dan minum air. Lalu dia pergi kembali ke kamarnya. Tinggal aku sendiri di ruang depan. Nenek sama sekali tidak khawatir melihatku yang sudah ketakutan setengah mati apa?.
***
Di dapur aku mengambil air yang ada di dalam cerek lalu menuangkannya kedalam gelas. Dalam sekejap air di dalam gelas sudah meluncur ke kerongkonganku, tapi sepertinya segelas saja belum cukup, aku tuangkan lagi air yang ada di cerek ke dalam gelas. Tapi yang ke luar bukan hanya air, tapi air dengan belatung yang sangat banyak.
"UEEKK...," gelas yang ada di tangan ku langsung terjatuh menyentuh lantai dan hancur berserakan.
Nenek yang ada di kamar langsung keluar mendengar kegaduhan yang ku buat di dapur.
"Ada apa lagi Risa?" Kali ini mukanya terlihat kesal. Mungkin terganggu dengan kebisingan yang sudah ku perbuat dari tadi. "Itu ada belatung di dalam airnya," kataku sambil menunjuk nunjuk ke arah gelas yang hancur itu.
Nenek memperhatikan dan dia menggerutu kesal. "Gak ada belatung Risaa... kamu ini kenapa? Tadi katanya ada hantu sekarang ada belatung di air. Lihat tidak ada apa-apa di dalam air," jawab nenek sambil membuka botol cerek.
Aku tertegun tidak percaya. Apa aku yang salah lihat atau nenek yang tidak lihat? Padahal jelas-jelas di dalam cerek itu ada sekali banyak belatung. Perutku tiba-tiba kembali mual. Ah sial... Dengan cepat aku menuju kamar mandi dan muntah di sana.
'Belatung itu masih ada, tapi kenapa nenek tidak melihatnya?, Oh perutku... mual banget... itu benar-benar menjijikkan," batinku.
"TOK ... TOK....," pintu kamar mandi di ketuk.
"kau baik-baik saja Sa, Nenek sudah letakkan obat di kamar mu, mungkin kamu kecapek an, jadinya sering berhalusinasi, nanti segera istirahat saja. nyapu halamannya besok saja," kata nenek dari luar kamar mandi.
Cucunya lagi kayak gini dia masih mikirin nyapu halaman? HAh.... Menyebalkan!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 175 Episodes
Comments
Yulita
👍👍👍👍
2022-07-11
1
Wartin Kusmawati
apa kah benar itu neneknya Risa ya
2022-01-26
1
ani nurhaeni
ituu bkn nene nyaa risaa yaa
2021-11-10
1