"Siapa perempuan ini??" Batin Diandra masih memperhatikan perempuan asing itu memeluk tubuh Dewa yang masih bau amis air laut.
"Sudah lama kita tidak bertemu, ternyata kamu semakin taman Dewa" Diandra agak jijik dengan perempuan itu, memuji pria sambil meraba wajahnya seperti itu.
"Kenapa kamu disini??" Terdengar suara dingin dari Dewa.
"Kebetulan aku sedang berlibur disini, menenangkan diri setelah perceraian ku dengan Alex" Ucap perempuan itu dengan wajahnya yang tiba-tiba sendu.
Dewa tetap diam tak bergeming, berdiri membelakangi Diandra yang duduk di belakangnya.
"Dewa??" Panggil Diandra karena bosan dari tadi hanya melihat kedua orang itu.
Dewa baru teringat jika dia bersama Diandra yang tertidur setelah mendengar suara itu.
"Dee?? Kamu sudah bangun??" Diandra mengangguk.
"Dia siapa Dewa??" Tanya perempuan itu.
Dewa meraih tangan Diandra, membawanya berdiri di sampingnya.
"Dia Diandra istriku" Ucap Dewa tanpa melepaskan genggaman tangannya Diandra.
Walau sedikit terkejut tapi perempuan itu kemudian mengulas senyumnya.
"Ohh hay, aku Manda. Mantan teman dekat suami kamu ini" Ucap perempuan itu dengan senyumnya yang indah mengulirkan tangannya pada Diandra.
Diandra merasakan Dewa mengeratkan genggaman tangannya. Tak melepaskan tangannya untuk membalas uluran tangan Manda itu.
Diandra melirik Dewa di sampingnya, dia bisa melihat rahang dewa mengeras. Matanya menatap Manda dengan tajam, tapi Diandra tidak tau apa maksud dari tatapan itu.
Dengan wajah canggungnya Manda menarik kembali uluran tangannya.
"Kapan kalian menikah?? Kenapa kamu tidak mengundang ku Dewa??" Tanya Manda dengan wajahnya yang kembali ceria.
"Itu tidak penting!!" Jawab Dewa dengan ketus.
"Dewa kamu masih marah sama aku?? Maafkan aku Dewa, aku menyesal karena dulu lebih memilih Alex. Nyatanya dia sudah mengecewakanku, sampai akhirnya kita memutuskan berpisah. Jadi aku mohon maafkan aku. Dan aku harap hub...."
"Hentikan Manda!! Aku rasa aku harus segera membawa istriku kembali. Dia tampak kelelahan" Dewa menghentikan kalimat panjang Manda.
Lalu tanpa mempedulikan Manda lagi dia menarik Diandra untuk pergi menjauh dari sana.
Bahkan genggaman tangan Dewa yang mengerat itu tak memudar juga.
Dan tanpa Diandra dan Dewa lihat ternyata Manda memberikan senyuman penuh arti setelah kepergian mereka.
"Dewa pelan-pelan, aku tidak bisa mengimbangi langkahmu yang lebar itu" Ucap Diandra membuat Dewa tersadar seketika.
"Maafkan aku" Baru saat itu Dewa melepaskan tangannya. Bahkan terlihat sedikit memerah pada tangan Diandra.
"Sebenarnya siapa dia?? Kamu terlihat tidak menyukainya??" Diandra masih memperhatikan wajah Dewa yang tampak aneh itu, dia seperti marah namun tak bisa di lepaskan.
"Bukan siapa-siapa. Dia tidak penting!! Lebih kita segera pulang!!"
Diandra sadar ada sesuatu yang Dewa sembunyikan darinya. Tidak seperti saat kedatangan Tara waktu itu. Dewa langsung menjelaskan siapa Tara kepadanya, namun berbeda dengan Manda. Dewa seakan menutupi siapa Manda baginya.
Apalagi Diandra jelas mendengar Manda mengatakan jika dia mantan teman dekat Dewa.
"Apa dia mantan kekasihmu??" Pertanyaan Diandra menghentikan Dewa yang berjalan di depannya.
"Bisa tidak berhenti bertanya tentang dia?? Sudah ku katakan dia tidak penting!! Kepalaku sangat pusing saat ini, jadi bisakah kamu diam??" Diandra tampak terkejut dengan Dewa yang tiba-tiba menatapnya tajam dan suaranya yang naik beberapa oktaf.
Dewa tampak menarik nafas panjangnya sebelum melembutkan suaranya lagi.
"Ayo pulang sekarang, aku tidak enak badan" Dewa memang jujur, sejak tadi memang merasakan badannya gemetar dan kepalanya pusing. Tapi karena kedatangan Manda tadi membuatnya menahan rasa sakitnya itu.
"Iy-iya ayo pulang" Cicit Diandra. Dia takut Dewa akan meledak lagi jika dia tidak menuruti perkataannya.
Sesampainya di rumah, Dewa langsung membersihkan dirinya. Dan tanpa kata lagi Dewa langsung merebahkan dirinya ke ranjang.
Diandra tidak tau harus berbuat apa lagi. Dia juga bingung kenapa Dewa hanya diam seperti itu. Dia hanya duduk di tepi ranjang memperhatikan Dewa yang terbaring di sisi sebelahnya.
Diandra tau jika Dewa tidak tidur dan hanya memejamkan matanya saja, terlihat dari wajahnya yang gelisah dan kadang bergerak tak tenang.
Akhirnya Diandra memutuskan untuk turun, membuatkan Dewa secangkir teh mungkin akan membuat Dewa sedikit tenang. Diandra ingat jika tadi Dewa mengatakan jika dia tidak enak badan.
Diandra membuang wajahnya malas saat melihat Tara menghampirinya saat baru saja keluar dari kamar.
"Heh, kamu g*la ya??" Diandra melotot, dia tidak tau apa yang terjadi pada Tara hingga tiba-tiba mengumpatnya.
"Kau tidak tau jika Kak Dewa itu trauma sama yang namanya berenang di laut. Tapi dengan dodolnya kau meminta Kak Dewa menuruti keinginanmu yang tidak masuk akal itu??"
"Apa??" Diandra sama sekali tidak tau tentang hal itu.
Tanpa menunggu Tara mengeluarkan caciannya lagi Diandra kembali masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa dia mengunci pintu kamarnya agar Tara tak menerobos masuk.
Diandra masih mendengar suara Tara yang tidak terima Diandra mengunci pintu kamarnya.
"Dewa??" Diandra duduk tepat di samping Dewa.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu nggak bisa berenang di laut?? Sekarang kamu jadi sakit kaya gini" Diandra menyentuh kening Dewa yang terasa panas itu.
"Nggak papa, nanti anakku ileran kalau nggak dituruti" Jawab Dewa tanpa membuka matanya.
"Ya nggak harus mengorbankan kamu juga. Kalau tau kamu jadi kaya gini aku nggak bakalan minta kamu buat ambil kerang sendiri. Maafkan aku" Diandra tidak tau kenapa dia begitu sedih melihat Dewa seperti itu. Air matanya tiba-tiba lolos begitu saja.
"Aku nggak papa, kenapa kamu nangis??" Dewa membuka matanya dan mengusap air mata Diandra dengan ibu jarinya.
"Kamu sakit karena salahku" Jawab Diandra lirih.
"Ini hanya sebentar, setelah aku istirahat semua akan baik-baik saja" Jawab Dewa dengan suaranya yang mulai parau.
Diandra ingin beranjak namun Dewa menahannya.
"Mau kemana?? Bisakah kamu di sini saja, temani aku istirahat" Pinta Dewa menepuk kasur sebelahnya.
"Aku mohon" Pinta Dewa lagi karena Diandra tampak ragu menerima permintaan Dewa.
"Baiklah, tapi aku ambil minum dan obat penurun panas dulu ya??" Dewa mengangguk dan melepaskan tangan Diandra.
Diandra bergegas meninggalkan kamar mereka, menari Ely untuk menanyakan obat penurun panas untuk suaminya itu.
"Ely, apa kamu bisa memberiku obat penurun panas??"
"Siapa yang sakit??" Tanya Niko yang sudah ada di belakang Diandra.
"Dewa, dia demam. Kenapa kamu tidak melarangnya jika dia ternyata tidak bisa berenang di laut Nik??" Tanya Diandra pada asistem Dewa itu.
"Saya sudah melarangnya, tapi dia keras kepala. Dia tidak mau membuat anda kecewa Nyonya"
Diandra menghela nafasnya kasar, dia sadar jika dirinya salah. Tapi Dewa juga tidak bisa di bantah jika sudah mempunyai keinginan.
"Ya sudah aku kembali ke kamar dulu" Dewa meraih obat uang diberikan Ely, lalu membawa bersama air minum di tangannya.
"Nyonya, apa kerangnya di masak sekarang??" Tanya Ely sebelum Diandra benar-benar pergi.
"Iya, masak saja yang enak, nanti akan ku makan kalau Dewa sudah agak lebih baik" Diandra langsung pergi setelah mengatakan itu.
Dia berjalan buru-buru sampai tidak ingat jika dirinya sedang membawa sesuatu di dalam perutnya. Kakinya terasa ringan ingin segera sampai ke kamar.
"Dewa, ayo minum obat dulu!!" Diandra membangunkan Dewa yang terlelap itu.
Dewa hanya menurut, mengambil posisi setengah duduk dengan sikunya sebagai tumpuan.
"Apa mau aku kompres??" Tanya Diandra.
"Tidak usah, nanti setelah bangun tidur pasti sudah tidak demam lagi" Tolak Dewa membaringkan tubuh tingginya kembali.
Diandra masih diam duduk di tepi ranjang walau Dewa sudah kembali berbaring.
"Kenapa hanya diam di situ??" Tanya Dewa.
"Hah??" Diandra tidak tau apa yang di maksud Dewa.
Dewa mengisyaratkan Diandra dengan menepuk kasur di sebelahnya seperti tadi.
Dan barulah Diandra teringat dengan permintaan Dewa tadi. Dengan canggung Diandra berputar ke sisi ranjang yang lainnya. Walau setiap hari mereka tidur di ranjang yang sama, tapi tidak sedekat itu. Masih ada jarak antara mereka, bahkan guling juga menjadi pembatas mereka.
Diandra sudah berbaring di sebelah Dewa, tapi masih agak jauh darinya. Dia merasa gugup jika harus sedekat itu.
Tapi Dewa yang tidur terlentang tiba-tiba merubah posisinya menjadi menghadap Diandra. Dan dengan sekali tarikan Diandra sudah menempel pada dada bidang milik Dewa.
Lengan kekarnya di selipkan melewati leher Diandra agar menjadi bantalan bagi kepala Diandra. Memeluk tubuh Diandra yang mulai berisi di bagian perutnya dari samping.
Diandra tampak sedikit risih dengan apa yang di lakukan Dewa itu.
"Biarkan seperti ini dulu, setidaknya sampai aku bangun nanti. Aku butuh kamu Dee"
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments
nobita
dengan senang hati aku menuruti kemauan kamu Dewa... hanya memelukmu kan???
2023-10-04
2
Siti Halimatun
butuh bgt dee
2023-09-27
2
Miss Typo
semoga semua akan berubah menjadi indah
ah gk sabar aku menunggu saat itu tiba
2023-03-16
1