Diandra terbangun dari tidur siangnya sudah menjelang matahari terbenam. Tampaknya obat yang diminumnya tadi benar-benar membuatnya tak sadarkan diri. Dia sempat melihat ke sekelilingnya, namun tidak menemukan Dewa di ruangan itu. Lantas Diandra memutuskan untuk turun kebawah. Dia merasakan biji kacang yang ada di dalam rahimnya itu mulai meminta makan.
"Ely??" Panggil Diandra karena dia tidak menemukan siapapun.
"Saya Nyonya" Sahut wanita yang terlihat masih muda itu.
"Apa Dewa belum pulang??"
"Belum Nyonya" Jawab Ely dengan sopan.
"Ya sudah, kalau gitu saya mau makan duluan" Ucap Diandra menuju meja makan yang sudah terdapat berbagai macam masakan di sana.
"Katanya sebentar, tapi kok sudah gelap belum pulang juga" Batin Diandra.
Entah kenapa makanan yang terlihat enak itu terasa hambar di lidahnya. Mungkin karena kehamilannya atau karena dia merasa kesepian makan seorang diri di meja makan yang sebesar itu Diandra tidak tau.
"Nyonya, ini susu hamilnya. Tadi Tuan sempat berpesan kepada saya untuk membuatkan susu ini untuk Nyonya" Ucap Ely memberikan susu berwarna merah muda itu.
"Rasa strawberry??" Kening Diandra berkerut.
"Iya, kata Tuan ini rasa kesukaan Nyonya" Jawab Ely.
Sepertinya memang benar jika Dewa sangat terobsesi dengan Diandra hingga mencari tau semuanya tentangnya. Karena sejauh ini Dewa tau semua yang di sukai dan di inginkan Diandra.
"Baiklah terimakasih banyak Ely. Kamu sudah melayaniku dengan baik" Itu merupakan interaksi Diandra dan Ely terpanjang sejauh Diandra ada di rumah itu.
Diandra kembali ke kamarnya membawa segelas susu tadi. Dia ingin meminumnya nanti, karena perutnya sudah terasa penuh untuk saat ini.
Diandra mengambil ponselnya yang di sembunyikan di bawah kasurnya. Dia takut jika tiba-tiba Dewa mengambil ponsel itu lagi.
Hari ini entah kenapa rasa rindunya pada Bryan begitu menyiksanya. Sudah sejak kejadian waktu itu Diandra belum berani menghubungi Bryan.
Dia juga belum mengetahui keadaan Bryan saat ini bagaimana. Baik-baik saja atau sudah hancur karena kemarahan Dewa.
Telepon Diandra sudah terhubung dengan nomor yang di tujunya.
"Halo, ini benar Diandra kan??" Suara yang terdengar bergetar itu sudah menyambut Diandra.
"Iy-iya, ini aku Bryan" Jawab Diandra dengan kegugupannya. Dia takut Bryan marah karena satu bulan ini tidak pernah memberi kabar padanya.
"Didi, akhirnya kamu bisa menghubungiku. Aku sangat merindukanmu" Suara yang sangat Diandra rindukan itu membuatnya mengeluarkan isakan kecil.
"Aku juga merindukanmu Bry. Maafkan aku karena baru bisa menghubungimu. Aku takut Dewa akan menyerang mu lagi jika aku tidak menuruti perintahnya" Jelas Diandra.
"Aku juga merindukanmu, tapi aku tidak papa Didi. Kamu tidak usah mengkhawatirkan aku di sini. Yang penting dia tidak menyiksamu lagi di sana"
"Tidak Bryan. Dia sudah berubah, dia bahkan berjanji akan menceraikan ku setelah anak ini lahir"
"Apa yang aku dengar ini benar Didi?? Apa kita akan bersama lagi setelah itu??"
"Benar Bry, dia sudah membuat keputusan itu demi mempertahankan anak yanga ada di dalam perutku"
"Apa dia tidak akan ingkar janji?? Apa benar dia akan menepati janji ya itu Didi??" Bryan sepertinya agak ragu dengan hal itu.
"Aku sangat berharap dia tidak akan membuatku kecewa Bryan"
Suara pintu tertutup dengan pelan membuat Diandra memalingkan wajahnya.
"Bryan sepertinya aku harus menutup teleponku dulu. Aku senang kalau ternyata kamu baik-baik saja. Kapan-kapan aku akan menghubungimu lagi.
Diandra segera berdiri mendekati pintu kamarnya. Dia jelas sekali mendengar pintu itu tertutup walau sangat pelan.
" Apa ada yang masuk kesini?? Apa dewa sudah pulang??" Diandra memutuskan keluar untuk mencari keberadaan Dewa. Siapa tau benar pria itu sudah pulang dan mendengar obrolan teleponnya dengan Bryan.
Diandra memegang dadanya, dia tidak tau kenapa jantungnya terasa berdetak kencang seakan ketakutan dengan sendirinya.
"Ely, apa Dewa sudah pulang??" Tanya Diandra dari atas setelah melihat Ely sedang menutup pintu di bawah.
"Sudah dari tadi Nyonya, mungkin ada di ruang kerjanya Nyonya" Ucap Ely mendongak menatap Diandra.
Ely heran kemana Tuannya itu pergi karena katanya tadi dia akan menemui istrinya di kamar. Tapi kenapa malah Diandra mencari keberadaan Dewa.
"Dimana ruangannya Ely??"
"Hanya dua kamar di sebelah Kanan kamar Nyonya"
"Baiklah terimakasih"
Diandra melangkah menuju ruangan yang di tunjukkan oleh Ely itu.
Pintu yang tertutup rapat Diandra tak yakin jika pria itu tidak mengunci pintunya dari dalam.
Tangan Diandra yang sudah ingin membuka pintu itu mengurungkan kembali niatnya.
"Kenapa aku jadi mengkhawatirkan dia?? Memangnya kenapa kalau dia mendengar aku menelpon Bryan??" Bisik hati Diandra.
Tapi pikirannya menolak, tangannya justru bergerak menekan gagang pintu itu hingga terbuka.
Diandra langsung di suguhkan dengan pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Dimana sosok pria yang begitu tampan, tertidur dengan posisi duduk tersadar pada kursi kerjanya. Tangannya terlipat di depan dadanya dengan kaki yang sengaja di luruskan ke atas meja.
Masih dengan kemeja kantor dan celana kainnya Dewa sudah terlelap di sana. Hanya sepatunya saja yang sudah berganti dengan sandal rumahan.
Diandra mulai mendekat menuruti kata hatinya yang lain. Dia juga tidak tau kenapa hatinya bisa memiliki dorongan yang saling bertolak belakang.
Diandra memperhatikan wajah yang terpahat sempurna itu dari balik meja yang menjadi pembatas antara mereka berdua itu.
"Tampan tapi kejam" Batin Diandra.
Diandra berbalik, memperhatikan seluruh isi ruangan itu. Ruangan yang rapih dan terjaga kebersihannya. Tanpa debu sekalipun di atas meja.
Diandra memperhatikan satu persatu lukisan dan foto yang terpanjang indah di dinding berwana putih bersih itu.
Sampai Diandra sadar jika lukisan dan foto itu adalah orang yang amat di kenalnya. Yaitu dirinya sendiri.
Seketika Diandra kembali melihat Dewa yang masih memejamkan matanya di sana. Seakan ingin bertanya sekarang juga bagaimana dia mendapatkan semua foto itu.
Tapi melihat wajah lelah dari Dewa membuat Diandra mengurungkan niatnya. Diandra justru mendekat lalu menepuk pelan bahu milik Dewa.
"Dewa"
Dewa bangun!!" Panggilnya pelan.
Dahi Dewa sedikit berkerut. Dia terusik dengan panggilan Diandra itu.
"Dee?? Ada apa?? Kamu butuh sesuatu??" Tanya Dewa di saat matanya saja belum terbuka sempurna.
"Kenapa tidur disini?? Kenapa tidak di kamar??" Diandra justru balik bertanya.
"Aku ketiduran. Ayo kembali ke kamar" Dewa berjalan mendahului Diandra.
"Dewa!!" Panggil Diandra.
"Hemm??" Dewa hanya menoleh tanpa memutar tubuhnya.
"Apa tadi kamu sempat ke kamar??"
"Tidak, begitu pulang aku langsung ke sini. Memangnya kenapa??"
"Tidak, aku mau ke kamar duluan" Diandra berjalan cepat meninggalkan Dewa yang menatapnya penuh arti.
🌻🌻🌻
Dewa sangat lelah hari ini karena harus menempuh perjalanan lebih dari 6 jam karena harus bolak balik dari mengantar Diandra pulang, lalu berangkat ke kantor lalu kembali pulang lagi. Tapi semua itu akan hilang setelah dia melihat Diandra yang sudah menunggunya di dalam rumah itu pastinya.
"Ely!! Ely kemarilah!!" Teriak Dewa begitu memasuki rumahnya.
"Saya Tuan"
"Apa Diandra sudah makan?? Kau membuatkan susu hamil untuknya kan??" Tanya Dewa mengintrogasi asistem rumah tangganya itu.
"Nyonya Sudah makan Tuan, saya juga sudah membuat susu untuk Nyonya. Tapi tadi saya lihat Nyonya membawa susunya ke kamar, saya tidak tau sidah di minum atau belum" Lapor Ely kepada Tuannya itu.
"Baiklah biar saya pastikan sendiri ke sana" Dewa menaiki tangga dengan cepat, dia sudah tidak sabar melihat wajah cantik istrinya itu.
Dewa sudah berada di depan pintu kamarnya yang sedikit terbuka itu. Tapi Dewa menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Diandra berbicara dengan seseorang di telepon.
"Aku juga merindukanmu Bry. Maafkan aku karena baru bisa menghubungimu. Aku takut Dewa akan mengerang mu lagi jika aku tidak menuruti perintahnya" Jelas Diandra.
"______"
"Tidak Bryan. Dia sudah berubah, dia bahkan berjanji akan menceraikan ku setelah anak ini lahir"
"______"
"Benar Bry, dia sudah membuat keputusan itu demi mempertahankan anak yang ada di dalam perutku"
"_______"
"Aku sangat berharap dia tidak akan membuatku kecewa Bryan"
Dewa mendengar dengan jelas apa yang Diandra ucapkan itu. Kata demi kata dari Diandra begitu sakit di dengarnya. Hatinya terasa di tusuk-tusuk dengan belati.
"Apa sebesar itu cintamu pada Bryan Dee?? Apa sudah tidak ada tempat sama sekali untukku di hatimu??" Batin Dewa dengan sendu.
Dia sudah tidak kuat lagi mendengarkan kemesraan mereka berdua yang saling berjanji untuk cinta mereka.
Akhirnya Dewa memilih pergi dari kamar itu. Menutup pintu dengan berlahan agar Diandra tidak menyadari ke datangannya.
Dewa duduk di kursi ruang kerjanya. Malam ini sepertinya tidur di ruangan itu akan lebih baik daripada dia tidak bisa mengontrol emosinya jika berdekatan dengan Diandra.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments
sherly
aku lebih suka dewa yg dibilang kejam Krn cinta Ama dee tp setia.. ya ampun Dee kalopun ngk cinta tahanlah dulu buat hub Bryan kasian tau dewa...
2023-10-18
7
ᵇᴇɴɪʰᴄɪɴᴛᴀ❤️ʳᵉᴍʙᴜˡᵃⁿ☪️
muak rasanya denger seorang istri sayang2an dengan pacarnya
2023-10-07
3
Septi Maulidah
sakit banget ya .. kalau aku ada di posisi dewa🥲
2023-03-24
5