Diandra menyusuri rumah besar itu, melihat ke setiap ruangan yang belum pernah ia masuki sebelumnya. Dia merasa suntuk karena terus berada di dalam kamar. Jadi dia memutuskan untuk melihat-lihat rumah itu secara keseluruhan.
Rumah yang di buat terbuka di bagian samping, membuat angin dari pantai bisa langsung berhembus masuk ke dalam rumah. Membuat tirai putih yang menghiasi rumah itu berterbangan tertiup angin.
Diandra memejamkan matanya menikmati sejuknya angin yang tidak pernah dia rasakan jika berada di kota besar.
Kemudian perhatian Diandra teralihkan pada sosok pria yang duduk membelakanginya di kejauhan.
Dari postur tubuhnya saja Diandra tau jika itu adalah Dewa. Karena rasa penasarannya Diandra berjalan mendekati Dewa.
"Jadi semua lukisan di ruang kerjamu itu hasil lukisan mu sendiri??" Diandra mengagetkan Dewa yang ternyata sedang menuangkan imajinasinya di atas sebuah kanvas.
Dewa sempat terkejut sampai menimbulkan satu coretan tak berarti di dalam lukisannya.
"Maaf mengejutkanmu" Diandra melihat-lihat semua hasil lukisan Dewa yang berjejer itu.
"Nggak papa masih bisa di perbaiki"
"Hasil lukisan mu bagus" Puji Diandra dengan jujur.
"Terimakasih, kamu orang ke empat yang memuji setelah kedua orang tuaku dan Niko. Karena tidak ada yang tau tentang hal ini"
"Niko??" Diandra mengerutkan keningnya.
"Dia asistenku" Jawan Dewa yang mengerti wajah kebingungan Diandra itu.
"Ohh. Terus kenapa kamu nggak jadi pelukis aja?? Kenapa memilih menjadi penerus Papamu?"
"Untuk sementara ini, Papaku itu Papa mertua kamu Dee. Jadi panggil dengan semestinya" Tegur Dewa yang sedikit kecewa karena Diandra masih saja tidak mau menganggapnya sebagai seorang suami.
"Iya maaf" Cicit Diandra.
"Aku memilih menggantikan Papa karena aku harus. Karena aku anak satu-satunya dan aku menyayangi kedua orang tuaku. Biarkan Papa menghabiskan waktu bersama Mama, dan aku yang akan mengurus semuanya"
"Ternyata dia anak yang berbakti. Tapi kenapa dia kejam seperti itu??" Batin Diandra.
Dewa kemudian beralih pada kanvasnya lagi. Melanjutkan apa yang dia lukis tadi.
"Apa mereka sudah tau tantang pernikahan kita??"
"Untuk saat ini belum" Jawab Dewa tak beralih menatap Diandra.
"Kenapa??" Tanya Diandra yang kembali ke samping Dewa. Memperhatikan pria itu mengoleskan kuasnya.
"Karena nanti Mama pasti akan mencincang ku kalau tau aku mengancam Ayahmu untuk mendapatkan mu" Jawaban Dewa membuat Diandra terkikik geli.
"Kenapa tertawa?? Kamu mengejekku??" Lirik Dewa dengan tajam.
"Tidak, aku hanya tidak menyangka. Ternyata pria kejam seperti mu takut juga sama Mama" Diandra memegang perutnya yang mulai kaku karen tertawa.
"Aku hanya takut tak masuk surga jika tidak berbakti" Celetuk Dewa seadanya.
"Tetap saja kamu tidak akan masuk surga karena sudah menyakitiku" Tiba-tiba Dewa menghentikan tangannya. Dia terlihat sedikit sendu dan Diandra hanya merutuki dirinya karena merasa salah bicara.
"Iya maaf soal itu, aku menyesal"
"Maaf aku tak bermaksud menyinggung masalah itu lagi" Sesal Diandra.
"Tidak papa, kamu benar kok. Aku sudah menyakitimu terlalu dalam. Aku minta maaf soal itu" Kini Dewa menatap wajah cantik yangs selalu menjadi objek melukisnya.
"Sudahlah lupakan!! Kamu mau nggak ajari aku melukis??" Diandra menarik bangku yang agak jauh darinya ke samping Dewa.
"Dengan senang hati" Dewa tersenyum bahagia, karena dengan begitu dia bisa lebih dekat dengan Diandra.
Dewa mulai mengajari Diandra bagaimana memulai membuat sebuah lukisan, menentukan objeknya, memilih warna yang sesuai dan masih banyak lagi yang Dewa jelaskan untuk pemula seperti Diandra.
"Gini caranya" Dewa memegang tangan Diandra untuk menunjukkan cara mengoleskan catnya pada kanvas.
Diandra yang sadar tangannya telah di genggam oleh Dewa itu merasa terkejut. Dia tidak tau kenapa jantungnya bisa berdetak tidak normal saat tangannya bersentuhan dengan Dewa.
"Kenapa denganku?? Apa aku masih takut dia menyentuhku lagi??" Batin Diandra.
"Maaf, nggak sengaja Dee" Dewa langsung melepaskan tangannya begitu tersadar.
"It's oke" Jawab Diandra dengan anggukan kepalanya.
Dewa membiarkan Diandra berimajinasi sendiri di atas kanvasnya. Sementara Dewa kembali fokus pada miliknya sendiri.
Diandra yang merasa geli melihat hasil lukisannya sendiri, terlihat aneh dan berantakan. Kemudian dia membandingkan dengan milik Dewa yang bersebelahan dengan miliknya itu.
Jelas berbeda jauh, terlihat Dewa sangat ahli dalam bidang itu. Lukisannya bahkan sangat detail. Dan setelah lukisan itu setengah jadi, baru Diandra sadar ternyata yang dilukis Dewa itu adalah wajahnya. Lagi-lagi dirinya yang dilukis Dewa. Padahal dia sudah melihat puluhan lukisan di ruangan kerja Dewa itu juga kebanyakan adalah dirinya.
"Apa kamu benar-benar sangat terobsesi padaku sampai wajahku saja kamu hafal dengan detail seperti itu??" Tanya Diandra pada Dewa tapi hanya di dalam hatinya.
Diandra memperhatikan wajah Dewa dari samping. Wajah itu semakin terlihat tampan jika sedang fokus seperti itu. Hidung mancungnya terlihat jelas jika dilihat dari samping seperti saat ini.
Kemudian timbul ide Diandra. Dia mengambil cat berwarna biru dengan jari telunjuknya, lalu mengoleskannya pada pucuk hidung Dewa yang mancung itu.
"Dee, apa yang kamu lakukan??" Dewa melirik Diandra tajam.
"Enggak, aku hanya membersihkan hidung mu itu. Tadi ada kotoran menempel di sana" Elak Diandra menahan tawanya.
"Jangan bohong Dee, aku mencium bau cat di sini. Kamu bukan membersihkan tapi mengoleskan, iya kan??"
"Tidak siapa bilang" Diandra bangkit dari duduknya, dia mencoba menghindar dari Dewa yang sepertinya mulai kesal padanya.
"Mau kemana kamu??" Dewa menahan tangan Diandra.
"Kamu yang mulai ya Dee" Dewa membalas mengoles wajah Diandra dengan cat warna-warni. Bukan hanya satu jari seperti yang dilakukan Diandra tapi lima jari Dewa sekaligus memenuhi wajah Diandra.
"Rasakan kamu Dee, pembalasan memang selalu lebih kejam" Ejek Dewa.
"Ha.. ha..ha.. Ampun Dewa lepaskan!!" Diandra menyesal karena telah menjahili Dewa, kini wajahnya sudah penuh dengan warna karena pembalasan Dewa itu.
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak, bergantian mengoles wajah mereka dengan cat warna warni itu.
Siapapun jika melihat mereka saat ini pasti tidak akan tau apa yang mereka alami sebelumnya. Diandra yang berapa hari lalu sangat membenci Dewa, kini justru tertawa bersama. Seolah tidak pernah ada kebencian di dalam.hatinya untuk pria itu.
"Aduh, catnya masuk ke dalam mataku" Diandra memejamkan matanya yang terasa perih.
"Maaf aku tidak sengaja" Dewa mengambil tisu yang tak jauh darinya. Membersihkan wajah Diandra di bagian matanya.
"Masih perih" Diandra mengibaskan tangannya di depan matanya.
Dewa menahan tangan itu lalu membuka sedikit mata Diandra yang terpejam. Kemudian meniupnya dengan pelan, berharap bisa meredakan rasa perihnya.
Dewa terus meniup hingga satu mata Diandra yang tidak terkena cat terbuka. Dalam jarak sedekat ini Diandra bisa melihat wajah tampan itu begitu menawan. Sampai rasanya tidak mampu bernafas dengan benar.
Dewa yang terus meniup matanya itu membuat Diandra bisa mencium harum mint dari nafas Dewa. Diandra merasa harus menghentikan suasana yang membuatnya tidak bisa berpikir dengan benar itu.
"Sudah Dewa, aku bersihkan di dalam saja ya" Diandra kemudian pergi begitu saja meninggalkan Dewa.
"Ada apa denganku?? Kenapa aku seperti lupa jika dia pernah begitu kejam padaku. Padahal baru beberapa hari yang lalu" Gumam Diandra sambil terus berjalan menuju kamarnya.
🌻🌻🌻
Sementara itu seorang wanita bertubuh semampai dengan rambutnya yang panjang bergelombang tampak begitu bahagia karena mendapatkan apa gang dia mau dari orang suruhannya.
"Yes!! Akhirnya aku menemukan tempat persembunyian mu Kak. Tidak rugi aku membayar orang mahal-mahal untuk mengikuti mu. Mari kita lihat apa yang kamu sembunyikan di dalam rumah itu"
Wanita itu tampak tersenyum licik, sambil terus menatap foto dirinya bersama sorang pria yang terlihat begitu dekat dengannya.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments
Aqella Lindi
ulat bulu mulai beraksi
2025-01-17
1
ᵇᴇɴɪʰᴄɪɴᴛᴀ❤️ʳᵉᴍʙᴜˡᵃⁿ☪️
waaah mulai ada pelakor niih..
2023-10-07
1
Miss Typo
kok aku deg"an lagu sich, mau ada apa nih
2023-03-15
1